Tiga mahasiswa Jurusan Seni rupa ISI Yogyakarta, yakni I Kadek Didin Junaedi, I Made Dabi Arsana, dan Dewa Gede Suyudana Sudewa, melakukan pameran karya mereka di Tembi Rumah Budaya mulai dari tanggl 21 Februari-8 Maret 2019. Ada pun tema pameran yang mereka usung adalah Good Day.

Good day, hari baik? Apa itu hari baik? Saatnya kapan? Perhitungannya dan rumusannya bagaimana? Dapat dipercayakah hasil rumusan dan hitungannya? Mungkin ketiga perupa tidak berkutat pada persoalan itu.

Bagi mereka hari baik adalah hari dimana mereka menyelenggarakan pameran itu. Kapan pun itu, sebab di dalamnya mereka telah menaruh harapan akan muncul atau hadirnya sesuatu yang baik atas karya (dan tentu saja, nasib mereka) kini dan kelak. Hari Baik atau Good Day barangkali bisa ditangkap sebagai doa dan harapan itu sendiri. Doa dan harapan bahwa setiap hari adalah baik jika tindakan atau kerja kita dilandasi dengan niat hati yang baik.

Kekang, 25 x 25 x 20 cm, fiber, iron, car paint, 2019, karya I Kadek Didin Junaedi-Foto-A.Sartono

Melalui karya rupa dengan objek utama kucing, Dabi Arsana ingin menegaskan bahwa kita tidak benar-benar tahu tentang apa yang melingkupi kehidupan manusia atau jagad raya ini. Misalnya apa yang terjadi dengan benda-benda yang kita tinggalkan di dalam rumah? Apa yang sedang diperhatikan oleh kucing ketika memandang dinding kosong? Ke mana perginya rembulan saat siang hari, dan seterusnya.

Dabi Arsana mendudukkan objek kucing kucingnya dalam keheningan (tanpa tuan). Baginya hal itu merupakan gambaran warisan kemisteriusan yang membawa semangat eksploratif bagi kehidupan. Eksplorasi Dabi mengajak orang untuk detail mendalami realitas. Realitas dalam bahasa Dabi adalah menyembunyikan sesuatu yang tidak diketahui.

Left Side, 50 x 50 cm, mix media on canvas, 2019, karya Dewa Suyudana Sudewa-Foto-A.Sartono

Didin Junaedi menampilkan karya patung dengan figur-figur menggelembung seperti balon. Pada beberapa karya figur yang menggelembung ini dia “ikat/jerat”. Hal ini menurutnya sebagai penyeimbang perkembangan zaman yang semakin modern di mana segala macam kebutuhan manusia dipenuhi oleh teknologi serta kehidupan yang konsumtif dan hedonis.

Konten Terkait:  Tidak Baik Bepergian Jauh pada Senin Legi

Hasrat pemenuhan kebutuhan hidup baik yang elementer maupun hedon terus menggelembung, memuai, melar, yang sesungguhnya tidak menghasilkan apa-apa kecuali kekosongan hati seperti kosong dan mengelembungnya sebuah balon tanpa isi kecuali angin.

Untitled, 35 x 30 cm, OOC, 2019, karya Dewa Gede Suyudana Sudewa-Foto-A.Sartono

Suyudana Sudewa mengagumi kerja otak yang terekspresikan melalui mimik wajah. Ia menggambarkan ekspresi wajah kiri dalam ketiga karyanya. Dari wajah itu pula semua orang bisa saling bertatap dan saling mengenali hingga detail-detailnya. Dari sana pula persahabatan dan cinta itu bisa bertumbuh. Dari sana juga kita bisa berbagi rasa.

Jika manusia menggunakan rasa-nya, tulis Huhum Hambilly dalam pengantar pameran ini, maka sesungguhnya dunia bisa jauh lebih tenteram. Ekspresi wajah juga akan semakin teduh tenang. Mungkin dengan jalan seperti itu dunia menjadi lebih damai. Tidak ada perang ataupun kekerasan. Demikian

(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here