Konon, jenis makanan berupa bubur ada sejak zaman Kaisar Shih Huang Ti (238 SM) di Tiongkok. Munculnya jenis makanan ini akibat paceklik dan kelaparan yang melanda negeri yang dipimpinnya. Inspirasi lain didapat sang kaisar saat menyantap nasi yang dingin ketika diguyur kuah panas tiba-tiba nasinya mengembang dan melunak.

Dari situlah Sang Kisar memerintahkan para juru masak kerajaan untuk membuat masakan “nasi lunak” yang bisa diproduksi massal, cepat, efisien, dan dapat memenuhi kebutuhan seluruh negeri. Oleh karena itu terciptalah bubur yang lunak bahkan lumer dan praktis dicampur kuah, toping, dan isian apa saja sehingga kebutuhan pangan serta gizi rakyat dapat terpenuhi dalam satu mangkuk bubur lengkap.

Seiring perkembangan zaman, dengan masuknya orang-orang China ke Nusantara, diperkenalkan pulalah jenis makanan berupa bubur ini yang akhirnya, salah satunya mewujud dalam makanan yang dinamakan sebagai bubur ayam. Pada awalnya bubur ayam lebih terkenal dan populer di wilayah Jakarta dan Jawa Barat sehingga menjadi salah satu identitas kuliner di wilayah ini. Namun akhirnya menyebar sampai ke seluruh pelosok Indonesia.

Tampilan Bubur Ayam Batas Kota-Foto-A.Sartono

Salah seorang yang pernah menekuni bisnis bubur ayam ini adalah mertua dari Ahmad Suparto (42). Kepiawaian meramu dan menyajikan bubur ayam ini akhirnya juga dipelajari oleh Ahmad Suparto yang semula menjalani hidupnya sebagai pelaut.

Bosan di laut dan jarang ketemu keluarga, akhirnya ia mempraktekkan ilmu dari mertuanya sebagai saka guru ekonomi keluarga. Ahmar Suparto pun akhirnya hijrah ke Yogyakarta beberapa tahun sebelum gempa 27 Mei 2016 yang melanda Yogyakarta.

Mula-mula ia tinggal dan berbisnis di Samirono. Setelah itu, ia berpindah lokasi di Jl AM Sangaji No 205. Persis di sisi selatan gapura Batas Kota, yakni di Dusun Petinggen, Sinduadi, Mlati, Sleman. Warung atau kiosnya berhadapan dengan Rumah Makan Ayam Penyet Surabaya di ruas jalan tersebut.

Ahmad Suparto bersama istri di depan gerobak Bubur Ayam Batas Kota-nya-Foto-A.Sartono

Ahmad Suparto yang asli dari Pemalang ini merasa bahwa bisnis bubur ayamnya bisa menjadi andalan untuk menghidupi keluarganya. Ia mengaku bahwa pendapatannya tidak tentu namun yang jelas bisa mencukupi hidup keluarga.

Satu mangkuk bubur ayam yang diberi label Bubur Ayam Batas Kota ini dibanderol Rp 10.000 (harga bulan Februari 2019). Isian mangkuk menjulang seperti gunung karena topingnya penuh. Taburan toping Bubur Ayam Batas Kota terdiri dari suwiran daging ayam goreng yang krispi di luar dan lunak di dalam.

Selain itu ada krupuk, bawang goreng, daun bawang, dan kacang kedelai goreng. Memang minus kekian dan tongcai. Dua bahan ini relatif sulit didapat dan sedikit mahal. Namun tidak perlu kecewa. Bubur yang disajikan Ahmad Suparto memiliki citarasa yang tidak kalah nikmat dengan bubur ayam lain. Buburnya tidak terlalu lembek, namun kental dan sangat lunak. Butiran berasnya benar-benar matang dan lembut.

Bubur Ayam Batas Kota dan Sate Usus-Foto-A.Sartono

Kuah kari kuat aroma rempahnya. Bagi yang senang kuah kari boleh menambahkan sendiri ke dalam mangkuk karena Ahmad Suparto menyediakan kuah kari dalam botol di meja dengan gratis. Bagi yang suka agak manis tinggal tuang tambahan kecap. Bagi yang suka hangat bisa tambahkan lada.

Bubur Ayam Batas Kota buka setiap hari kecuali hari Senin, mulai pukul 06.00-10.30 WIB. Di tempat ini juga disediakan kerupuk, jeroan ayam, telur, dan gorengan untuk menambah kelezatan bersantap. Bagi penyuka bubur ayam di Yogyakarta, Bubur Ayam Batas Kota boleh jadi pilihan. (*)

PETA LOKASI:

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here