Dinas Kebudayaan Kabupaten Bantul bekerja sama dengan DPRD Kabupaten Bantul dan juga kepala desa dan pamong desa di tiga desa, yakni Desa Sendangsari (Kecamatan Pajangan), Desa Poncosari (Kecamatan Srandakan), dan Desa Murtigading (Kecamatan Sanden) melaksanakan program Sosialisasi Warisan Budaya Cagar Budaya, mulai tanggal 29-31 Maret 2019. Ada pun tema sosialisasi tersebut adalah Pengenalan Warisan Budaya Cagar Budaya Agar Masyarakat Mengetahui dan Mencintai Warisan Budaya dan Cagar Budaya Kabupaten Bantul.

Untuk kegiatan tersebut dihadirkan tiga pembicara, yakni Dra Andi Riana (Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bantul dan mantan karyawan Balai Pelestarian Cagar Budaya DIY), Sudharmono (anggota DPRD Kabupaten Bantul Komisi D), dan Albertus Sartono SS (Tim Ahli Cagar Budaya Kabupaten Bantul, pemerhati budaya).

Seluruh kegiatan yang dilaksanakan selama tiga hari berturut-turut tersebut dapat dikatakan sukses sekalipun jumlah kapasitas kursi yang disediakan tidak seluruhnya dipenuhi oleh tamu undangan. Namun dilihat dari antusiasmenya masyarakat dalam menyimak dan menanggapi paparan dari para pembicara hal menunjukkan bahwa masyarakat mulai mengerti dan menyadari tentang pentingnya menjaga atau melestarikan WBCB, paling tidak yang ada di sekitar tempat tinggal mereka. Jika semula mereka lebih banyak mengetahui atau mengerti tentang WBCB yang bersifat kebendaan (tangible), dengan adanya sosialisasi oleh pemerintah ini mereka juga mulai mengenali WBCB yang nonbenda (intangible).

Para peserta Sosialisasi WBCB di Desa Sendangsari-Foto-A.Sartono

Dengan sosialisasi ini mereka yang semula menganggap bahwa benda, struktur, bangunan, maupun beragam tradisi dan ekspresi lisan, seni pertunjukan, ritus, perayaan, dan kebiasaan perilaku mengenai alam semesta, serta kemahiran kerajinan tradisional adalah sebagai sesuatu yang biasa-bisa saja, atau bahkan tidak ada nilainya kemudian menjadi lebih sadar bahwa hal itu adalah kekayaan budaya. Kekayaan budaya yang menjadi bagian dari hidup dan kehidupan mereka. Kekayaan yang ikut menjadi atribut atau simbol kebanggaan akan jati diri dan karakter mereka. Mereka menjadi lebih memahami nilai pentingnya. Entah nilai penting dari sisi sejarah, ilmu pengetahuan, teknologi, agama, arsitektural, seni, dan lain sebagainya.

Beberapa undangan yang hadir bahkan juga banyak yang terkejut bahwa sedikit banyak mereka telah mengalami peralihan pada sisi warisan budaya tak benda, misalnya dalam bahasa. Banyak keluarga Jawa yang tidak lagi menggunakan bahasa Jawa sebagai bahasa ibu, namun lebih memilih menggunakan bahasa Indonesia karena dianggap lebih mudah, praktis, dan kekinian. Sedangkan bahasa Jawa dianggap lebih sulit dan ribet. Lebih-lebih jika menggunakan bahasa Jawa krama atau krama inggil.

Penyadaran dengan sosialisasi semacam ini menjadi relevan mengingat bahwa bangsa Indonesia memang memiliki kekayaan WBCB yang luar biasa dibandingkan bangsa lain. Yogyakarta mendapatkan sebutan prestisius: istimewa salah satunya adalah juga karena kekayaan budayanya yang tidak ternilai. Kesadaran semacam ini perlu terus ditulasrkan dan dipupuk sehingga masyarakat menjadi lebih berdaya dalam hal kebudayaannya sendiri, Sebab jika bukan warga masyarakat itu sendiri yang memberdayakan, pemerintah tidak akan mampu berbuat banyak. Pada sisi lain dengan sosialisasi ini pemerintah dalam hal ini Dinas Kebudayaan juga memperoleh banyak masukan, di antaranya aneka laporan temuan WBCB yang ada di tengah masyarakat yang selama ini luput dari jangkauan pemerintah. Semua itu saling melengkapi dan perlu ditindaklanjuti bersama demi kemajuan kebudayaan berikut dengan ketahanan dan kemanfaatannya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here