Doa bernuansa magis membuka adegan lakon “Gogrog” karya Indra Tranggono di Pendapa Surya Guritnan, Siliran, Panembahan, Keraton, Yogyakarta, Rabu malam, 20 Maret 2019. Doa yang dilantunkan Nuryani dengan penuh harapan karena anak perempuannya, Lastri, pergi menjadi TKW di Arab dan belum berkabar. Hatinya sebagai ibu selalu khawatir akan keselamatan anaknya di negeri orang.

Adegan dilanjutkan dengan keluh kesah dan ratapan Lastri karena ia menghadapi pengadilan yang tidak adil. Ia terancam hukuman mati (pancung) di Arab karena ia telah membunuh majikannya, Jafar Sidiq. Di dalam penjara ia merindukan semua yang ada di Tanah Air; anak, ibu, dan suaminya, juga teman-temannya.

Pemanggungan sastra lakon Gogrog karya Indra Tranggono di Pendapa Surya Guritnan Siliran Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Saat masih berkumpul Lastri dan ibunya sering terlibat pertengkaran dengan Kukuh, suami Lastri, yang masih saja nganggur sekalipun ia berusaha keras mencari pekerjaan. Hal ini membuat Nuryati meremehkan Kukuh.

Kukuh yang seorang dramawan kemudian mendapatkan tawaran dari Markun untuk bermain sinetron. Ketika shooting film telah berjalan 15 episode, Kukuh minta upahnya diberikan karena ia akan ke Arab menyusul istrinya. Namun Markun tidak bisa memberikannya karena kontrak shooting adalah 20 episode dan Markun hanyalah perantara belaka dari seorang produser. Kukuh menghadapi jalan buntu, sementara di dalam rumah (rumah mertuanya) ia selalu dicela dan sekaligus dituntut.

Keberangkatan Lastri ke Arab Saudi tidak lepas dari bujukan Dulkempit yang sesungguhnya jatuh hati kepada Lastri sekalipun Lastri telah menjadi istri Kukuh. Dulkempit mengenalkan Lastri kepada Koh Jiangki sebagai pengelola lembaga penyalur tenaga kerja ke luar negeri. Kesengsaraan Lastri dalam hal ekonomi membuat Lastri ingin segera dapat bekerja di Arab Saudi dengan harapan untuk dapat segera mendapatkan uang dalam jumlah besar. Namun apa lacur, di Arab Saudi Lastri hendak diperkosa majikannya, Jafar Sidiq. Lastri sekuat tenaga melawan dan terbunuhlah Jafar Sidiq.

Terpaksalah Lastri menghadapi tuntutan hukum. Ia dituntut hukuman mati dengan cara dipancung. Menjelang pelaksanaan hukuman itulah Lastri mengungkapkan segala uneg-unegnya. Pada intinya Lastri tidak mau mengemis keringanan hukuman karena majelis hakim telah bertindak tidak adil kepadanya. Sebagai perempuan Indonesia ia ingin menunjukkan ketegarannya. Pembelaan diri Lastri sebagai pihak yang lemah dan terancam tidak pernah menjadi pertimbangan pengadilan.

Lastri menyadari bahwa cita-citanya untuk mengangkat kesejahteraan keluarganya telah gagal. Ibarat proses pertumbuhan buah, selagi masih akan berbunga atau berbakal buah telah gugur alias gogrog. Lastri pamit kepada ibunya, suaminya, dan anaknya, Gendhuk. Pemanggunan sastra dengan lakon Gogrog ini dipungkasi dengan adegan Nuryani yang melantunkan doa (seperti adegan pembuka).

Markun, Lastri, dan Kukuh dalam sebuah adegan dalam pemanggungan sastra-Foto-A.Sartono

Teknik pengaluran dari lakon ini banyak menggunakan flashback seperti yang sering ditempuh dalam seni perfilman. Sama seperti yang telah disampaikan Hamdy Salad, nyawa atau jati diri pemanggungan naskah ini terletak pada pelisanan atau tafsir yang diekspresikan dalam pelisanan. Kekuatan utama terletak pada sisi itu. Lighting, setting, stage, dan properti lain bukan sesuatu yang memberi kontribusi secara lebih dominan. Kelengkapan berupa pengeras suara dengan sagela perangkatnya justru menjadi sangat vital, untuk tidak mengatakan sebagai satu-satunya sarana yang tidak bisa ditinggalkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here