Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat. Itulah tajuk pameran naskah yang disuguhkan kepada khalayak dalam rangka memperingati 30 tahun bertakhtanya Sri Sultan Hamengku Buwana X. Pameran yang disajikan untuk umum ini dibuka pada hari Kamis, 7 Maret 2019. Pameran berlangsung hingga 7 April 2019.

Lokasi pameran menempati ruang Pagelaran Keraton Yogyakarta sebagai bagian terdepan dari bangunan inti keraton. Ada 27 naskah keraton yang dipamerkan. Semua naskah ada dalam lindungan kotak kaca. Selain itu, dipamerkan juga beberapa koleksi wayang kulit, regalia keraton yang dinamakan Banyak, Dhalang, Sawung, Galing, Capuri, Pangojokan, Hardhawalika, Kacu Mas, Kutuk, dan Kandhil, serta Dhampar Kencana dan Amparan.

Sayangnya, siapa pun dilarang memotret objek yang dipamerkan. Oleh karena itu, siapa pun yang memasuki ruang pameran harus menitipkan alat rekam (kamera dan HP) di tempat yang telah disediakan. Alhasil semua pengunjung hanya bisa melihat tanpa bisa merekam apa pun.

Pagelaran Keraton Yogyakarta tempat penyelenggaraan pameran naskah keraton dilihat dari arah dalam (sitihinggil)-Foto-A.Sartono

Naskah-naskah yang dipamerkan tersebut ada yang berupa Babad Ngayogyakarta, Gambar Songsong (perihal payung, warna, dan siapa yang berhak untuk menggunakannya berdasarkan pangkat atau kedudukan sosialnya), Pranatan Garebeg Mulud Dal 1839: Pranatan Dalem Yen Sami Sowan Wonten Plataran Kedhaton, dan banyak lagi serat atau babad kuno lainnya.

Sekalipun pengunjung tidak bisa memotret atau merekam, namun masih bisa sedikit memahami tentang isi dari naskah-naskah yang dipamerkan. Salah satu contohnya, Babad Ngayogyakarta: HB VI berisi tentang kronik pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VI, diawali dengan perkawinan Sultan dengan Kanjeng Ratu Mas. Episode cerita diakhiri dengan Sultan Hamengku Buwana V sakit keras. Teks ditulis semasa pemerintahan Sultan Hamengku Buwana V, sedangkan penyalinannya dimulai 19 Ruwah, Wawau 1823 (10 November 1903). Naskah terdiri dari 430 halaman dan dituliskan dengan bahasa serta aksara Jawa. Naskah merupakan koleksi dari KHP Widyabudaya. Kode Koleksi: W92/A39.

Dari 27 naskah yang dipamerkan itu sebagian besar merupakan koleksi KHP Widyabudaya. Ada pula naskah-naskah yang merupakan koleksi KHP Kridhamardawa, Museum Sonobudoyo, Widyapustaka Pakualaman, dan koleksi Balai Bahasa Yogyakarta. Koleksi dari KHP Widyabudaya umumnya merupakan koleksi naskah yang menceritakan tentang kronik sejarah Kerajaan Kasultanan Yogyakarta dan Mataram Islam.

Sedangkan koleksi dari KHP Kridhamardawa umumnya berupa naskah yang berisi kisah-kisah dalam dunia pewayangan serta gendhing. Koleksi dari Sonobudoyo yakni Babad Giyanti, sedangkan koleksi dari Widyapustaka Pakualaman berjudul Babad Mangkudiningratan dan naskah koleksi dari Balai Bahasa Yogyakarta berjudul Babad Sepai.

Salah satu putri Sultan Hamengku Buwana X, yakni Gusti Kanjeng Ratu Bendara, bahwa Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat (yang menjadi tajuk pameran) sama halnya dengan merajut kembali sejarah Yogyakarta bagi generasi muda agar menghargai dan ingat akan perjalanan sejarah bangsanya.

Sedangkan Sri Sultan Hamengku Buwana X menyampaikan bahwa ibaratnya Yogyakarta adalah “museum” dan kebudayaan adalah “bukunya”. Dapat dibayangkan betapa kayanya kota yang diisi dengan beragam “buku” yang sampai kini masih diperlukan pembacaan maknanya. Selanjutnya Sri Sultan Hamengku Buwana X juga menyampaikan bahwa “Merangkai Jejak Peradaban Nagari Ngayogyakarta Hadiningrat” berarti mengonstruksi ingatan historis dan membangkitkan ingatan emosional agar menumbuhkan kesadaran untuk memaknai sejarah secara benar. (*)

Tulisan tentang pameran naskah Keraton Yogyakarta menyambut pengunjung di pintu utama-Foto-A.Sartono

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here