Beberapa relief bagian dari relief yang berisi penjelasan oleh para pemahat dalam bahasa Sansekerta ditemukan dalam keadaan setengah jadi. Gaya bahasa dari penulisan yang terpahat pada relief bisa dikatakan cukup berbeda sehingga dapat disimpulkan bahwa relief tersebut dibuat pada pertengahan abad ke-9.

Pada tahun 1907 dilakukan pemugaran besar-besaran oleh seorang ahli berkebangsaaan Belanda, Theodorus Van Erp, dan selesai tahun 1911. Pemugaran tersebut memberikan perubahan yang cukup berarti. Sekalipun pemugaran tersebut dilakukan dengan sistem penjagaan yang ketat, namun banyak bagian candi yang tidak dikembalikan pada posisi semula.

Pada tahun 1956 UNESCO, lembaga Perserikatan Bangsa-bangsa (PBB) yang membidangi kebudayaan dan pendidikan, mengirimkan seorang ahli berkebangsaan Belgia yang bernama Prof Dr C Coremans untuk melakukan uji kelayakan terhadao Candi Borobudur dan kemudian disimpulkan bahwa kerusakan utama candi disebabkan oleh air dan harus segera diupayakan pencegahan agar candi bisa bertahan lama. Bagian bukit yang yang berada di bawah candi juga mengalami erosi sehingga menyebabkan fondasi candi tidak kuat, begitu pula dengan relief-relief di bagian bawah.

Candi Borobudur dalam tafsir seorang seniman lukis Nurochim pada Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery 2017-Foto-A.Sartono

Setelah itu pada tahun 1963 dilakukan persiapan pemugaran. Pada waktu itu pula disimpulkan bahwa bukit di mana Candi Borobudur dibangun bukanlah sebuah bukit natural, sedangkan tanah di sekitar bukit merupakan tanah liat yang bercampur dengan bebatuan dan kerikil. Pada waktu ini pula diperkirakan bahwa pemugaran akan dilakukan dalam skala besar.

Pada tahun 1968 pemerintah mengajukan proposal kepada UNESCO untuk pemugaran Candi Borobudur dan UNESCO memberikan dukungan penuh. Selama masa pemugaran (1968-1983) UNESCO memiliki kewenangan penuh untuk segala macam bentuk penelitian. Para ahli dari berbagai negara pun berdatangan untuk melakukan pembongkaran dan pemasangan kembali bagian-bagian candi.

Bukit Menoreh dilihat dari puncak Candi Borobudur, difoto Desember 2018-Foto-A.Sartono

Pada tahun 1982 pria berkebangsaan Inggris yang masih berusia 21 tahun bernama Philip Beale mengunjungi Candi Borobudur untuk mempelajari relief Candi Borobudur. Dia berada di Indonesia untuk mempelajari kapal-kapal tradisional dan tradisi bahari Indonesia. Philip merupakan bekas anggota angkatan laut Inggris.

Dalam penelitiannya, Philip berhasil menemukan 10 panel yang menggambarkan tentang kapal laut berupa perahu dayung dan kapal lain yang memiliki tiga buah tiang kapal dengan bentuk layar panjang dan miring. Dia menyimpulkan bahwa kapal Borobudur bisa jadi merupakan salah satu kapal yang melewati jalur terkenal yang menghubungkan Indonesia melalui Samudera Hindia sampai Seycheles, Madagaskar, Afrika Selatan hingga Ghana.

Salah satu sisi saat Candi Borobudur terkena abu dari gunung berapi, foto repro dari Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery 2017-foto-A.Sartono

Barang utama yang yang diperdagangkan saat itu adalah rempah-rempah. Ketertarikan Philip pada seni pembuatan kapal Indonesia dan kemampuan para pelayar Indonesia membuatnya melakukan sebuah proyek besar, yaitu menciptakan sebuah kapal tradisional lalu berlayar mengarungi Rute Kayu Manis. Kapal yang digunakan Philip tersebut pada saat sekarang berada di ruang khusus di Museum Kapal Samudraraksa, Borobudur.

(Bersambung)

Sumber:
Borobudur, Inspirasi Warisan Bersejarah, Leaflet Oleh PT Taman Wisata Candi.
Pameran Terawang Borobudur di Jogja Gallery, Maret 2017.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here