Temanggung identik dengan tembakau, karena tembakau merupakan produk unggulan daerah dan banyak warga Temanggung yang berprofesi sebagai petani tembakau. Harga jualnya terbilang tinggi, terlebih apabila dapat menghasilkan tembakau Srinthil. Wilayah yang terkenal sebagai penghasil tembakau Srinthil adalah Desa Legoksari, Kecamatan Tlogomulyo.

Tembakau Srinthil dihasilkan dari daun paling atas dan biasanya dipetik paling akhir. Pada saat masih di pohon, tidak ada yang mengetahui lembaran daun tersebut akan menjadi Srinthil atau tidak. Baru diketahui setelah daun tembakau diperam, kemudian menjadi seperti membusuk berwarna hitam pekat seperti disiram madu, mengeluarkan aroma harum, tampak agak lembab tetapi tidak basah. Tembakau ini memiliki kadar nikotin lebih tinggi dibanding tembakau biasa, sehingga harga jualnya pun lebih tinggi.

Karena tidak semua daun tembakau menjadi Srinthil, bagi yang mendapatkan Srinthil merupakan pulung/wahyu atau keberuntungan tersendiri. Walaupun begitu petani tembakau Legoksari tetap mempunyai harapan agar tembakaunya ada yang menjadi Srinthil. Untuk mewujudkannya petani bekerja keras, telaten, selalu mengasah pengetahuan dan pengalaman.

Sebagai pulung maka ada empat hal yang harus dicermati ketika petani berharap tembakau yang ditanam menjadi Srinthil. Pertama, siti atau tanah. Tanah yang baik yaitu tanah regosol, berbutir kasar hasil letusan gunung api. Kedua, wiji atau benih/bibit. Berdasarkan kualitas dan pengalaman yang dipilih adalah jenis Kemloko 4 dan Kemloko 5. Bibit ini lebih tahan serangan hama dan potensi menjadi Srinthil juga lebih besar.

Ketiga, wanci atau waktu. Bulan April-Mei adalah waktu yang dianggap baik untuk mulai menanam, karena hujan mulai berkurang. Pengetahuan mengenai pranata mangsa juga mempunyai andil dalam keberhasilan penanaman. Keempat, wahyu/pulung/ndaru atau anugerah. Pulung ini bisa diterima oleh siapa saja dan datangnya juga tidak dapat diduga.

Selain itu sebagai rasa syukur dan doa permohonan, petani tembakau Legoksari mengadakan tradisi selamatan. Selamatan dimulai sejak akan menyiapkan lahan, awal pengolahan tanah, ketika akan memulai menanam, awal petik daun, pertengahan petik, saat akan merajang daun (memotong kecil-kecil) dan selamatan setelah proses penanaman dan pengolahan selesai.

Semua kegiatan di atas dilakukan dengan perhitungan-perhitungan tertentu yang sudah mereka yakini turun temurun. Mereka memperhitungkan hari-hari yang dianggap baik, dan menghindari hari-hari nahas yang dianggap kurang baik. Apa yang mereka lakukan adalah lambang hubungan yang harmonis dengan alam lingkungan, leluhur dan Tuhan. Bagi petani tembakau Legoksari keberhasilan yang diperoleh adalah karena “kekuasaan alam dan spiritual”.

Judul                 : Upacara di Lingkungan Petani Tembakau Srinthil Temanggung
Penulis              : Theresiana Ani Larasati, Christiyati Ariani, Wahjudi Pantja Sunjata
Penerbit             : BPNB, 2018, Yogyakarrta
Bahasa              : Indonesia
Jumlah halaman : XII + 105

Sampul buku Upacara Adat Petani Tembakau Srinthil di Temanggung

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here