Memperingati Tahun Baru Cina, warga Tionghoa di Yogyakarta selalu rutin menggelar perhelatan tahunan yang terangkum dalam Pekan Budaya Tionghoa Yogyakarta (PBTY). Bersamaan dengan tahun shio babi, warga Tionghoa meyakini independen, tulus, setia dan tegas merupakan filosofi yang dapat diambil di tahun ini. Berlangsung pada 13–19 Februari 2019, acara tersebut terpusat di Kampung Pecinan Ketandan Kota Yogyakarta.

Bersamaan dengan Imlek 2570, komunitas Jogja Chinese Art and Culture Centre (JCACC) merancang perayaan sedemikian rupa dengan harapan agar lebih meriah serta mampu menjadi tontonan menarik bagi warga. Salah satu yang paling ditunggu di acara ini adalah Malioboro Imlek Carnival yang terselenggara pada Sabtu, 16 Februari 2019 di sepanjang Jalan Malioboro.

Meski hujan deras mengguyur, semangat pesrta tak luntur. Tak kurang dari 31 tim turut memeriahkan karnaval yang dimulai dari Taman Parkir Abu Bakar Ali dan berakhir di Alun-Alun Utara. Seakan tak ingin kalah dengan para peserta, masyarakat yang memadati bahu jalan turut antusias menyambut iring-iringan selanjutnya.

Mengadopsi serial TV Kera Sakti, Biksu Tong dan para murid bergaya di depan kamera-foto-Indra

Tidak ketinggalan beberapa peserta dengan kostum karakter film serial Kera Sakti turut beraksi di sini. Alih-alih mencari kitab suci, Biksu Tong beserta ketiga muridnya Sun Go Kong, Pat Kai dan Wujing disibukkan dengan permintaan foto oleh para penonton.

Tak berhenti di situ saja, turut memeriahkan pula tiga naga yang menjadi icon pada karnaval tersebut, yaitu naga Hijau asal Magelang, Jawa Tengah, dengan panjang 90 meter. Kemudian Naga Yogya dengan panjang 165 meter, serta Naga Nusantara asal Tangerang, Banten, dengan panjang 67 meter. Aksi liak-liuknya selalu menyita perhatian dan membuat heboh penonton di sepanjang perjalanannya.

Megah dan gagah dengan aksi-aksinya yang selalu menjadi perhatian-foto-Indra

Kemeriahan memuncak, maka tak heran jika perhelatan PBTY menjadi salah satu tujuan yang layak direkomendasikan bagi wisatawan dalam maupun luar negeri. Hal itu terbukti dengan tercantumnya PBTY dalam kalender nasional sebagai salah satu agenda utama di Yogyakarta, terang Kepala Dinas Pariwisata DIY Singgih Raharjo, yang pada kesempatan tersebut mewakili Gubernur DIY Sri Sultan HB X.

Selalu ada tawa walau badan basah kuyup-foto-Indra

Ragam budaya, beragam pula penampilannya, membuat acara kian menarik serta kembali menekankan Yogyakarta sebagai kota istimewa. Selain tarian naga, beberapa penampilan lintas budaya turut menghiasi, seperti Tari Sufi, drumband Akademi Angkatan Udara hingga pentas kesenian dari berbagai perkumpulan masyarakat Tionghoa di Yogyakarta.

Pemaknaan tema yang diangkat tahun ini “Diversity in Harmony”, merupakan cermin keragaman budaya. Karena budaya kita dipersatukan, pun dengan budaya yang berbeda kita tetap satu bangsa Indonesia. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here