Kekerasan seksual terhadap perempuan masih kerap luput dari perhatian masyarakat. Padahal seringkali para korban kekerasan tersebut menyimpan trauma sepanjang hidupnya. Berangkat dari simpati dan keprihatinan itulah Ayu Permata Sari mengangkat persoalan ini dalam karya tari, yang kemudian dipamerkan dalam format fotografi dan instalasi. Tentu merupakan tantangan tersendiri ketika seni pertunjukan berusaha dihadirkan sebagai pameran.

Pameran bertajuk ‘Kami Bu-Ta’ ini diselenggarakan oleh LSM Youth Center PKBI DIY di Galeri Lentera Sahaja, Taman Siswa, Yogyakarta, yang berlangsung sampai 29 Maret. Tajuk ‘Kami Bu-Ta’ adalah singkatan dari ‘kami bukan binatang’, yang juga menyampaikan pesan bahwa kita semua “buta” pada kekerasan terhadap perempuan yang terjadi di sekitar kita.

Pameran ini membawa luka dan keperihan itu lewat instalasi yang mencekam, yang dibuat oleh Ayu dan Anwar Sugiharto, didukung rangkaian foto tari oleh Ari Kusma. Suasana yang sepi, nglangut, dan tidak nyaman dalam dominasi warna merah. Karpet merah terus menyambung sejak pintu masuk galeri.

Keterpurukan dan ketidakberdayaan dalam kesemrawutan – Foto Barata

Di ruang kedua yang remang-remang terdapat sebuah dipan dengan seprai dan bantal lusuh, beserta meja kecil tempat teko enamel blurik hijau, dan lemari pakaian yang tidak rapi di sisinya. Inilah suasana rutinitas keseharian yang monoton yang dijalani korban yang mengalami gangguan psikologis. Hanya makan, tidur, mandi, ganti baju, bercermin, serta membuka dan menutup pintu.

Di sebelahnya ruang bertirai putih dan berkarpet hitam, yang penuh dengan kesimpangsiuran benang menggantung, serta boneka marionette yang terkulai mengesankan ketidakberdayaan. Di sisinya beberapa balon beragam warna tergolek di lantai, yang mudah bergeser atau melayang karena tersepak pengunjung. Salah satunya adalah balon hitam, yang pada saat pertunjukan tari ditekan hingga meletus, yang ternyata di dalamnya terdapat sebuah balon putih, lambang harapan untuk bangkit.

Di ruang terakhir yang luas, sebagaimana dalam pentas tari, kain merah berukuran besar digantung menjuntai. Di dekatnya digantung wadah lilin dalam posisi menyamping. Posisi yang menyebabkan tetesan lilin panas dengan cepat berjatuhan.

Konten Terkait:  Between Two Gates Bagian Heritage yang Unik di Kotagede
Visualisasi siluet kekerasan seksual – Foto Barata

Bagi Ayu, kain merah menyimbolkan warna dari kekerasan seksual. Sedangkan lilin yang semestinya menjadi media untuk menerangi ruang dari kegelapan karena tidak diletakkan sebagaimana mestinya menjadi berbahaya bagi sekelilingnya. Ayu mengambil simbol lilin untuk menggambarkan sosok dokter, polisi atau keluarga dekat, yang seringkali tidak bekerja semestinya, misalnya memojokkan korban, menikahkan korban dengan pelaku, dan membebaskan pelaku jika ada uang untuk menebusnya.

Bagi Ayu, lilin bukan lagi sebagai penerangan tapi hal yang menyakitkan atau membahayakan. Pada salah satu adegan tari, berulang kali lilin diteteskan kepada korban yang menggelinjang kesakitan. Baik pengadeganan tari maupun instalasinya mengekspresikan rasa sakit dan kemarahan.

Warna merah juga ditonjolkan sebagai warna sarung tangan yang ikut dipamerkan, sebagai simbolisasi kekerasan. Dalam pentas tari, sejumlah pengadeganan kekerasan seksual dilakukan penari bersarung tangan merah. Menurut Ayu, adegan ini menggambarkan kondisi kejiwaan korban kekerasan seksual yang terganggu, bayangan-bayangan peristiwa kekerasan seksual yang selalu menghampiri pikiran, baik sadar ataupun tidak sadar, trauma yang selalu menghantui korban.

Lilin yang meneteskan panas yang menyakitkan – Foto Barata

Sebagai koreografer, Ayu, bersama kelompok Ayu Permata Dance Company, mementaskan tariannya pada 8 Maret 2019 di Jogja National Museum, bertepatan dengan hari perempuan internasional. Karya ini terinspirasi dari kisah nyata, seorang perempuan muda di Yogyakarta yang pada usia 10-16 tahun mengalami kekerasan seksual dan pemerkosaan oleh ayah tirinya.

Ayu kemudian melakukan riset mendalam korban. Sejumlah kesaksiannya atas pengalaman yang menyakitkan, penolakan dan keterjebakan psikologis korban diterjemahkannya dalam gerak tari beserta elemen pertunjukan lainnya. Tidak semua korban bersedia bercerita, perlu tahapan yang penuh perjuangan yang akhirnya mengantar mereka ke kondisi penyintas (survivor), hingga kemudian bisa bercerita, dan bangkit dari keterpurukan sebagai korban. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here