Sonobudoyo: Sejarah dan Identitas Keistimewaan, itulah yang diambil sebagai tema dalam pameran temporer yang diselenggarakan oleh Museum Sonobudoyo. Pemilihan tema ini berkaitan erat dengan usia museum yang telah mencapai 83 tahun, yang didirikan tahun 1935. Itu artinya Museum Sonobudoyo telah menembus waktu dengan berbagai zaman: zaman pendudukan Belanda, zaman pendudukan Jepang, dan zaman kemerdekaan.

Oleh karena itu pula pameran yang berisi kisah tentang berdiri dan kiprah Museum Sonobudoyo menjadi salah satu fokus dari pameran dengan tema itu. Pameran yang dibingkai dalam tema besar ini secara mendetail dapat dilihat dan dinikmati juga subtema atau subtopiknya. Pameran itu dibuka tanggal 30 November 2018, hingga bulan Maret 2019 ini masih berlangsung.

Sengkalan berbunyi Buta Ngarsa Esthining Lata, 1865 J atau 1934 M sebagai tanda pendirian pendapa Museum Sonobudoyo-Foto-A.Sartono

Pameran ini menyajikan banyak jejak rekam pendirian museum dan juga peninggalan. Menjejaki sejarah Sonobudoyo berarti juga harus menjejaki sejarah Java Instituut karena lembaga ini cikal bakal Sonobudoyo. Sebagian besar koleksi Museum Sonobudoyo adalah warisan dari Java Instituut. Pembangunan Sonobudoyo semula berasal dari dana pemerintah Belanda sebesar 25.143 gulden. Pada gilirannya warisan kolonial ini telah menjadi ruang inklusi masyarakat dengan segala aspek pendukungnya.

Kongres Kebudayaan di Kepatihan Yogyakarta 1924, salah satu capaiannya adalah pembangunan museum di Yogyakarta-Foto Repro-A.Sartono

Selain itu, seperti bingkai tema besar yang diusungnya, Sejarah dan Identitas Yogyakarta sebagai cikal bakal keistimewaan juga ditampilkan dalam pameran ini, Kota Yogyakarta yang sarat dengan filosofi melalui keteraturan dan keharmonisan tata ruang memiliki keserasian kosmis sekaligus juga religius.

Tahun 1946 menjadi momentum bersejarah bagi Kota Yogyakarta, yaitu pemberian status menjadi ibu kota Indonesia. Segala konsentrasi pemerintahan terpusat di kota ini pada masa itu. Saat ini Yogyakarta menjadi saksi atas kekuasaan pemerintahan yang membudaya, dengan berpusat di Keraton sebagai kerajaan dari lingkaran konsentris yang mengelilingi sultan/raja sebagai pusat.

Naskah Babad Giyanti Jumenenganipun Hamengkubuwana I, disalin oleh R Panji Imawijaya di Yogyakarta tahun 1899-Foto-A.Sartono

Tata ruangnya yang membentuk Sumbu Filosofi dari Panggung Krapyak-Keraton dan dari Tugu Pal Putih-Keraton serta Sumbu Imajiner dari Laut Selatan-Keraton-Gunung Merapi dan tata letak Yogyakarta yang diapit enam aliran sungai, tiga di sisi timur dan tiga di sisi barat menjadikannya semakin istimewa dan bahkan tidak ada duanya di dunia. Hal ini dengan segala aspek keistimewaan dan keunikan yang lain tentang Yogyakarta juga menjadi topik tersendiri dan menempati ruang tersendiri pula dalam pameran ini.

Bukan hanya itu. Ada banyak koleksi lain yang turut memberi kekuatan serta identitas keistimewaan Yogyakarta melalui pameran temporer ini. Selain itu, dipamerkan juga karya masterpiece dari Sunda, Cirebon, Jawa, Bali, dan Lombok. Koleksi-koleksi ini mau tidak mau mengajak siapa pun untuk mengenali, belajar kembali sejarah budaya melalui benda/karya yang dilihatnya.

Lambang Kasultanan Yogyakarta yang disebut Praja Cihna, berarti sifat sejati abdi negara dibuat oleh Sultan Hamengku Buwana I-Foto-A.Sartono

Penting untuk selalu dilakukan pameran semacam ini sebagai bentuk edukasi, sosialisasi harta kekayaan budaya bangsa yang tidak banyak diketahui oleh umum karena memang koleksi dari museum umumnya memang langka, unik, khas, dan memiliki nilai penting tidak saja bagi sejarah, namun juga ilmu lain, bahkan juga seni, religi, adat istiadat, dan budaya.

Kepala Patung Dewi Tara berlapiskan emas 22 karat dari Gunung Kidul ikut dipamerkan-Foto-A.Sartono

Pembukaan pameran yang menampilkan sekian banyak koleksi luar biasa ini dilakukan oleh GKR Hayu sekaligus wakil dari Keraton Yogyakarta didampingi Ketua Museum Sonobudoyo, Diah Tetuko Suryandaru, pejabat dari instansi terkait, wartawan, serta tamu undangan. Pameran terbuka untuk umum dan gratis. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here