Seni rupa memiliki ruang yang begitu luas dan terbuka untuk dieksplorasi. Bahkan bisa dikatakan tidak terbatas. Art Respons yang disuguhkan Moch Basori dalam pameran tunggalnya di Bentara Budaya Yogyakarta yang dibuka oleh dr Oei Hong Djien (OHD), Selasa malam 19 Februari 2019 seolah menegaskan akan hal itu. Bahkan apa yang disebut sebagai art respons seperti yang dimaksud Moch Basori juga dituangkan dalam bentuk pelukisan tubuhnya oleh OHD dan sekian seniman yang hadir malam itu.

Basori membuka tubuhnya untuk digunakan sebagai media ekspresi seni dari sekian seniman dan OHD, dan hasilnya memang tidak terduga. Kulit Basori seakan menjadi kanvas yang menginspirasi perupa untuk menuangkan ekspresi visualnya di sana sesuai dengan cuatan gagasan saat itu juga.

Apa yang terjadi dengan Moch Basori dalam pembukaan pamerannya sesungguhnya juga menunjukkan bahwa seni rupa memang memiliki ruang terbuka yang nyaris tanpa batas untuk dieksplorasi. Moch Basori juga merespons iringan musik di atas panggung dengan cetusan ekspresif karya rupanya pada sebuah kanvas. Pada sisi ini seolah Moch Basori hendak dan bahkan berhasil menangkap komposisi, aransemen, nada, irama, dan seluruh komponen bunyi musik ke dalam sebidang kanvas melalu teknik dan gerak ekspresifnya.

Nasirun melukisi tubuh Moch. Basori dalam pembukaan pameran Art Respons di BBY-Foto-A.Sartono

Apa yang diungkap dan disuguhkan Moch Basori ini semacam mengembalikan naluri kesadaran dalam kebudayaan yang paling purba, dimana kita menyaksikan karya-karya rupa manusia purba seperti yang terlihat di Gua Leang-leang Sulawesi atau di Gua Port d’Arc Prancis (yang berusia 36 ribu tahun).

Mereka merespons ruang dan media apa saja termasuk dinding-dinding gua atau juga tradisi totem di Amerika dan juga Suku Asmat, Papua yang memahat dan melukis kayu, kulit kayu dalam kontes tata nilai dan moral tertentu dalam bingkai kesadaran nalurih terhadap yang transenden-metafisik, yang etis dan estetis.

Art Respons dengan demikian merupakan lanskap terbuka bagi semua kemungkinan untuk menghadirkan ekspresi etis maupun estetis melalui pelabagai bahan atau media. Art Respons yang dikemukakan sebagai ide ini adalah bermakna menjawab semua keinginan etis dan estetis melalui semua bahan berbentuk yang sudah ada dan bahan mentah yang tersedia.

Semua bahan yang teronggok atau terpampang dengan demikan bagi Art Respons belum selesai dan pantas untuk terus menjalani proses dialektika artitstik secara terus selama ia bersedia untuk itu. Demikian seperti yang dikemukakan oleh Ranang Aji SP dalam pengantar bagi pameran ini.

Rumah Tebing, 100 x 100 cm, ram aluminium, resin, cat akrilik, 2004, karya Moch. Basori-Foto-A.Sartono

Moch Basori memang telah cukup lama menekuni “sampah” atau barang bekas sebagai media atau materi bagi karya rupanya. Tidak heran jika OHD dengan berseloroh mengatakan bahwa Moch.Basori pasti dimangkeli para pemulung karena kehadirannya menjadi pesaing utama bagi mereka.

“Oleh karena itu kita tidak perlu bingung-bingung membuang sampah sekarang. Berikan saja pada Basori, semuanya selesai dan bahkan akan menjadi karya yang indah,” Seloroh OHD dalam sambutannya.

Tidak aneh juga jika di dalam pameran Art Respons ini pengunjung akan menemukan aneka ragam karya dengan berbagai bahan yang paling terbuang sekalipun di lingkungan kita. Ada kertas, tatakan makanan kecil, bingkai foto, kayu, besi, manekin, botol, kain perca, dan sebagainya.

Gembira, 40 x 28 cm, cat akrilik di atas kanvas, 2017, karya Moch. Basori-Foto-A.Sartono

Di tangan Moch Basori semua itu menjadi entitas karakter yang berbeda. Sebagai karya dalam konteks nilai kebudayaan karya-karya Moch Basori memiliki fungsi etis yang merupakan wujud dari kehendak kegunaan dan sekaligus estetika yang merupakan ekspresi dan representasi pengalaman batinnya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here