Tangkoko menjadi salah satu cagar alam yang dilindungi di Indonesia, yang berada di Batoe Angoes, Batu Putih, Bitung, Sulawesi Utara. Setelah 100 tahun kemudian Pemerintah Kota Bitung menggelar peringatan acara 100 tahun berdirinya Cagar Alam Tangkoko, yang diselenggarakan pada Kamis, 21 Februari 2019. di kawasan cagar alam tersebut.

Hadir dalam acara, Wali Kota Bitung, Maxmilian Jonas Lomban, Direktur British Council Indonesia, Paul Smith, Direktur Konservasi Sumberdaya Alam Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan Wiratno, beserta jajarannya.

Bertepatan dengan acara tersebut, Walikota Bitung, Maxmilian Jonas Lomban meresmikan patung Alfred Russell Wallace, seorang ilmuwan legendaris dan tokoh lingkungan yang sangat terkenal di dunia. Tahun 1850-an ia sudah mulai berkiprah di Malaysia dan Indonesia. Ia mendapat berbagai pelajaran dan akhirnya membagikan teori Wallace Line.

Perjalanan Masuk Hutan Tangkoko foto – Titien Natalia

Menurut Maximilian, dalam Garis Wallace Jawa, Sumatera, Kalimantan itu bagian dari Asia, sedangkan Sulawesi, Papua, Maluku bagian dari Australia. Itu dibuktikan dengan banyaknya flora dan fauna yang sama antara Australia dan Indonesia.

“Wallace datang ke Indonesia sejak 1861, ia kemudian ke Batuputih sekaligus Tomohon. Saat itu ia ingin membuktikan apa betul di Batuputih ada Burung Maleo, ternyata setelah ia datang, bukan hanya ada Maleo, banyak jenis burung yang tak ada di mana-mana tapi ada di Australia dan di Sulawesi. Jadi menguatkan apa yang Wallace katakan dalam teori ‘Garis Wallace’ itu benar,” imbuhnya.

Tarsius Spectrum Bersembunyi Didalam Pohon foto – Titien Natalia

Maxmilian juga menambahkah, Wallace adalah tokoh konservasi. Jika saja saat itu Wallace tak menentukan konsep konservasi, tentu hutan sudah botak. Perjuangan Wallace kemudian dilanjutkan oleh muridnya Sijfert Koorders hingga terbentuknya undang-undang tentang Taman Nasional.

Patung Alfred Wallace di Hutan Tangkoko foto – Titien Natalia

“Koorders itu anak penjajah yang lahir di Bandung. Namun, ia punya keinginan untuk mewujudkan cita-cita dari Alfred Wallace untuk penyelamatan hutan. Ditandai yang pertama ada empat cagar alam di Pulau Jawa, Jawa Barat. Tapi sekarang itu sudah tidak ada,” katanya.

Perayaan cagar alam Tangkoko diharapkan bisa menyampaikan pesan kepada masyrakat untuk terus melestarikan cagar alam Tangkoko, dan dengan adanya Patung Alfred Russel Wallace dapat menjadi icon di hutan Batu Putih ini dalam menjadi daya tarik bagi wisatawan. Rencana jangka pendek, patung ini akan diberikan chip agar jika para turis mencari di Google bisa menemukannya di cagar alam Batu Putih ini.

Patung Wallace ini dibuat oleh seniman bernama Hendra Susanto. Patung ini memiliki tinggi 2 meter, ditambah dengan fondasi sekitar 2,5 meter, total ketinggian patung Wallace ini sekitar 4,5 meter. Pengunjung bisa mengenang jasa Wallace untuk ilmu pengetahuan dengan mengunjungi patung ini di Cagar Alam Tangkoko, Bitung, Sulawesi Utara. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here