Sumatra 1947, itulah tema yang dijadikan bingkai pameran foto tentang warna-warni kehidupan di Pulau Sumatera masa lalu. Sebuah pameran foto yang mengajak semua orang untuk sejenak menengok masa lampau yang tidak terpisahkan dari masa kini. Sebab masa lalu adalah pangkal tolak sekaligus mata rantai dari masa kini.

Jika tidak ada masa lalu tidak akan pernah ada masa kini. Pada kemasalaluan itu orang bisa bercermin, berkaca diri, mengingat kembali, mengambil hikmah dan pelajaran penting untuk ikthiar di masa kini. Itulah makna pameran yang dilaksanakan oleh Bentara Budaya Yogyakarta, 2-10 Maret 2019. Pameran ini dibuka oleh Redial Rusli (dosen ISI Yogyakarta) yang berasal dari Sumatera Barat.

Orang Jawa dalam perjalanan di Sumatra Selatan-Foto repro-A.Sartono

Pameran foto ini diangkat dari sebuah buku berjudul Sumatraantjes (Sumatra kecil) yang terbit tahun 1947 yang di dalamnya memuat warna-warni kehidupan di Pulau Sumatera. Buku ini memuat banyak sekali foto yang menggambarkan kehidupan sehari-hari masyarakat di seantero Sumatera, mulai dari para transmigran yang berasal dari Jawa, industri minyak dan gas, perang dan perikehidupan di Aceh, perihal suku Batak, suku Kubu, Mentawai, kuda batak, pembuatan jalan, marsose, upacara adat, gadis Minangkabau, sungai, danau, pelabuhan, rumah-rumah adat, dan seterusnya.

Buku Sumatraantjes disusun oleh HC Zentgraaft dan WA Van Gaudoever, diterbitkan di Belanda oleh Uitgeverij W.Van Hoeve, ‘s-Gravenhage. Diperkirakan buku tersebut diterbitkan awal dekade 1940-an karena Bentara Budaya mendapatkan buku edisi cetakan ke-5. Sayangnya, nama fotografer buku ini tidak diketahui. Sekalipun fotografernya tidak diketahui, namun hasil dokumentasi sang fotografer ini jelas menunjukkan betapa berjasanya sang fotografer.

Marsose, penjaga di Bivak Geumpang-Foto repro-A.Sartono

Melihat apa yang disajikan oleh Bentara Budaya berdasarkan materi yang ada pada sebuah buku lama, maka kelihatan betapa buku lama atau rekaman tentang masa lalu selalu penting untuk dikemukakan di masa kekinian. Boleh dikatakan bahwa hal ini menjadi semacam romantisme masa lalu. Namun tentu bukan semata-mata hal itu yang penting.

Informasi tentang sejarah masa lalu selalu penting untuk diketahui, dipelajari, diresapkan oleh generasi-generasi berikut agar mereka tidak melupakan sejarah. Tidak melupakan hubungan kausalitas masa lalu dan masa kini . Tidak hilang dan lepas dari jati diri sendiri. Ini merupakan bagian dari edukasi historikal sekaligus estetikal untuk terus mengisi kekosongan instrumen pembentuk jati diri, karakter, dan identitas bangsa yang berperadaban tinggi serta maju.

Sumatraantjes menyuguhkan dinamika kehidupan di pulau itu. Dengan menyimaknya kita menjadi mengerti mengapa kemudian ada program pemindahan sebagian penduduk Jawa ke Sumatera yang dilakukan oleh Belanda pada masa mekar dan jayanya pertanian tembakau di Deli, atau industri minyak di Palembang, misalnya. Hal ini kemudian juga berlanjut pada masa pemerintahan Orde Baru dengan program transmigrasinya.

Orang Batak dan Buku-buku Nujum-Foto repro-A.Sartono

Juga tentang perang, misalnya, Perang Aceh dan Perang Paderi, yang memerlihatkan kegigihan warga bumi putera menentang kolonialis Belanda. Pada sisi lain hal ini juga menunjukkan betapa ngototnya sang kolonialis untuk menaklukkan wilayah yang akan dikuasainya.

Pameran ini mengajak kita untuk lebih jeli dan peka melihat sejarah masa lalu, mengambil hikmahnya sebagai bekal ikhtiar menapaki masa depan yang lebih gemilang.

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here