Puisi Mutia Senja

0
44

Berkunjung ke rumah Tuhan

: kakek

suara bisik pintu, mengejamu dengan kata
angin lihai membuat nuansa kian sunyi
merpati bertengger di dahan pohon jambu
sebelum hujan lebih dulu beradu batu-batu

jendela menangkap tetes hujan
aroma wangi tanah basah menyeretmu—
ke masa lalu; kau dihadang kerinduan
tentang tanah yang mekar di pelataran

awan berganti kelabu
gerimis bersatu membentuk tengadah
di pundakmu segala serah tersirah
kau gugur daun yang rindu tanah

2019

 

Menanam kebencian

di napasku kau adalah lautan
perahu tenggelam menyusun batu karang
ketika suatu siang matahari meninggi
aku masih sepotong kisah—mencari arah
ke mana lagi harus melangkah?

“apakah di sana hujan?” tanyaku
hanya gerimis. mendung memeluk matahari
langit seperti lautan—menampakkan keluasan
bersandar kedalaman; kau ombak latah
menghantarkan sampan ke muara keabadian

ambilah sekantung air kerinduan
tepat ketika orang-orang berebut mandi
sedang dirinya tak pernah suci
oleh hiasan luka dan airmata

ibu mengajariku mencintai tanah air
seperti ketulusan melahirkan buah cinta
dari bibir rahim—aku bencana bagi semesta
tanpa ingkar dari membenci kemunafikan
: kau laut dan akulah daratan!

Sragen, 2019

 

Semenit lalu

di tubuhmu, orang-orang menunggu
melodi rindu menari menggerakkan jemari
lenganmu meninggi; alun melambai
roda-roda kereta berputar semakin tajam
jarum jam mendekap kebiasaan
kau ditikam kesunyian

dinding-dinding gagah menghuni langit
aku telepon genggam—berdering
mencari tahu letak rindu ingin bertemu
di tempat yang jauh suaramu rapuh
tangis pecah dari atap matamu
angan turut menciptakan lagu hujan

di sini, kutulis berlembar ingatan
saat suara kendaraan berlalu-lalang
membuat aroma dari angin kotamu
kabut-kabut menyusup beserta rindu
membawa masa lalu beradu candu
aku; dinding stasiun yang diam itu

Sragen, 2019

 

Paranoid

membaca gurattala
;candrika adhiyasa

adakah yang benar-benar bebas dari kungkungan dunia?
apakah tanpa waktu manusia akan mengenal kata sebentar?

paranoid—manusia telah lebih dulu ketakutan sebelum diturunkan
di muka bumi. seperti darah yang tiba-tiba keluar dari pori-pori.
merah; pertanda bahaya tiba. jika benar, manusia telah menyimpan
milyaran pertanda waspada dalam dirinya. tak heran jika ketakutan
menjelma air mata yang lebih dingin dan bening: kedamaian—
satu-satunya jalan kembali.

bukan. bayi menangis ketika terlahir di muka bumi. tapi
orang-orang kegirangan. ada yang mati dan lahir kembali—
dalam kefanaan ini. alangkah bodohnya—ditimang-timang
sembari dibisikkan teori-teori latah yang mencemari sisi hatinya
yang masih suci.

pikiran tumbuh layaknya sebuah tunas baru dalam pot.
batang menjulang dan tangkainya bercabang. ia akan menumbuhkan
bunga-bunga atau buah-buahan segar. kecuali ketika keserakahan
membuat dedaunan gugur sebelum kembang bermekaran.

gugur: tahap menuju kematian. orang-orang kembali dilanda
ketakutan; saat pohon-pohon memilih mati demi tumbuhnya tunas baru,
mengapa manusia gemar tertawa saat bancana melanda sesamanya?
adakah ketakutan yang benar-benar nyata?

2019

 

Kamuflase

aku masih di sini, sayang
di sebuah beranda yang atapnya
tersusun dari kesederhanaan. tapi
pintunya lapuk dan orang-orang
hanya melihat catnya yang berwarna
keemasan. Indah dan mengesankan.

aku masih di sini, sayang
menikmati pagi berbaur sinar mentari
cahayanya menghangatkan tubuhku
tapi bunga-bunga di taman layu
sebab kebisingan lisan orang-orang
lebih tajam dari terik siang

aku masih di sini, sayang
duduk beralaskan kursi kayu jati
berkualitas tinggi. tapi pantatku
lekas panas. orang-orang gemar
menebang hutan lalu ditanamnya
benih-benih kebencian

aku masih di sini, sayang
menikmati malam tanpa nyala lampu
sebab kesunyian akan menjauhkanku
dari hiruk-pikuk orang-orang yang
asyik berdansa di atas dosa-dosa

aku masih di sini, sayang
menuliskan catatan dan menanti
kantuk sambil membaca buku-buku
meskipun aku tahu, orang-orang
lebih tertarik berkomentar dan
mengubur rasa ingin tahu pada ilmu

aku masih di sini, sayang
menyayangimu dalam waktu yang
tidak tepat. ketika banyak orang ingkar
pada manisnya janji, aku memilih sendiri.
bukankah cinta tak kenal jarak, waktu,
bahkan logika yang tak pasti? dan aku
mencintai ketidaktepatan ini.

aku masih di sini, sayang
menjalani kehidupan
seperti yang orang-orang lakukan.

2019

 

Mutia Senja, lahir di Sragen, Jawa Tengah. Bergiat di Sekolah Menulis Sragen dan Komunitas Sangkar Literasi. Hobinya menulis sesuka hati. Buku puisi tunggal Manahan Selepas Hujan, terbit Mei 2018. Blogger di aksaramutiasenja.blogspot.com, Instagram: @mutia_senja, e-mail: [email protected], nomor HP 085713027400

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here