Sudah beberapa hari Yogyakarta diguyur hujan deras, bahkan di beberapa tempat mengalami banjir. Begitu juga pada Sabtu malam, 23 Maret 2019, saat Sastra Bulan Purnama edisi 90 digelar, hujan deras mengguyur, sehingga puisi yang dibacakan berbaur dengan suara hujan. Namun begitu, pencinta sastra tetap hadir dalam acara yang diselenggarakan secara rutin di Tembi Rumah Budaya, Sewon, Bantul, Yogyakarta.

Marlin Dinamikanto, penyair dari Jakarta yang akan tampil di Sastra Bulan Purnama untuk meluncurkan buku puisinya yang berjudul ‘Yang Terasing dan Mampus’, sejak sore pukul 15.00, ketika hujan belum tiba sudah sampai di Tembi Rumah Budaya menikmati kopi di angkringan.

“Saya sudah sampai di Tembi dan menikmati kopi sambil istirahat di angkringan,” tulisan Marlin di laman Facebook-nya untuk memberitahukan kepada teman-temannya yang ada di Yogyakarta.

Suyitno Ethex, yang sudah sejak sore tiba di Yogya dari Mojokerto, tidak langsung ke Tembi. Ia menuju Tembi saat hujan turun, dan sampai di Tembi baju dan rambutnya basah. Ethex langsung menuju angkringan memesan kopi. Rupanya, dia tidak bisa lepas dari kopi, di warung manapun, dia selalu pesan kopi.

“Ngopi dulu om,” kata Ethex sambil melambaikan tangannya pada saya.

Marlin Dinamikanto

Dua penggurit dari Yogya, Sunawi basah kuyub, sehingga dia merasa perlu ganti kostun sebeleun pentas. Lain dengan Si Wijayati, penggurit yang juga meluncurkan buku geguritan, ia datang lebih awal sebelum hujan deras mengguyur Tembi Rumah Budaya.

“Daripada kehujanan, saya datang lebih awal,” kata Sri Wijayati.

Para pembaca yang tampil, selain para penyair dan penggurit yang bukunya diluncurkan, sekaligus menampilkan penyair lain dan para pembaca puisi yang memiliki profesi lain, dan menampilkan juga para pemain teater. Dua penyair yang tampil Krishna Miharja, membacakan geguritan karya Sri Wijayati dan Marjudin Suaeb membacakan puisi karya Suyitno Ethex.

Seorang PNS yang bekerja di Puskesmas di Magelang, MM Tri Suwarni namanya, dan memiliki kecintaan terhadap puisi, terutama geguritan, ikut hadir dan membacakan karya Sunawi. Dua desainer dari Yogya, Tari Made dan Listiani Darma, ikut tampil membacakan puisi karya Marlin Dinamikanto.

Para penampil tersebut ‘menerjang hujan’ untuk menikmati puisi di Sastra Bulan Purnama. Mereka sudah pernah hadir menikmati puisi di Sastra Bulan Purnama, dan mengaku menikmati membaca puisi bersama dengan para penyair dan pembaca puisi yang lain.

Dua pemain teater, Ami Simatupang dan Liek Suyanto ikut tampil membacakan puisi. Ami, demikian panggilannya membaca puisi Karya Suyitno Ethex dan Liek Suyanto membacakan puisi karya Marlin Dinamikanto.

“Saya ini lebih banyak main teater, sinetron dan film, dan belajar membaca puisi pertama kali ya di Sastra Bulan Purnama ini beberapa tahun yang lalu,” kata Liek Suyanto.

MM.Tri Suwarni, foto Indra

Hujan yang terus turun, rupanya bukan sebagai halangan bagi pembaca puisi dan hadirin yang senang menikmati Sastra Bulan Purnama. Meski jumlah hadirin tidak sebanyak seperti biasanya, terutama kalau tidak ada hujan.

Joshua Igo, penyair yang tinggal di Magelang, dan sudah pernah tampil di Sastra Bulan Purnama ikut hadir. Baju hitam yang dikenakan terlihat basah, juga celana panjangnya. Igho bertemu dengan teman-teman penyair lainnya seperti Marlin dan Ethex, keduanya sering bertemu Igho dalam acara pembacaan puisi di kota-kota lain.

Acara ditutup penampilan Marlin, bukan membaca puisi, karena di muka dia sudah membaca puisi, tapi Marlin mengalunkan lagu puisi karyanya. Di tengah hujan, meski sudah mulai reda, Marlin memetik gitar sambil mengalunkan lagu-lagu puisi karyanya. (*)

Listianing, foto Indra

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here