Art Project Tiga Celah (Aptic) merupakan kelompok yang diawaki oleh tiga orang perupa dengan asal dari daerah yang berbeda, tumbuh di lingkungan yang berbeda, dengan keunikan karakter visual yang juga berbeda, namun ketiganya, yakni Arbi Putra, Ramadhan Putri, dan Ika Dhany memiliki kesamaan dalam menanggapi proses dan bertumbuhnya karya mereka sebagai sebuah celah. Aptic terdiri dari tiga perupa muda yang tengah berkiprah, terjun ke dalam hiruk pikuk kesenirupaan di Yogyakarta.

Sekalipun demikian, iklim kesenirupaan dan seni pada umumnya di Yogyakarta selalu asyik. Tidak ada pembeda jelas antara senior-yunior. Semua ditentukan oleh kualitas karya dan produktivitasnya. Umur tidak menjadi pembeda dan pembatas. Orang boleh merasa senior di angka usia, namun karya jugalah yang akan lebih banyak bicara. Itulah asyiknya berkiprah seni di Yogyakarta. Semuanya cair. Kompetisi memang ada tetapi bukan perseteruan. Kompetisi adalah keniscayaan. Semua ditentukan oleh pencapaian masing-masing senimannya sendiri.

Demikian antara lain sambutan yang disampaikan Jumaldi Alfi, perupa dan sekaligus pengelola Sarang Building dalam membuka pameran Aptic yang dilakukan di Bentara Budaya Yogyakarta, Selasa malam, 12 Maret 2019. Pameran bertema Short Stories itu sendiri berlangsung mulai tanggal 12-19 Maret 2019.

Para perupa dan Jumaldi Alfi dalam pembukaan Pameran Short Stories di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Bisa dikatakan bahwa tajuk atau tema Short Stories merupakan refleksi atas pembacaan diri, kumpulan kisah yang kemudian diceritakan menjadi mata rantai, yang pada gilirannya menjadi penyemangat satu sama lain. Potongan-potongan peristiwa yang terjadi dalam setiap harinya menjadi sumber inspirasi dalam berkarya bagi ketiganya. Tiga perupa dengan tiga gaya, yakni yang ekspresif, abstrak, dan surealis ketiga perupa ini menyampaikan bahwa berkarya haruslah jujur (murni). Menangkap peristiwa, kenangan, imajinasi, dan impian dengan torehan kuas, mereka berusaha keras untuk percaya pada intuisi masing-masing.

Apa yang mereka tangkap berdasarkan pengalaman atau peristiwa yang pernah mereka alami dan rasakan salah satunya tertuang melalui karya berjudul The Won’t Know Who We Are karya Rama. Pada karya ini Rama hendak menceritakan saat ia berada di puncak gunung dan menyaksikan sekali kehidupan di atas sana yang pada gilirannya mempertebal kesadarannya akan keberadaan perikehidupan makhluk lainnya.

Memunculkan Wujud, 150 x 75 cm, acrylic on canvas, 2018, karya Ika Dhany P-Foto-A.Sartono

Hal yang dilakukan Rama berbeda dengan yang dilakukan Arbi. Melalui karyanya, Arbi ingin menyampaikan pesan tentang kekebasan binatang yang dalam banyak sisi dirampas manusia karena manusia terlampau tamak dalam memainkan perannya. Ika dengan karya berjudul “Terpecah” yang melukis dengan objek telur sebagai simbolisasi tentang berawalnya kehidupan. Telur adalah satu entitas yang sangat sensitif sehingga perlu dijaga demi tercapainya kesempurnaan bentuk.

Menjadi Kupu-kupu Surga, 170 x 150 cm, acrylic and oil on canvas, 2019, karya Arbi Putra-Foto-A.Sartono

Pada galibnya melukis dengan “bagus” saja sesungguhnya tidak cukup untuk menenangkan gelora rasa, pikir, dan emosi seniman. Selalu saja ada rentetan pertanyaan-pertanyaan atau kegelisahan susulan yang terus menggelayuti, menguntit dan berkarya. Barangkali memang demikianlah hidup berkesenian. Tanpa kegelisahan tidak akan muncul kreativitas, ekspresi gagasan serta emosi yang orisinal dan otentik. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here