Sekelompok anak muda di Pontianak, Ibu Kota Kalimantan Barat, melakukan hal yang menarik dalam menginterpretasikan seni melalui musik. Mereka memanfaatkan seni musik untuk menuangkan keresahan dan kekhawatiran mereka tentang arsip-arsip tradisi Dayak yang perlahan mati dimakan oleh zaman.

Mereka membentuk ansambel musik baru yang bernama Balaan Tumaan Ensemble. Mereka fokus menjadi sebuah tempat atau laboratorium penciptaan musik baru, berbasis tradisi dengan riset sebagai landasan dalam berkarya. Riset yang dilakukan fokus pada musik tradisi di Kalimantan, mulai dari pemetaan hingga penggalian secara mendalam; sehingga penggalian tersebut menjadi sebuah arsip yang berbentuk dokumentasi audio, visual, dan juga tertulis.

Balaan Tumaan Ensemble (HNNOH_ Sinema Bunyi)_Foto oleh Image Dinamic

Mereka pun telah memulai debut pertamanya sejak oktober 2014 melalui program muhibah seni yang membawa Balaan Tumaan untuk menampilkan karya-karya seninya di Perancis, Belgia dan Jerman.

Pada Sabtu 16 Maret 2019, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, West Mall Grand Indonesia Jakarta; Balaan Tumaan menyuguhkan pertunjukan melalui karya kolektif berbasis arsip audio-visual tradisi musik vokal dalam ritual pada masyarakat Melayu dan Dayak, Kalimantan Barat bertajuk Hnnoh: Sinema Bunyi. Karya tersebut merupakan salah satu karya dari 14 kelompok terpilih Program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia yang diselenggarakan Galeri Indonesia Kaya.

Balaan Tumaan Ensemble (HNNOH_ Sinema Bunyi)_Foto oleh Image Dinamic

Dalam bahasa Dayak Kayan, Hnnoh berarti bunyi yang identik dengan gerakan. Sedangkan, musik vokal dalam sebuah ritual, khususnya di masyarakat tradisional Kalimantan tidak dapat dipisahkan, karena kata-kata dan nyanyiannya bersifat intuitif dan improvisasi, namun tetap memiliki substansi kuat, baik secara komunikasi dengan leluhur, Tuhan, maupun pada aspek bunyi sebagai bentuk artistik.

Balaan Tumaan Ensemble (HNNOH_ Sinema Bunyi) 5_Foto oleh Image Dinamic

Hal tersebut lah yang menjadi latar belakang karya berbentuk arsip audio visual ritual masyarakat adat Dayak dan Melayu yang tertuang dalam tradisi musik vokal, dengan iringan dari alat-alat musik tradisional dan modern seperti contrabass, kaldii, dau, gong, bass drum, sape, saksofon sopran, klarinet, dan biola; yang dikemas menjadi pertunjukan kurang lebih selama 60 menit.

Nursalim Yadi Anugerah, selaku pimpinan produksi dari Hnnoh: Sinema Bunyi mengatakan, melalui pertunjukan tersebut, mereka ingin mengajak generasi muda yang hadir di Galeri Indonesia Kaya untuk ikut melestarikan dan mencintai sejarah maupun tradisi dari suku Dayak. Jika biasanya arsip identik dengan dokumen-dokumen lama yang tersimpan bahkan jarang tersentuh; Balaan Tumaan Ensemble berhasil menghidupkan arsip-arsip bersejarah yang memiliki nilai tinggi melalui pertunjukan yang menarik, sehingga masyarakat pun bisa dengan mudah menerimanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here