Puisi Alfa Amorrista

0
91

Anak Desa

Pematang adalah pakaian bagi mereka yang sedang tertidur lelap.
Senja dan surya menjadikan cangkulnya tertawa.
Kaki telanjang, impian mereka telanjang. Tidak tersembunyi di bawah ranjang.
Berlarian di antara mereka yang enggan menggenggam resah,
Tercium bau basah di tepian angan yang dibawa serta.

Bola mata mereka menumbuhkan serdadu bambu.
Cething beranak pinak sungai. Mereka ingin selalu berandai.
Debur kokokan si jantan meniadakan kantuk. Tubuh mereka seolah tak terbujuk.
Sujudnya, ibanya, rindunya, karsanya, rupanya, kayuhannya.

Jenuhnya tidak terletak pada batu kali.
Ucap bibirnya pada bibir kali bukan hanya sekali-kali.
Perahu kertas membawakannya angin dari langit teratas.
Akar-akar di tepian angan seolah bukan sekedar kicauan.
Matematika di tangan mereka, sehari-hari adalah kepalan.

Ayo, golek undur-undur!

14 Januari 2018, totogan.

 

Noda Pada Sejarahmu

Untuk seorang teman

Kaca dilahap mentah.
Berkaca-kaca api itu pada mata.
Berkaca-kaca kebohongan pada bibir yang ditata dengan permata.
Berkaca-kaca keluhmu di atas tertawa.
Kamu bohong. Sekarang, aku tahu.

Noda diikat sejarah.
Hadir topeng peternak gerah.
Inginmu membentak dan membantah,
Kau pasang pada tembokmu lukisan lintah.
Terhitung padamu amarah pada tampah

Berlari di tengah rasamu yang enggan mati.
Berdiam di tengah rasamu yang sulit terdeteksi.
Pada matamu tergambar penjara.
Pada gelagatmu terlukis pasir yang terkikis.

18 Februari 2018

 

Ruang Bicara

Di mana mulutku tak hanya berkata-kata,
Di mana mulutku menyimpan tanda berupa rasa,
Di mana mulutku tahu apa itu jiwa,
Apa arti amarah dan makna dari keluh yang menyerah.

Di mana hatiku berlatih tertawa,
Di mana hatiku berlabuh pada suatu cara,
Yang mendiamkanku dalam kerinduan,
Yang menimangku tanpa kesenjangan.

Duniaku di sini, aku tak ingin memakinya lagi.
Bisu di muka buku, luka itu pernah ku tahu.
Hatiku tak lagi tidur di sangkar,
Petuahmu kian kuat menjadi jangkar.

Cukup menduduki waktu.
Berdua kecukupanku.
Aku tak ingin pasar.

16 Maret 2018

 

Perlahan

Merangkaklah lebih dulu.
Sebelum tegak jadi milikmu.

Di antara ucapan yang tinggi,
Menunduklah dirimu dengan resiko tertimpa kayu.

Belantara itu tebaslah,
Dengan gunting, jangan pakai gergaji!

Belukar itu mencintaimu,
Dengan kelabu yang tak selalu kau tahu.

Perlahan, waktu meminangmu,
Mendorongmu menari. Kau namakan kebebasan itu rindu.

Menyentuh palung berarti menyelam.
Kamu harus berani berenang.
Berenanglah dengan tenang. Perlahan, banyak karang membentang.

 

Alfa Amorrista, lahirnya di Bandung, 20 Maret 1996, tetapi asal dari Yogyakarta, kini sedang mengembangkan kecintaannya menulis melalui alfamorrista.blogspot.com. Di dalam blog pribadinya, ia telah mengeluarkan beberapa antologi puisi digital bertajuk Seruan Parade, Moksa, Matahari dan Senja, dan sebagainya. Selain melalui sosial media, ia juga menorehkan karya aksaranya di berbagai media cetak, baik buku maupun majalah. Kopi, CafĂ© dan Cinta adalah salah satu buku antologi yang digarapnya bersama teman-teman bengkel bahasa Balai Bahasa Yogyakarta. Salah satu cerita pendek yang diangkat di dalamnya adalah Syair dan Sahabat. Alamat: Jl. Kaliurang KM.7, Yogyakarta. Email: [email protected]

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here