Wayang Wahyu merupakan salah satu kreasi wayang yang meniru wayang kulit Purwa baik bonekanya, pakelirannya maupun iringannya. Dinamakan Wayang Wahyu karena wayang ini digunakan sebagai sarana untuk mewartakan kabar gembira atau wahyu Tuhan kepada manusia yang bersumber pada kitab suci agama Katolik dalam hal ini Injil maupun kitab suci Perjanjian Lama.

Mengapresiasi keragaman seni pertunjukan wayang, di luar wayang Purwa tentunya, seperti di antaranya, wayang Wahyu, Wayang Babad, Wayang Beber, Wayang Suluh, Wayang Sadat, Wayang Diponegoro, Wayang Kancil, selain perlu juga menjadi salah satu kebutuhan studi bagi mahasiswa jurusan seni pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta.

Berkaitan dengan hal itu, maka pada 4 Maret 2019 pukul 21.00 sampai dengan selesai, Himpunan Mahasiswa Jurusan (HMJ) Pedalangan ISI Yogyakarta menggelar pentas Wayang Wahyu sekaligus untuk melantik pengurus HMJ periode 2019 – 2020, di Pendapa Kyai Panjang Mas ISI Yogyakarta. Pelaksanaan pelantikan dilakukan oleh Joanes Catur Wibono. S Sn, M.Sn Pembantun Dekan III.

Prabu Dawud memanggil Betsyeba (foto Fr. Paul SJ)

Pada kesempatan itu ketua jurusan Drs. Ign Krisna Nuryanta Putra, S.Sn, M. Hum mengatakan bahwa pelajaran wajib dan baku bagi mahasiswa pedalangan ISI Yogyakarta adalah seni pedalangan wayang kulit Purwa. Namun tidak menutup kemungkinan mahasiswa ISI belajar seni pedalangan wayang-wayang kreasi selain wayang kulit Purwa. Seperti malam itu, salah satu mahasiwanya yang bernama Ki Stevanus Prihana diberi kesempatan untuk menggelar pakeliran wayang Wahyu dengan cerita “Jroning Sepi Ana Lali” (Dawud lan Betsyeba).

Dalam kitab Raja-raja dan Kitab Samuel, Dawud adalah raja besar Israel. Ia berkuasa selama empat puluh setengah tahun dengan wilayah kekuasaan mulai dari Sungai Nil di Mesir sampai Efrat di Lembah Tigris. Raja Dawud adalah raja yang diurapi, dipilih dan dikasihi Tuhan.

Ki Prihana melemparkan guyonan kepada penonton (foto Fr Paul SJ)

Namun ia manusia biasa yang setiap saat bisa jatuh ke dalam dosa. Godaan yang menghancurkan laksana singa yang mengaum-ngaum mengelilingi mangsanya. Pada saat calon mangsanya berada di titik lengah pasti diterkamnya. Seperti yang dicatat sejarah, banyak orang jatuh pada saat mencapai puncak kesuksesan. Ibaratnya semakin tinggi pohon itu tumbuh, akan semakin keras angin menerpa. Termasuk Raja Dawud ia lengah dan jatuh dalam dosa pada puncak kariernya.

Ketika suasana kotaraja sepi, karena pasukan Israel sedang berada di medan perang, Prabu Dawud termangu di balkon. Ia melihat Betsyeba istri panglima Uria orang Het itu sendirian di rumah. Prabu Dawud terpana oleh kecantikan dan lekuk tubuhnya. Ia mengutus pembantunya untuk membawa Betsyeba ke istana. Perzinahan pun tak terhindarkan, hingga Betsyeba hamil. Prabu Dawud berusaha menutupi aibnya dengan memerintahkan panglima Uria berperang di barisan depan hingga gugur.

Setelah kejadian itu, Nabi Natan menemui Prabu Dawud dan bercerita. Ada seorang mempunyai 100 ekor domba yang bagus-bagus. Namun ia tega merebut satu-satunya domba yang dimiliki orang lain dan membunuh pemilik domba itu. Prabu Dawud marah besar dan bertanya kepada Nabi Natan, apakah orang yang serakah dan amat kejam itu rakyatku? Jika ya, aku akan menghukum dengan hukuman berat. Nabi Natan pun berkata, ia bukan rakyat Israel, tetapi ia adalah raja Israel yang diurapi, namanya Prabu Dawud.

Karawitan HMJ ISI Jogjakarta pengiring pegelaran wayang Wahyu (foto Herjaka)

“Aduh Gusti! aku telah berdosa kepada Tuhan dan sesama”. Bagaikan disambar halilintar Prabu Dawud menjatuhkan diri dan bersujud. Ia benar-benar menyesal atas dosa yang telah dilakukan terhadap Uria prajuritnya yang setia dan Betsyeba istri Uria.

Walaupun pentas wayang Wahyu dipenuhi dengan guyonan intern mahasiswa jurusan, Ki Prihana tidak lupa untuk mengawal judul yang dipilihnya sendiri, yaitu Jroning Sepi Ana Lali, di dalam sepi ada lupa. Dengan judul tersebut Ki Stevanus Prihana mengajak untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap godaan terutama pada saat kondisi hati ini sepi, tawar dan kosong. Karena dalam titik paling lemah, risiko untuk jatuh dalam pelukan godaan semakin besar, seperti yang dialami orang nomor satu di Israel, Prabu Dawud.

Hadir pada pentas malam itu beberapa dosen Jurusan Pedalangan ISI) Yogyakarta, Romo Bernhard Kieser SJ, Romo Heru Prakosa SJ, Frater Paul, Frater Jupri, Frater Dam, Frater Hendric dari Kolsani Kota Baru, pecinta budaya dan para mahasiswa jurusan pedalangan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here