Menurut cerita, nama Bitung diambil dari nama pohon bitung atau witung (Oncosperma tigillarium syn. O filamentosum: Nibung) yang banyak tumbuh di wilayah utara Pulau Sulawesi. Warga yang pertama kali memberi nama itu adalah Dotu Hermanus Sompotan, dalam bahasa tradisional yang disebut Tundu’an atau pemimpin.

Sekitar tahun 1940-an, pengusaha perikanan di Laut Sulawesi tertarik dengan keberadaan Bitung daripada Kema (sekarang Kabupaten Minahasa Utara) yang dahulu merupakan pelabuhan perdagangan, karena mereka yakin Bitung lebih strategis dan bisa dijadikan pelabuhan pengganti Kema. Akhirnya, Berdasarkan Peraturan Pemerintah No 4/1975 tanggal 10 April 1975 Kota Bitung diresmikan sebagai kabupaten administratif pertama di Indonesia.

Kegiatan Pasar Ikan Pelabuhan Bitung, foto; Titien Natalia

Tembi berkesempatan mengunjungi Kota Bitung, Sulawesi Utara untuk menjelajahi dan menikmati 5 pesona kota penerima 13 penghargaan Adipura ini. Tiba di Bandara Sam Ratulangi, Manado kami melanjutkan perjalanan darat menuju Bitung yang ditempuh dalam 30-45 menit, namun jika macet perjalanan bisa sampai 1,5 jam.

Memasuki Kota Bitung, kami sempat melewati Patung Cakalang, ikan yang identik dengan Kota Bitung, karena di kota pelabuhan ini banyak terdapat pabrik pengalengan yang besar untuk mengolah daging cakalang dan tuna segar untuk diekspor. Sampai di Bitung dan setelah beristirahat, malamnya kami berkesempatan berbincang-bincang dengan Wali Kota Bitung, Max J Lomban di rumah dinasnya.

Hasil Tangkapan Nelayan di Pelabuhan Bitung, foto; Titien Natalia

Menurut Max, 5 pesona pariwisata Bitung berasal dari masukan teman-temannya, antara lain Sofyan Djalil dan Sony Sumarsono. Lima pesona tersebut adalah, Pesona Bahari, Pesona Flora dan Fauna, Pesona Industri, dan Pesona Sejarah, Budaya dan Religi.

Mengapa pesona Bahari menjadi pesona yang pertama, karena Bitung memiliki potensi kelautan dan bahari yang sangat besar, selain dikenal sebagai Kota Pelabuhan dengan pasokan ikan yang melimpah, keunikan dan keindahan alam bawah laut Bitung sudah terkenal sampai mancanegara.

“Ada kurang lebih 95 titik penyelaman (diving) yang berjejer rapih di seputaran Selat Lembeh dengan surga para criters dan biota laut yang unik, kalau mau cari keindahan alam bawah laut silakan ke Bunaken, tapi kalau mau cari yang unik-unik ada di Lembeh,” paparnya.

Keindahan Selat Lembeh Bitung, foto; Titien Natalia

Selain titik-titik penyelaman, Bitung memiliki wisata pantai berpasir putih dan berpasir hitam, juga pantai dengan bebatuan koral dan kerikil hitam. Tembi berkesempatan menjelajahi beberapa pantai di Bitung, antara lain Pantai Kahona, dan Pantai Kanada yang sangat terjaga kebersihan dan keindahannya.

Pesona berikutnya, yaitu Pesona Flora dan Pesona Fauna. Bitung memiliki sejumlah gunung antara lain Gunung Kelabat, Gunung Dua Saudara dan Gunung Batu Angus, juga kawasan hutan lindung dengan pesona flora dan faunanya. Di dalam Cagar Alam Tangkoko, ada beberapa jenis hutan, antara lain hutan pantai, hutan lumut, dengan beberapa pesona floranya, Coro (Ficus Septica), Ares (Duabanga Moluccana), mangga hutan (Buchanania Arborecens) dan lainnya.

Max menambahkan, Cagar Alam Tangkoko merupakan rumah bagi spesies-spesies endemik seperti yaki pantat merah, jenis primata yang memiliki pantat berwarna merah. Yaki menjadi primadona perlindungan satwa karena langka dan terancam punah.

