Negara Hastina yang dijanjikan Destarastra akan dikembalikan setelah Pandawa dewasa hanya tinggal janji. Dengan alasan, jika Hastina seutuhnya diberikan kepada Pandawa, lalu bagaimana dengan 100 anaknya. Akan tinggal di manakah mereka? Maka kemudian ditawarkan bagaimana jika Pandawa mendapat separuh dan Kurawa separuh. Ya sudahlah, dengan legawa Kunti pun mengalah menerima separuh negara Hastina, mewakili anak-anaknya yang tidak pernah memprotes ibunya.

 

Mendapat separuh Negara Hastina. Separuh yang mana? Para tetua pun akhirnya angkat bicara. Jangan beteng dan bangunan kerajaan yang dibelah, karena hal tersebut akan berakibat apes, negara bakal mengalami kehancuran, tetapi yang dibagi adalah bumi Hastina. Dengan demikian ada separuh bumi tanpa bangunan, masih berupa hutan, dan separuh bumi penuh bangunan yang disebut kota raja.

 

Tentu saja Pandawa yang dikalahkan, karena dianggap belum berpengalaman mengelola kota raja. Maka diputuskan oleh Raja Destarastra dan tetua negeri termasuk Resi Bisma, bahwa janda Prabu Pandu mendapat separuh bumi Hastina yang masih berupa hutan, Wanamarta namanya. Dengan demikian laku sengsara yang diderita Kunthi dan kelima anaknya dan Drupadi menantunya masih harus dilanjutkan.

 

Dalam hati Kunti berjanji akan menjalaninya dengan ikhlas. Karena ia percaya laku sengsara ini adalah sarana untuk mendapatkan anugerah yang telah disiapkan. Ia teringat ketika menjalani laku sengsara setelah lolos dari tragedi Bale Sigala-gala, Bima mendapat anugerah Dewi Nagagini di Saptapertala dan Dewi Arimbi di Pringgandani dan Puntadewa mendapat anugerah Dewi Durpadi di Pancalaradya. Ia berharap agar laku sengsara di Wanamarta ini juga akan mendatangkan anugerah yang bermanfaat bagi banyak orang.

 

Wanamarta, adalah sebuah hutan yang masih perawan. Belum ada manusia yang berani menjamah hutan tersebut, karena sangat angker. Sato mara sato mati, Jalma mara keplayu, yang artinya hewan yang masuk akan mati dan manusia yang berani masuk akan lari tunggang langgang.

 

Tekad bulat Kunti dan Pandawa meniadakan serta meyingkirkan bayangan-bayangan yang menakutkan. Bebarengan dengan merekahnya Matahari, Kunti bersama kelima anaknya dan Drupadi menantunya, membuka jalan yang penuh dengan onak dan duri untuk menuju Wanamarta.

 

Kabar perihal angkernya Wanamarta bukanlah isapan jempol. Di tengah perjalanan mereka menyaksikan hal-hal gaib. Bagaimana tidak, jalan setapak yang mereka buka untuk dilalui menutup kembali pulih. seperti sediakala. Kunthi dan Pandawa pun terjebak di tengah hutan gung liwang-liwung.

 

Demikianlah peristiwa gaib itu terus berulang. Setiap kali tanaman perdu dibabat dan semak-semak duri disingkirkan, keadaannya akan pulih kembali sebelum mereka jauh meninggalkan tempat itu.

 

Kunthi cemas dan khawatir, Nakula dan Sadewa takut, Bima marah. Arjuna bergejolak dan Puntadewa merasakan kesedihan yang teramat dalam karena mengajak Drupadi dalam jalan derita. Sedangkan Drupadi diam seribu bahasa, tak ada seorang pun tahu apa yang dirasakan wanita tercantik putri Raja Pancala itu. Dalam suasana yang demikian itu, mereka tetap berusaha membuka jalan. Tetapi mereka bingung, dan kehilangan arah. Tidak tahu harus ke mana kaki melangkah.

 

Angin pun semilir bertiup. Sinar matahari tidak lagi menembus hutan, pertanda bahwa hari sudah berada di ujung senja. Langit pun dengan cepat menjadi gelap. Bayangan hitam pepohonan yang bergerak pelan ditiup angin laksana para raksasa yang sedang bercengkrama. Kunthi menghendaki agar perjalanan dihentikan.

