Bertempat di Dalem Gamelan, Jl Gamelan, Keraton Yogyakarta, Sri Sultan Hamengku Buwana X melakukan audiensi ke-3 dengan para seniman/budayawan dan media dalam rangka pematangan konsep pelestarian dan pengembangan seni di DIY, khususnya seni ketoprak dan sandiwara radio berbahasa Jawa, Jumat malam, 8 Februari 2019.

Audiensi ke-3 ini dilaksanakan setelah dilakukan berbagai pertemuan, rapat, dan diskusi guna menyusun, merancang, dan mematangkan konsep tersebut. Pada Jumat malam itulah hasil dari rapat-rapat dan diskusi itu dipresentasikan dan kemudian didiskusikan dengan harapan agar konsep yang disusun dan dirancang itu mendapatkan banyak masukan sehingga didapatkan konsep yang semakin matang untuk dilaksanakan.

Persiapan akhir dari konsep/rencana penulisan naskah ketoprak dan sandiwara radio berbahasa Jawa tersebut dipresentasikan oleh Purwadmadi dan Landung Simatupang. Masing-masing mewakili seni ketoprak dan sandiwara radio berbahasa Jawa. Dalam paparannya Purwadmadi antara lain menyampaikan tentang Reformasi Sosial Ketoprak 2019.

Secara garis besar Purwadmadi menawarkan dan menantang semua seniman/budayawan/penulis dan masyarakat Yogyakarta bagi terwujudnya seni pertunjukan tradisi kerakyatan “ketoprak kekinian” yang memperkuat jati diri keistimewaan DIY melalui upaya gerakan sosial yang terbuka, partisipatoris, terstruktur, sistemik, yang mendorong keswadayaan masyarakat menuju peningkatan kesejahteraan sosial, dalam jangka lima tahun ke depan.

Presentasi Landung Simatupang di hadapan Sri Sultan Hamengku Buwana X dan para seniman-budayawan, Foto-A.Sartono

Untuk mewujudkan hal itu dibutuhkan tersedianya naskah lakon ketoprak yang representatif. Hal demikian bisa dicapai dengan jalan, di antaranya adalah melalui lomba penulisan lakon ketoprak. Lomba itu akan didahulu dengan workshop pembekalan pra sayembara, lomba dan penjurian, bedah naskah, dan workshop produksi, workshop penyutradaraan, diklat pelaku, dan edukasi penonton.

Landung Simatupang antara lain menyampaikan bahwa sandiwara radio berbahasa Jawa penting sebagai bagian atau strategi pelestarian dan pengembangan sastra dan budaya Jawa, di mana hal ini pernah demikian populer di tahun 1980-an. Menurunnya hal itu sedikit banyak berdampak pula pada menurunnya penguasaan bahasa Jawa oleh masyarakat umum dan generasi muda. Hal demikian perlu ditanggapi dengan beberapa strategi atau langkah-langkah yang di antaranya adalah lokakarya (workshop) penulisan naskah lakon sandiwara radio berbahasa Jawa untuk umum dan untuk kalangan pelajar.

Sri Sultan Hamengku Buwana X dalam arahannya antara lain menyampaikan hendaknya Danais dapat meningkatkan martabat seniman/budayawan. Sultan berharap kehidupan seni budaya bisa melibatkan generasi muda; bagaimana proses berbudaya itu terus-menerus, berkesinambungan dari generasi ke generasi karena kebudayaan itulah yang membangun martabat bangsa dan negara. Apa yang dilakukan dengan program penyusunan naskah lakon ketoprak dan naskah sandiwara radio sebagai salah satu bagian dari gerakan pembudayaan seperti yang dirancang sekarang, kiranya dapat dikerjakan secara profesional. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here