Entah apa yang membuat Bima yang semula curiga, berubah menjadi percaya kepada Anggaraparna. Bahwa Arjuna baik-baik saja, tidak perlu dicari. Bima pun berharap seperti itu. Karena jika pun mencari ia sendiri bingung tidak tahu tempatnya.

Selain itu, Bima juga membenarkan apa yang dikatakan sosok gandarwa tersebut, bahwa kesulitan saat ini tidak terjadi di tempat Arjuna berada, tetapi di Wanamarta, tempat ibu dan saudara-saudaranya berada. Tiba-tiba Bima mengkawatirkan mereka. Tanpa pikir panjang Bima membalikan badan, membuntuti Anggaraparna kembali ke Wanamarta.

Syahdan, Arjuna yang digendong paksa oleh sosok tak dikenal telah sampai di Pring Cendhani, sebuah pertapaan yang indah asri. Arjuna tersadar, ia mencoba mengingat-ingat akhir dari pada ingatannya. Bukankah ia tidur di perkemahan Wanamarta? Mengapa sampai di sini? Tempat siapakah ini?

“Ini adalah tempatku.”

Arjuna terkejut, dengan munculnya wewujudan aneh di depannya. Seorang manusia berpakaian pandhita, tetapi berwajah Siluman Naga.

“Jangan khawatir engkau baik-baik saja di sini. Kami akan memperlakukanmu seperti layaknya tamu istimewa. Namaku Begawan Wilawuk aku adalah abdi Begawan Manumayasa dari pertapaan Saptaarga nenek moyang Pandawa. Bukankah engkau Arjuna ksatria panengah Pandawa yang sangat terkenal itu. Tujuanku membawamu kemari, ibarat anak polah bapa kepradhah, sebagai wujud tanggung jawab orangtua kepada anak. Ketahuilah hai Arjuna. Jim Mambang anakku wedok bermimpi bertemu dan jatuh cinta dengan pemuda sangat tampan yang ciri-cirinya seperti kamu. Namun ketika putriku bangun ia sangat sedih dan menangis, karena pemuda tampan tersebut tidak ada disampingnya. Maka kemudian aku disuruh mencari sampai ketemu dan membawanya pulang.”

Demi kebahagiaan putrinya itulah, Begawan Wilawuk mengupayakan berbagai cara, baik halus maupun kasar, untuk membawa pemuda tampan yang tak lain adalah Arjuna ke rumahnya. Begawan Wilawuk tahu bahwa dengan cara halus tak mungkin Arjuna menurut. Bahkan jika dikasarpun, ia pasti melawan. Oleh karenanya Begawan Wilawuk tidak ingin dua kali kerja, ia memilih cara “siluman” yaitu dengan menebarkan aji sirep di kemah Pandawa dan menculiknya.

Arjuna menuduh BegawanWilawuk licik, karena tidak menempuh cara ksatria. Ia tidak mau tunduk untuk dijodohkan dengan anak siluman. Kecuali jika dirinya telah dikalahkan dalam perang tanding. Begawan Wilawuk tertawa terkekeh-kekeh mendapat tantangan Arjuna. Di mata Begawan Wilawuk Arjuna adalah anak ingusan, namun walaupun anak ingusan ksatria penengah Pandawa itu tidak dapat dipandang enteng. Oleh karenanya untuk meladeni tantangan Arjuna, Wilawuk perlu mempersiapan tataran tertinggi dari ilmu yang dimilikinya.

Namun sebelum perang tanding itu berlangsung, tiba-tiba ada gadis cantik keluar dari ruang dalam sambil berteriak “Jangan sakiti dia Bapa Begawan!” Gadis itu menghampiri Arjuna dan merentangkan tangannya untuk melindungi Arjuna dari serangan Begawan Wilawuk.

Begawan Wilawuk memandangi Jim Mambang sembari tersenyum. “Minggirlah putriku, jangan kau cegah niat ksatria tampan itu untuk bertanding denganku”.

“Aku mohon janagan teruskan Bapa Begawan, aku takut ksatria tampan ini terluka.”

Arjuna terheran-heran, siapakah putri cantik ini? Apakah ini putri yang dimaksud? Jika melihat wujud dari ayahnya tentunya bukan. Tidaklah mungkin seorang siluman naga mempunyai putri secantik Jim Mambang. Namun pendapat itu segera dibantahnya sendiri, setelah Arjuna melihat hubungan antara Begawan Wilawuk dan Jim Mambang.

