Dinas Kebudayaan Kota Yogyakarta menyelenggarakan acara yang disebut sebagai Festival Godhong Opo-opo yang pada intinya ingin memberikan hal-ihwal tentang kesenian dan kebudayaan kepada masyarakat. Salah satu mata rantai acara dari festival tersebut adalah Diskusi dan Pemanggungan Sastra yang dilaksanakan di Pendapa Surya Guritnan, Siliran, Panembahan, Keraton, Yogyakarta. Acara oleh Disbud Kota Yogyakarta dengan didukung oleh Komunitas Rondjeng dan Teater Muara ini diselenggarakan Rabu malam, 20 Maret 2019. Pendapa penuh sesak oleh pengunjung menandakan betapa antusiasnya masyarakat untuk menikmati acara ini.

Acara yang digagas oleh budayawan serba bisa, Indra Tranggono ini menghadirkan Hamdy Salad sebagai narasumber dan Khocil Birawa sebagai moderator dalam sesi diskusi. Dalam sesi ini pula Indra Tranggono juga bertindak sebagai narasumber. Diskusi dipantik oleh isu bahwa pemangungan sastra di Indonesia telah berlangsung lama bahkan mentradisi. Leo Kristi, Kiai Kanjeng, dan Ebiet G Ade merupakan contoh atas pemanggungan sastra itu. Kampus-kampus juga banyak melakukan hal yang sama. Fenomena ini menunjukkan gejala tentang bagaimana sebuah karya sastra kemudian menjadi materi untuk menjadi seni pertunjukan. Sekalipun fenomena ini telah berjalan lama namun hal ini masih kurang mendapatkan perhatian atau kajian dari dunia akademik.

Hamdy Salad (penyair dan dramawan) telah lama mengamati fenomena ini. Fenomena yang cukup menonjol dari hal ini misalnya musikalisasi puisi, dramatisasi novel, visualisasi cerpen, dan sebagainya. Hal semacam ini dalam wacana umum sering dikatakan sebagai pemanjangan/pemanggungan sastra dimana hal ini bisa meliputi pemusikan, pembacaan, pefilman, pemanggungan, dan seterusnya. Di Balai Bahasa Yogyakarta semua yang terjadi itu mula-mula adalah bagian dari sosialisasi sastra. Sekalipun demikian, hal ini di masyarakat justru menjadi penciptaan karya seni tetapi materinya sastra. Hal inilah yang kemudian terus berkembang hingga sekarang dan kemudian menjadi semacam genre.

Konten Terkait:  Beksan Srimpi Peperangan Tiada Henti
Peserta-penonton Diskusi dan Pemanggungan Sastra di Pendapa Surya Guritnan, Siliran, Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Dalam hal dramatic reading, hal ini sebenarnya bagian dari pertunjukan sastra. Namun pada sisi lain apa yang disebut sebagai dramatic reading, berangkat dari substansinya bisa dipilah menjadi tiga ranah, yakni kolaborasi, adaptasi, atau transformasi dari sastra. Jika kita merujuk pada aspek kolaborasi, apa yang disebut sebagai dramatic reading itu bisa melibatkan tari, musik, gerak, seni rupa, atau seni lain yang di dalamnya dipentaskan bersama. Aspek adaptasi lebih menekankan pada mengubah karya sastra (seni) ke seni lagi (pertunjukan). Bisa juga novel diadaptasi menjadi pentas drama, dan lain sebagainya. Aspek ketiga adalah transformasi. Transformasi boleh juga disebut sebagai alih wahana dalam dunia seni, misalnya karya seni diubah dalam seni yang lain, contohnya karya sastra diubah menjadi seni pertunjukan. Dengan demikian konvensi-konvensi yang ada di karya sastra tidak lagi berlaku dalam seni pertunjukan tersebut.

Hamdy Salad dan Khocil Birawa dalam Diskusi dan Pemanggungan Sastra di Pendapa Surya Guritnan, Siliran, Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Lebih lanjut Hamdy Salad menyampaikan bahwa dramatic reading sebenarnya dapat dimaknai sebagai tafsir naskah. Tafsir naskah ini dimunculkan melalui suara, penyuaraan atau pelisanan. Hampir keseluruhan makna dan maksud yang ada di dalam naskah ditafsirkan melalui pelisanan. Oleh karena itu pelisanan menjadi sesuatu yang paling utama sementara sesungguhnya kostum, gerak, dan properti dan setting panggung bukan merupakan sesuatu yang penting (substansial). Jika semuanya itu menjadi lengkap maka sesungguhnya hal itu bisa disebut sebagai teater. Dengan demikian, dramatic reading bisa juga dikatakan sebagai closed drama. Diskusi ini diakhiri dengan pemanggungan sastra dengan lakon Gogrog karya Indra Tranggono yang dimainkan oleh Teater Muara yang didukung para pemain lain. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here