 

Tidak beberapa lama kemudian, terdengar suara orang-orang membuka jalan seperti yang dilakukan Pendawa sebelumnya. Semakin lama suara itu semakin jelas. Ada cahaya obor yang sinarnya menembus pepohonan. Jumlahnya cukup banyak, mereka mendekati Pandawa. Bima dan Arjuna siap waspada menghadapi segala kemungkinan.

 

Namun sebentar kemudian mereka menjadi lega. Setelah salah satu di antaranya yang adalah pimpinan orang-orang pembawa obor itu maju mendekati Bima dan Arjuna seraya memberi hormat. Ternyata mereka adalah prajurit Hastina yang diperintahkan oleh Resi Bisma untuk mengawal dan membantu kerepotan Pandawa.

 

Malam itu, Kunthi, Durpadi dan Pandawa boleh sejenak menghilangkan rasa cemas dan khawatir. Para prajurit dengan sigapnya telah mempersiapan apa yang dibutuhkan Kunthi, Durpadi dan kelima Pandawa, yang meliputi tenda, makanan serta kebutuhan lainnya.

Waktu merambat pasti. Lintang Gubuk Penceng sudah mulai bergeser di tengah, pertanda paruh malam telah tiba. Saat semuanya nyenyak dalam tidur, prajurit yang bertugas jaga melihat bayangan berkelebat memasuki perkemahan Pandawa untuk kemudian keluar meninggalkan perkemahan, hilang ditelan gelapnya malam dan lebatnya hutan. Gerakannya sangat cepat, tidak meninggalkan suara, sehingga prajurit jaga yang bertugas hanya melongo. Tidak tahu apa yang dilakukan bayangan tersebut.

 

Semua orang baru tersadar ketika pagi tiba. Termasuk prajurit yang bertugas jaga. Arjuna hilang dari perkemahan. Karuan saja suasana menjadi tegang dan cemas terlebih Ibu Kunthi. Dengan tergopoh-gopoh prajurit jaga menceritakan kejadian semalam. Jika Arjuna yang sakti saja dapat dibawa dengan tanpa suara dan tanpa perlawanan, dapat dibayangkan tentunya seberapa tinggi kesaktian orang yang mampu melakukannya.

 

Hilangnya Arjuna telah mematahkan semangat para Pandawa. Sebelum Arjuna ditemukan kembali, mereka tidak mau beranjak dari tempatnya untuk melanjutkan membabat hutan Wanamarta. Kunthi pun segera memerintahkan Bima untuk mencari Arjuna sampai ketemu.

 

Walaupun masih terheran-heran memikirkan hilangnya Arjuna, Bima pun segera melompat pergi meninggalkan tempat itu, untuk memberikan kelegaan kepada Ibu Kunti yang sangat ia junjung tinggi. Sesampainya di pinggir hutan, Bima kebingungan, ia tidak tahu harus pergi ke mana untuk menemukan Arjuna.

 

Dalam kebingungannya Bima ditemui oleh sosok gandarwa, manusia setengah raksasa yang tiba-tiba muncul dari gelapnya malam. Ia mendekati Bima dan memperkenalkan diri bernama Anggaraparna, pembantu Batara Kwera, dewa kekayaan. Dengan penuh kecuriagaan Bima menanyakan maksud kedatangannya. Anggaraparna mengaku sebagai sahabat Arjuna. Ia mendapat pesan gaib bahwa Arjuna dalam kesulitan di Wanamarta. Maka ia datang untuk menolong.

 

Bima masih meragukan maksud baik Anggaraparna. Malahan ia mencurigai Anggaraparnalah yang telah menculik Arjuna.

 

“Hei Anggaraparna! Namaku Bima kaka Arjuna. Apakah kamu tidak tahu atau berpura-pura tidak tahu kalau adikku hilang diculik orang?”

 

“Bima, aku tidak tahu siapa penculiknya dan di mana sekarang ia berada, tetapi aku tahu bahwa Arjuna baik-baik saja, tidak kurang suatu apapun. Oleh karenanya Arjuna tidak perlu dicari Ia akan segera kembali ke Wanamarta untuk meneruskan membuka hutan. Aku mendapat bisikan pameling bahwa Arjuna menemui kesulitan di Wanamarta, bukan di tempat lain, maka aku akan ke Wanamarta. Sebaiknya ayo kita kembali ke Wanamarta, di sana Ibu dan saudara-saudaramu sangat membutuhkan pertolongan”. (bersambung)

Anggaraparna menemui Bima

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here