Menikmati karya-karya Amin Taasha, pria kelahiran Bamiyan, Afghanistan, yang dipamerkan di Red Base Gallery, Jurug, Bangunharjo, Sewon Bantul, mengingatkan orang pada seni budaya dari sebuah negeri yang selama ini dalam keadaan tidak menentu. Negeri yang di masa lalu pernah menghasilkan zaman keemasan seni klasik, yakni di zaman Kerajaan Khusan yang juga disebut sebagai Zaman Gandhara yang berlangsung berabad-abad, dari abad 1-7 SM.

 

Setelah itu, pada abad ke-16-16 Masehi, Afghanistan mengalami zaman kejayaan Seni Miniatur dengan senimannya yang paling terkenal adalah Behzad. Gaya baru lukisan miniatur dikembangkan di Herat, Afghanistan Barat. Tantangan kehidupan kota dan budaya feodal dari Herat menciptakan kebutuhan yang membuat seni ini berkembang.

 

Karya seni miniatur ini terinspirasi oleh kisah-kisah kepahlawanan, perjuangan sosial, romansa, kerohanian, peperangan, kehidupan pengadilan, serta kondisi ekonomi dan politik dalam kehidupan sehari-hari pada saat itu, dengan pengaruh terbesar berasal dari sastra dan puisi. Pameran ini mengambil budaya dan seni yang terus berubah dari suatu negeri yang mengembangkannya, melintasi batas pikiran untuk menemukan cakrawala dan perspektif baru.

Karya instalasi Amin Taasha tentang patung Budha yang hancur-Foto-A.Sartono

Sementara itu kekejaman sehari-hari mengambil korbannya, namun masih ada keindahan yang dapat ditemukan, kemenangan-kemenangan kecil dalam sisi kemanusiaan dan alam yang terukir di kalender abadi. Itulah sebagian besar inspirasi karya Amin Taasha.

 

Tidak mengherankan juga jika Amin Taasha menampilkan seni instalasi berupa pemutaran video yang dikemas sedemikian rupa. Sorot rekaman video ia buat untuk tampil dalam bingkai bundar di lantai. Bingkai “semu” itu ia buat dengan menaburkan tanah sebagai media pembatas sorot video.

Amin Taasha dengan latar belakang karya-karya yang dipamerkannya-Foto-A.Sartono

Video itu berisi rekaman suasana, peristiwa, dan hal-ihwal tentang Afghanistan yang pada banyak sisi mencerminkan ketidakpastian hidup, kekerasan, keputus-asaan, namun pada sisi lain juga menyuguhkan keindahan Afghanistan sebagai salah satu negara yang dilewati Jalur Sutera yang legendaris. Jalur niaga utama dunia ini pada banyak sisi telah membawa pengaruh sosial, politik, ekonomi, dan budaya pada Afghanistan di masa lalu (dan mungkin hingga kini).

Konten Terkait:  Pameran Kriya, Waktu, dan Jati Diri

 

Fenomena di atas disampaikan Amin Taasha dalam karyanya dengan konsep seperti “story telling”. Karakter-karakter bersejarah dan figur-figur sehari-hari di sekitar budaya negara asal diadaptasi dimana setiap figur menceritakan ceritanya sendiri sebagai bagian dari narasi yang kompleks.

 

Figur-figur tersebut kadang menjadi metafora seperti burung gagak dan kuda sebagai refleksi pergolakan di dalam diri atau ancaman bahaya yang dihadapi sehari-hari. Tidak heran jika kemudian karya-karya Amin Taasha selalu bertaburan figur kuda dan burung gagak. Baik di dalam bingkai karya lukisannya atau di luarnya. Baik dalam seni instalasinya atau bahkan hanya digeletakkan begitu saja di depan pintu ruangan, di dinding, di tiang, di lantai, atau di manapun.

 

Kuda dan burung gagak bagi Amin adalah simbol pergerakan atau mobilitas manusia dengan alam pikiran dan tujuannya sendiri-sendiri. Masing-masing orang bisa sama atau tidak sama sekali. Semua sah-sah saja. Burung gagak boleh jadi menjadi simbol kekelaman, kematian, ketakutan, dan misteri. Akan tetapi kehadirannya adalah begitu penting karena ketika tidak ada kekelaman tentu tidak ada pula kecerahan, jika tidak ada kematian juga tidak akan ada kehidupan. Jika tidak ada ketakutan juga tidak ada keberanian. Jika tidak ada misteri juga tidak akan ada kejelasan.

Still Far, watercolor, acrylic, ink, gold and silver on paper (mounted), 45 x 120 cm, 2018, karya Amin Taashar-Foto-A.Sartono

Masing-masing punya perannya. Manusia tinggal memilihnya. Mau di sini atau di sana. Mau begini atau begitu. Mau jadi ini atau jadi itu semua tergantung masing-masing individu dengan segala risikonya. Pada sisi-sisi itu manusia selalu butuh jeda waktu untuk berpikir, merenung, dan menentukan langkah hidupnya. Demikianlah pameran Time Lapse karya Amin Taasha di Red Base, Jurug, Bangunharjo, Sewon, Bantul mulai 13 Februari-13 Maret 2019. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here