Bagi perupa atau seniman, berkarya adalah nyawanya. Pada sisi lain apresiasi karya seni juga sangat penting. Barangkali keduanya adalah semacam dua sisi mata uang yang tidak bisa saling dipisahkan.

Berpameran bagi seniman merupakan kebutuhan pokok. Melalui pameran itu seniman dapat menunjukkan hasil atau pencapaian kreativitasnya sekaligus menunjukkan penguasaannya atas kedalaman ilmu seni yang selama ini ditekuninya. Sudah sampai sejauh manakah sang seniman menacapai itu semua. Pameran akan karya mereka tanpa diminta akan menunjukkan pencapaian mereka.

Keindahan yang Hakiki, 100 x 90 cm, kain berkolin, 201, karya Aji Puji Widodo-Foto-A.Sartono

Hal itulah yang dilakukan komunitas kriyawan yang menyebut dirinya Babad Alas. Para kriyawan Babad Alas ini melakukan pameran karya kriya mereka dengan tema Garis Waktu. Pameran dilaksanakan di Jogja Gallery, 16-20 Maret 2019. Pameran diikuti oleh 23 kriyawan.

Tema Garis Waktu merupakan perwujudan dari semua cerita yang terjadi di komunitas kriyawan Babad Alas yang merupakan sebuah proses perjalanan berkesenian kelompok ini yang sudah direkap menjadi satu kesatuan yang menggambarkan jati diri yang kuat dari mereka.

Bergejolak, kain berkolin, 85 x 95 cm, 2019, karya Rangga Wijaya-Foto.A.Sartono

Garis waktu seperti tonggak yang tidak mewujud dalam sosok fisik namun menjadi bingkai, penanda, sekaligus peringatan bahwa waktu memegang peranan penting dalam semua proses untuk menjadi.

Dinamika, kain primissima, 2019, karya Zidny Ilma Pancar Syarifatullah-Foto-A.Sartono

Tinggal bagaimana sang seniman “masuk” ke dalam waktu itu dan berproses di dalamnya. Apakah ia mampu menyelaraskan dengan waktu, mendahuluinya, atau justru ketinggalan olehnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here