“Hom Pim Pah Alaihom Gambreng” Kalimat ini mungkin sering kita dengar atau diucapkan oleh anak-anak maupun kita yang dewasa untuk mengundi suatu permainan dan sebagai penentu siapa yang menang, siapa yang kalah. Pada Minggu, 10 Maret 2019, di Auditorium Galeri Indonesia Kaya, Guruh Se-Balane memaknai kalimat ‘Hom Pim Pah’ lebih mendalam dibalut dengan sebuah alunan musik tradisi Indonesia.

Dalam bahasa Sansekerta, Hom Pim Pah memiliki arti yang sangat dalam, yaitu ‘Dari Tuhan kembali ke Tuhan’. Kelompok musik asal Banyumas, Guruh Se-Balane mengajak penikmat seni yang hadir memaknai arti yang yang tersirat dalam musik yang mereka sampaikan.

Selama kurang lebih satu jam, mereka mempersembahkan repertoar-repertoar apik dari perpaduan alat musik tradisional dan modern, antara lain gambang, calung, dhendhem, kenong, klunthung sapi, saxophone, biola, gong bumbung, dan suling. Penonton yang hadir tampak sangat menikmati pertunjukan yang disuguhkan sambil sesekali memvideokan pertunjukan Guruh Se-Balane.

HOM PIM PAH oleh Guruh Se-Balane foto- Image Dynamics

Menurut Guruh Purbo Pramono selaku pimpinan produksi dari Guruh Se-Balane melalui pertunjukan ini mereka ingin mengajak penonton ikut merasakan arti yang tersirat dari musik yang kami sampaikan, bahwa manusia senantiasa melakukan perbuatan sekecil apapun dengan penuh keseriusan dan berjiwa besar. Konsep Hom Pim Pah dapat dikatakan sebagai dunia bermain-main yang dilakukan secara sungguh-sungguh, karena dalam sebuah permainan pasti memiliki aturan-aturan yang sudah disepakati secara bersama.

Guruh Se-Balane merupakan satu dari empat belas kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia 2018. Program tahunan yang rutin diselenggarakan sejak 2016 ini merupakan program yang bertujuan untuk menumbuhkan bakat-bakat baru kreator seni di dunia seni pertunjukan Indonesia.

Renita Sari Adrian, Program Director Bakti Budaya Djarum Foundation berharap ke depannya kelompok-kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan Indonesia dapat terus berinovasi dan menghasilkan karya-karya yang dapat menginspirasi serta memajukan seni budaya Indonesia.

Perpaduan Alat Musik Tradisional Dari Guruh Se-Balane foto – Image Dynamcis

Dalam proses persiapannya, 14 kelompok terpilih program Ruang Kreatif: Seni Pertunjukan didampingi oleh para mentor yang ahli dalam bidangnya seperti, Garin Nugroho, Eko Supriyanto, Ratna Riantiarno, Rama Soeprapto, Djaduk Ferianto, Tinton Prianggoro, Iswadi Pratama, Ruth Marini, Subarkah Hadisarjana, Hartati, dan Butet Kartaredjasa.

Djaduk Ferianto selaku mentor dari kelompok Guruh Se-Balane mengatakan Program Ruang Kreatif sangat dibutuhkan di zaman ini, karena program Ruang Kreatif dapat mewadahi generasi baru untuk berkembang dan berkarya lewat kreativitasnya.

“Guruh merupakan seorang komposer muda yang mampu menafsirkan tradisinya ke dalam ruang kreatif dan mampu menjadikannya sebuah tradisi baru. Dengan didukung para pemain yang beragam, mulai dari milenial hingga berpengalaman, menjadikan karyanya penuh imaji dan menyadarkan kita akan kekayaan musik yang ada di Indonesia,” paparnya.

Guruh Purbo Pramono – Pimpinan Produksi pertunjukan HOM PIM PAH foto – Image Dynamics

Soal karya, ia menambahkan, Hom Pim Pah seakan membawa penonton ke dalam dunia permainan anak-anak, namun di tangan Guruh dunia main-main menjadi serius. Djaduk berharap, kelompok-kelompok terpilih dalam program Ruang Kreatif dapat mempersembahkan karya-karya bermanfaat bagi bangsa dan negara. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here