Bagi pecinta musik rock di Yogyakarta, nama Rolland rupanya tidak dilupakan. Setelah 35 tahun absen dari pangung, grup musik rock yang mengusung heavy metal kembali pentas, Sabtu 23 Februari 2019 di panggung Kampanyo QT Square, Jl Veteran 150-151, Pandeyan, Umbulharjo, Yogyakarta.

Formasinya masih lengkap, Petrus sebagai vokal, Bento Jepang memetik gitar, Yoyok menabuh drum, Lugutz pada bas dan Ivan pada gitar. Tentu, penampilannya sudah berbeda dibandingkan awal mereka pentas tahun 1984.

Ketika itu para personelnya masih muda, bahkan Petrus sebagai vokal masih bersatus sebagai mahasiswa. Sebagai vokal, kostum yang digunakan Petrus, pada waktu itu masih sederhana, yakni menggunakan celana training, laiknya mau olah raga.

Rolland, pada waktu kelahirannya memang mengacu pada Judast Priest, dan ‘aliran’ metal menjadi rujukan pokok setiap kali pentas. Selama pertengahan dekade 1980, setidaknya dimulai tahun 1984, Rolland sering melakukan pentas, dan saya sering mengikuti di mana mereka pentas.

Semangat para pemain Rolland, pada waktu itu memang luar biasa. Semangatnya sungguh metal, lengkingan suara Petrus sangat kuat, seolah seperti hendak merobohkan panggung.

Petrus, vokalis Rolland, foto facebook Bento Jepang

Penampilan para personel Rolland, sebagai grup band anak muda pada pada waktu itu, bisa saling mengisi dan kompak, meskipun, saat itu terlihat bahwa Petrus seperti sedikit dominan, mungkin karena sebagai vokal seolah merasa ‘menentukan’ warna grup. Padahal, dalam grup musik semua saling mengisi, tak ada yang lebih unggul yang satu dari yang lain, justru karena saling mengisi, grup musik menjadi bertahan lama.

Rolland telah melahirkan beberapa album, di antaranya Gigolo dan Teror. Pada dekade 1980-an, Rolland seperti menjadi tanda dari grup musik rock di Yogya, setelah era 1970-an mulai mengendor. Sebelum Rolland grup musik ‘Ambisi’ menjadi tanda dari musik rock di Yogya.

Rupanya, setelah lama tidak terdengar, Rolland tidak hilang, kelompok ini masih ada, meskipun tidak lagi mengisi panggung-panggung musik rock. Setelah 35 tahun, Rolland kembali tampil. Untuk mengingatkan pada publik akan Rolland, tajuk dari pertunjukkan disebut sebagai Rolland Reborn.

Penampilannya setelah 35 tahun, hampir-hampir tidak berkurang semangatnya. Para personel usianya sudah tidak lagi muda, dan sudah ada yang memiliki cucu, tetapi semangat tidak kendor. Yoyok masih ketus dalam memukul drum, dan Petrus masih kenceng suaranya, seolah masih seperti ketika masih muda.

“Kita tidak akan pernah berhenti dari musik rock,” kata Petrus sangat yakin.

Rupanya, pengemar Rolland masih cukup banyak, sehingga penampilannya dihadiri oleh para penggemar musik rock, yang dulu, barangkali fans Rolland. Ketika penampil awal dari grup musik yang lebih muda mengisi panggung, dan beberapa grup saling berganti, pengunjung ada yang berteriak.

“Rolland, Rolland”

Padahal Rolland akan pentas sekitar pukul 22.00. Sejak pukul 20.00 group musik lain sudah pada tampil dan saling berganti.

“Sudah selesai groupmu,” tanya saya pada Bento Jepang gitaris Rolland, ketika saya datang menunjuk pukul 21.00.

“Belum, nanti jam 22.00 baru main,” jawab Bento Jepang.

Penampilam Rolland di pangguing, foto facebook Bento Jepang

Ketika Rolland tampil di panggung, pengunjung ada yang mulai berdiri di dekat panggung, seolah tidak ingin jauh dari Rolland. Lagu demi lagu, dengan irama keras, dibawakan oleh Petrus sebagai vokalis, dan pengunjung ikut menyanyi, sehingga terlihat Petrus nampak ‘ektase’.

Tidak ketinggalan, lagu dalam albumnya, ‘Gigolo’ dan ‘Teror’ dibawakan oleh Petrus, hadirin ikut menyanyikan. Rupanya, sudah sekian puluh tahun yang lalu, lagu-lagu Rolland masih dihafal, bukan hanya oleh Petrus sebagai vokalis Rolland, tetapi oleh para penggemarnya.

Di era serba digital ini, kita tahu setiap orang bisa memiliki perangkat HP yang terkoneksi dengan jaringan internet, orang bisa selfie dengan pemain musik secara langsung, seperti dilakukan Bento Jepang, ketika sambil memetik gitar dia melayani seseorang selfie bersamanya. Rasanya, ini sebuah pertunjukan yang akrab dengan penonton, satu hal yang tidak mungkin dilakukan pada pertunjukan 1980-an.

Dari pertunjukan perdana setelah lama tidak mengisi panggung, mudah-mudahan Rolland membawa kesegaran dalam pertunjukan, dan bersedia merespon dinamika zaman, sehingga tidak asyik terhadap dirinya. Karena di era digital, publik mudah berubah seleranya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here