Demi permohonan putrinya, Begawan Wilawuk pun menghentikan niatnya untuk menyerang Arjuna. Dengan langkah pelan dan senyum dikulum, Begawan Wilawuk mendekati putrinya sembari berkata

“Putriku, sebagai tuan rumah bukankah kita harus menjamu tamu istimewa ini dengan hal-hal yang istimewa pula? Arjuna telah meminta berperang tanding denganku. Jika aku dapat mengalahkannya, ia bakal tunduk kepadaku, demikian pula sebaliknya.”

Konten Terkait:  Jejak Pabrik Gula Gesikan Wijirejo Bantul

“Bapa Begawan biarlah aku yang menjamu tamu istimewa ini.”

Jim Mambang membalikkan badan, dan bertatap wajah degan Arjuna. Ah betapa tampannya ksatria ini. Tidak meleset serambut pun dengan yang dijumpai dalam mimpi. Dan sekarang mimpi itu telah menjadi kenyataan. Ia ingin membuktikan kenyataan itu dengan menyentuh dan menggandeng tangan Arjuna. Bagai terkena sihir, yang digandeng pun menurut tanpa berontak sedikitpun. Seperti seekor domba yang dituntun sang gembala memasuki kandang.

Arjuna diajak masuk ke rumah besar dan dipersilakan duduk di ruang tengah. Dengan cekatan jari jemari Jim Mambang yang lentik dan mucuk eri meracik kinang, yang terdiri dari gambir, jambe, injet dan daun sirih. Dalam waktu singkat dua racikan siap kunyah pun jadi. Satu diberikan Arjuna dan satunya dikunyah sendiri. Arjuna menerima racikan kinang tersebut, namun tidak segera mengunyahnya. Jiwanya bergetar karena pesona wanita di depannya. Dipandanginya Jim Mambang yang mulai mengunyah kinang, bibirnya yang nggula satemplik semakin merah dan basah.

Menyadari bahwa bibirnya menjadi perhatian Arjuna, dengan tersipu malu Jim Mambang menghentikan mengunyah sirih. Dipandanginya Arjuna dan berkata, “Raden mangga silakan nginang.” Kali ini gantian Arjuna yang tersipu malu. Ia terpesona oleh bibir indah dan wajah ayu yang berada di depannya.

Sebagai lelaki muda yang beberapa tahun terakhir hidup sengsara dari hutan ke hutan dan hampir tidak pernah bergaul dengan wanita secantik Jim Mambang ini, wajarlah jika kemudian ia tersulut oleh api asmara yang menggelisahkan. Oleh karenanya ia lupa akan niatnya untuk tidak mau tunduk kepada Begawan Wilawuk yang mau menjodohkan dengan putrinya sebelum dirinya dikalahkan dalam perang tanding.

Namun pada kenyataannya, tanpa melalui perang tanding, Arjuna telah dikalahkan. Dikalahkan tidak dengan senjata dan kesaktian yang dimiliki Begawan Wilawuk. Tetapi dikalahkan oleh pesona Jim Mambang yang mempunyai bibir indah. “Mangga Raden silakan nginang” Jim Mambang mengulangi tawarannya.

Arjuna tidak segera menuruti tawarannya, ia masih menggenggam daun sirih yang sudah diberi injet, gambir dan jambe.

“Jim Mambang, aku ingin nginang jika engkau mengawalinya dengan satu gigitan pada daun sirih ini,” kata Arjuna sembari memberikan daun sirihnya. Arjuna mulai menunjukkan ciri-ciri orang yang sedang dimabuk asmara, ia berani mengungkapkan perasaan dengan nakal.

Jim Mambang merasa sangat bahagia, diterimanya daun sirih itu, digigitnya dan diberikan kembali kepada Arjuna. Arjuna tersenyum puas, ia meneruskan gigitan Jim Mambang dan mulai mengunyah kinang.

Segunung rasa syukur tergambar pada raut wajah oval yang bermata bening dan indah, karena yang dialami saat ini, persis dengan yang terjadi dalam mimpi.

Arjuna minta diperlakukan secara istimewa. Dan Jim Mambang pun bahagia dapat melayani Arjuna dengan istimewa. Saat keduanya menjadi semakin intim, tiba-tiba saja Begawan Wilawuk masuk ruang tengah dan menyela “Jadi perang tanding tidak Arjuna?”

Arjuna tersenyum malu dan menjawab lirih “Bapa Begawan aku sudah kalah”

Wilawuk tertawa lepas dan meninggalkan ruangan. (bersambung)

Mereka merenda mimpi-mimpi yang indah. Lukisan Herjaka HS

Keterangan:
⦁ mucuk eri (pucuk duri) = untuk menggambarkan keindahan jari wanita yang lentik kecil ujungnya seperti duri
⦁ nggula satemplik = untuk menggambarkan keindahan bibir yang tipis merata seperti setangkup gula Jawa bagian pinggir

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here