Suyati Tarwo Sumosutargio Penari Mangkunegaran yang Setia

0
42

Kesetiaan atau loyalitas bagi Suyati, seorang penari istana Mangkunegaran, Solo, adalah segalanya. Suyati lahir pada 27 Mei 1933, dari pasangan Kartodiwirjo dan Ibu Suparni. Pendidikan formalnya hanya sampai klas IV sekolah rakyat. Suyati tidak melanjutkan sekolah karena lebih tertarik belajar menari.

Sebelum tinggal dan resmi menjadi penari Mangkunegaran, Suyati lebih dahulu belajar menari pada Ki Demang Sewaka, seorang abdi dalem Mangkunegaran. Mangkunegara VII yang saat itu melihat Suyati kecil menari, kemudian menawari untuk menjadi penari istana. Setelah resmi menjadi penari istana, Suyati tinggal di asrama lingkungan istana Mangkunegaran bersama 14 temannya. Suyati tinggal di asrama kurang lebih 3 tahun.

Setelah Mangkunegara VII wafat, dan Mangkunegara VIII yang memerintah, asrama dibubarkan. Suyati yang baru berusia 12 tahun kemudian kembali ke Mbah Wongso (mbah bibi) yang mengasuhnya sejak kecil.

Sekalipun asrama dibubarkan, latihan menari tetap jalan terus. Pelatih Suyati adalah Pak Wardi dan Pak Katiman. Suyati pentas untuk pertama kalinya di Pendapa Mangunegaran saat berusia 15 tahun, membawakan tari Gambyong. Selain Gambyong, tari Srimpi dan tari Menakjinggo-Damarwulan adalah tari yang sering dibawakan Suyati. Khusus tari Menakjinggo-Damarwulan, Suyati dapat membawakan peran Damarwulan maupun Menakjinggo dengan sama bagusnya. Seiring perjalanan waktu semakin banyak jenis tari yang dikuasai Suyati.

Pada usia 17 tahun Suyati menikah dengan Tarwo Sumosutargio. Pada awal menikah Tarwo bekerja magang di pabrik gula Tasik Madu. Tahun 1953 bersamaan dengan kelahiran anak kedua Tarwo diangkat resmi sebagai pegawai pabrik dengan segala fasilitasnya termasuk perumahan. Suyati dan anaknya yang sebelumnya tinggal di rumah mertua, kemudian pindah menempati perumahan tersebut.

Suyati dan Tarwo dikaruniai 12 orang anak. Kerepotan mengurus rumah tangga dan tempat tinggalnya yang jauh dari istana, membuat Suyati tidak bisa aktif lagi menari. Walaupun begitu Suyati tetap aktif berlatih di rumah dengan iringan kaset.

Keluarga Tarwo kembali ke Kota Solo tahun 1980, setelah Tarwo pensiun dari pabrik gula. Tarwo kemudian mengabdi di istana Mangkunegaran. Suyati pun menemukan kembali dunia tari yang ‘ditinggalkan’ hampir 30 tahun. Suyati kembali aktif menari di istana Mangkunegaran. Atas dasar kemampuan, pengetahuan, dedikasi dan loyalitasnya, Suyati mendapat surat keputusan diangkat sebagai guru tari di istana Mangkunegaran.

Meskipun kaya pengalaman dan mampu, Suyati tidak membuka sanggar. Baginya mengabdi di Mangkunegaran sudah cukup dan ini adalah hal yang penting. Suyati juga hampir tidak pernah pentas di luar kehendak Mangkunegaran. Meskipun demikian bukan berarti Suyati tidak mau membagi ilmunya di luar Mangkunegaran. Beberapa piagam, adalah bukti Suyati tidak segan-segan membagi ilmu tari dengan ciri khas Mangkunegaran di luar istana.

Judul : Dari dan untuk Mangkunegaran: Mosaik-mosaik Kehidupan Suyati Tarwo
Sumosutargio sebagai Penari Istana
Penulis : Nurdiyanto, Theresiana Ani Larasati
Penerbit : BPNB, 2017, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : vii + 105

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here