Konser perdana Orkes Kota Jakarta City Philharmonic (JCP) di tahun 2019 digelar, Rabu 3 April di Teater Jakarta, Taman Ismail Marzuki. Mengusung tema Brahmsiade, konser JCP membawakan dua karya komposer Johannes Brahms dan satu karya komposer Matius Shanboone. JCP edisi ke-19 ini diaba oleh Budi Utomo Prabowo (Pengaba Utama JCP) dan menggandeng Kevin Atmaja sebagai Pengaba Tamu.

Tema ‘Bramhsiade’ diambil dari Johannes Brahms, salah seorang komposer Eropa Barat terpenting pada era romantik. Tidak seperti Beethoven, karya Brahms lebih sulit untuk dicerna. Perasaan senang dan sedih menyatu dalam sebuah komposisi alat-alat musik. JCP sengaja memilih karya Brahms sebagai tema pertunjukannya karena mereka ingin mengenalkan musik klasik murni kepada para penonton awam.

Dalam pertunjukan itu, JCP memainkan tiga karya, yaitu dua repertoar Brahms yang terdiri dari Konserto Ganda dalam A minor, Op.102 dan Simfoni No.2 dalam D mayor, Op.73 serta karya simfonik anak bangsa Matius Shaboone yang berjudul “Tiga Citra Lautan Pertiwi”. Babak pertama Budi Utomo memainkan “Citra Lautan Pertiwi” yang terbagi menjadi tiga nomor, kemudian di nomor Konserto Ganda dalam A minor , Op.102, panggung JCP kehadiran dua orang solois biola dan selo yakni Danny Artyasanto dan Dani Kurnia Ramadhan.

Konser JCP ke-19 Brahmsiade Foto – dok.JCP

Setelah rehat 15 menit, babak kedua dilanjutkan dengan nomor Simfoni No.2 dalam D mayor, Op.73 oleh pengaba tamu Kevin Atmaja. Musiknya sendiri dimainkan dalam empat sesi yang berbeda.

Musik Klasik Jadi Lifestyle

Ada yang berbeda dari pertunjukan musik klasik tahun-tahun sebelumnya, menurut Anto Hoed selaku Komisaris Jakarta City Philharmonic dan Ketua Komite Musik Dewan Kesenian Jakarta (DKJ) setiap tahun penonton musik klasik semakin naik. “Kita bicara data, tiga tahun lalu jumlah penonton 450 orang, edisi kedua naik, edisi berikutnya naik berkali-kali lipat, berarti potensi masyarakat yang nonton konser musik klasik cukup tinggi,” ujarnya dalam konferensi pers di Taman Ismail Marzuki.

Anto Hoed Ingin Musik Klasik Jadi Lifestyle Foto – Istimewa

Perlahan Anto juga ingin meluruskan anggapan keliru bahwa musik klasik adalah musik kaum “borjuis”, yang dianggap mahal dan sulit dipahami. “banyak orang belum mengenal musik klasik, mereka harus menyaksikan dulu, mengenal baru bisa memahami. Musik klasik itu attitude-nya yang berbeda, seperti contohnya tidak boleh tepuk tangan, namun kalau harus mengenakan jas dan gaun menurut saya salah, karena pakaian adalah atribut, menonton musik klasik yang diajarkan adalah attitude,” jelas suami penyanyi Melly Goeslaw ini.

Jakarta City Philharmonic Orkestra Foto – Istimewa

Ke depannya Anto berharap pemerintah bisa membuat banyak pertunjukan musik klasik, sehingga bisa seperti di luar negeri, menjadi agenda rutin dan menjadi ‘lifestyle’ bahkan bisa mengundang turis asing. “Nantinya penikmat musik klasik tak harus jauh-jauh ke luar negri, juga bisa sebagai wadah bagi para siswa sekolah musik untuk mengembangkan kemampuan mereka,” ujar Anto. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here