Ada juga si mungil tarsius, jenis primata terkecil di dunia, dengan ukuran badan 15-15 cm dan berat 80 gram. Hewan ini hanya beraktivitas di malam hari karena itu lumayan sulit untuk menemukan keberadaannya ketika berwisata di Hutan Tangkoko. Selain jenis primata tersebut, ada juga kuskus, anoa dan burung maleo yang hidup damai di Cagar Alam Tangkoko.

Mesjid Tertua di Bitung, foto; Titien Natalia

Pesona selanjutnya adalah Pesona Industri. Saat ini ada 7 pabrik ikan dan 53 unit pengolahan yang ada di Bitung. Industri ini diubah menjadi sebuah destinasi, sehingga turis bisa datang untuk melihat proses penangkapan ikan, pengolahan, pengalengan, hingga pemasarannya. Bitung juga memiliki empat pabrik minyak terbesar di Indonesia, yakni minyak sawit dan kelapa. Sebut saja merek Bimoli. Asal Bimoli dari Bitung yang mana “Bimoli” merupakan singkatan dari Bitung Manado Oil.

Pesona kelima adalah Pesona Budaya, Sejarah dan Religi. Bitung memiliki masyarakat yang majemuk dengan kebudayaan multietnis dan agama. Kerukunan dan toleransi di Bitung sangat tinggi, sehingga tak sedikit masjid dan gereja bersebelahan. Masjid Jami’ An-Nur merupakan masjid tertua di Bitung, yang dibangun pada tahun 1940. Sampai saat ini masjid tersebut masih berdiri kokoh.

Pantai Kohana Yang Indah di Bitung, foto; Titien Natalia

Selain itu sejak zaman dahulu Selat Lembeh sudah menjadi penghubung perdagangan kapal-kapal dari Eropa, ada juga Tugu Trikora yang pernah menjadi tempat konsolidasi logistik. Dibangun pada akhir tahun 80-an untuk mengenang Operasi Trikora (pembebasan Irian Barat) yang menjadikan Bitung sebagai salah satu posko.

Tugu Trikora terdiri atas tiga menara dengan satu tugu yang paling tinggi di tengah. Menara tersebut terlihat gagah menjulang di Pulau Lembeh, bahkan terlihat dari Pelabuhan Bitung. Terdapat pula saksi sejarah Trikora berupa sebuah pesawat DC-3 yang diletakkan di sisi monumen.

Tugu Trikora, foto; Titien Natalia

Tempat bersejarah lain yang dinilai penting adalah Tugu Jepang. Tugu ini didirikan atas kerja sama pemerintah Jepang dan Pemerintah Sulawesi Utara dan Kota Bitung. Berbentuk monumen batu yang mengerucut ini dimaksudkan untuk memperingati tewasnya tentara Jepang di Bitung pada saat Perang Dunia ke II. Tugu ini terletak di wilayah Kelurahan Tanjung Merah, Kecamatan Matuari. Akses menuju Tugu Jepang juga sangat mudah dijangkau.

Sayang tugu tersebut kurang terawat, bahkan ada tugu yang terbelah. Konon menurut masyarakat sekitar, pernah ada isu bahwa di dalam tugu tersebut terdapat lempengan emas. Masyarakat pun berduyun-duyun memecahkan tugu batu tersebut. Hasilnya tidak ada emas, hanya merusak keindahan Tugu bersejarah tersebut.

Tugu Jepang yang Terbelah, foto; Titien Natalia

Satu lagi tempat kunjungan adalah Patung Tuhan Yesus di Kelurahan Dorbolaang, Lembeh Selatan. Patung setinggi 35 meter ini berdiri megah di atas bukit hingga pemandangan sekitar sangat indah ke arah selat Lembeh dan Gunung Duasaudara. Kabarnya patung yang diadaptasi dari Patung Yesus di Brazil itu lebih tinggi dari yang ada di Christ the Redeemer, Rio de Jeneiro, Brazil.

Tentu masih banyak tempat wisata bersejarah lain, hanya saja Tembi tidak bisa menjelajahi satu persatu mengingat waktu yang sangat terbatas. Semua keunggulan pesona Kota Bitung akan digunakan untuk memajukan pariwisata di Bitung.

Pelabuhan Bitung, foto; Titien Natalia

“Pertumbuhan ekonomi di Bitung dulu 7,2 persen di 2014, kemudian turun 3,56 persen di 2015. Kini sudah naik lagi ke 6 persen berkat pariwisata,” tutur Max. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here