Perupa Hari Budiono menyelenggarakan pameran yang bertajuk “Jangan Takut Memedi sawah” di Bentara Budaya Jakarta, mulai Kamis, 14 Februari hingga 23 Februari 2019. Memedi sawah atau orang-orangan sawah berfungsi mengusir burung pipit pemakan padi.

Namun, makna atau tujuan memedi sawah dalam pameran ini berbeda. Menurut Hari, sawah adalah perumpamaan dari suatu ekosistem yang harus dijaga dari gangguan. Namun pada saat menyelamatkan acapkali terlihat sang penjaga inilah yang justru menjadi pengganggu dalam suatu lingkungan.

“Memedi sawah membuat kita saling curiga, saling membenci, saling tak mendukung, selalu menang dan benar sendiri, sehingga kita menjadi manusia intoleran,” kata Hari Budiono, perupa yang berdomisili di Yogyakarta.

Hari Budiono (Kiri), Inayah Wulandari Wahid (Tengah), dan Romo Shindunata sedang berswafoto bersama di depan lukisan berwajah Inayah Wahid. foto; Baharudin Al Farisi

Kurator Pameran, Romo Shindunata menjelaskan, pesan yang ingin disampaikan dalam pameran “jangan Takut Memedi Sawah” ini ialah memedi sawah bukan lagi orang-orangan yang dibuat untuk menakut-takuti burung pipit pemakan padi di sawah, melainkan manusia-manusia yang kini di mana-mana menakuti sesamanya. Jelas memedi sawah adalah simbol yang memadatkan pengalaman ketakutan yang sedang mencekam banyak warga di tahun politik 2019 ini.

“Memedi sawah tampil kapan saja, di mana saja, dalam berbagai ekspresinya: teror, kampanye politik yang membakar, kabar bohong, fitnah, hasutan, intoleransi, dan kekerasan. Nyaris tak ada wilayah yang tak bisa dimasukinya. Media sosial sudah dijadikan koloni ketakutannya. Bahkan memedi sawah bisa menyusup masuk ke dalam kealiman dan kesalehan agama. Di bawah kesalehan agama, ia bisa memaksakan kebenaran yang mutlak. Jika kebenarannya sendiri telah menjadi mutlak, maka kebenaran lain hanya ada untuk ditiadakan dan dilindas,” ungkap Romo Shindu.

Karya Hari Budiono dengan tokoh gambar Agus Rahardjo dan Najwa Shihab. foto; Baharudin Al Farisi

Untuk mengimajinasikan ketakutan yang ditimbulkan oleh memedi sawah itu, Hari Budiono menampilkan beberapa lukisan. Di antaranya adalah manusia bertopeng.

“Manusia ini mempunyai banyak topeng, yang rupanya tenang, sabar, bijak, sampai yang alim. Ia bisa berganti-ganti topeng, sesuai dengan kebutuhan dan situasinya. Namun kali ini ia mengenakan topeng yang menakutkan, maklum tahun ini ketakutan paling laku dijual di pasar,” tambah Romo Shindu.

Perupa Pameran, Hari Budiono memeberi sambutan dalam acara pembukaan pameran Jangan Takut Memedi Sawah foto; Baharudin Al Farisi

Dalam pameran kali ini menampilkan satu karya instalasi dan delapan lukisan. Karya instalasi yang bertajuk “Jangan Takut Memedi Sawah“ terdiri dari 100 orang-orangan sawah yang memegang lukisan wajah tokoh yang sedang tertawa dan syair lagu Ibu Pertiwi. Ini dimaknai sebagai melawan teror yang dilakukan oleh para memedi sawah.

Kurator Bentara Budaya Jakarta, Efix Mulyadi mengatakan, langkah yang diambil Hari Budiono sangat kreatif. Hal ini. lanjut Efix, dapat ditiru sebagai upaya untuk meruwat kehidupan bersama, yang terus terancam oleh memedi-memedi sawah masa kini, yang bermunculan dari semua penjuru di Indonesia.

“Langkah kreatif Hari Budiono ini dapat ditiru sebagai upaya untuk meruwat kehidupan bersama, yang terus menerus terancam oleh memedi sawah masa kini, yang bermunculan dari semua penjuru,” ujar Efix Mulyadi, kurator Bentara Budaya. Sementara 8 lukisan yang dipamerkan mengambil tema kritik sosial.

Pengunjung dalam pembukaan pameran “Jangan Takut Memedi Sawah” sangat kagum dengan hasil karya Hari Budiono. Hal itu terlihat dari raut wajah mereka. Banyak pengunjung yang mengabadikan momen di dalam ruang pameran untuk disebarluaskan ke media sosial mereka masing-masing.

Salah seorang pengunjung mengungkapkan kekagumannya. “Selama saya mengunjungi pameran-pameran, baru kali ini melihat pameran yang memiliki konsep yang sangat kreatif, dan pesan yang ingin disampaikan oleh perupa benar-benar sampai ke orang yang mengunjungi pameran ini. Apresiasi yang sangat luar biasa untuk Mas Hari Budiono,” ungkap Mia Miranda.

Suasana Pameran yang bertajuk Jangan Takut Memedi Sawah foto; Baharudin Al Farisi

Pameran “Jangan Takut Memedi Sawah” yang dibuka oleh Putri bungsu Presiden RI ke-4 Abdurrahman Wahid (Gus Dur), Inayah Wulandari Wahid, akan berakhir pada 23 Februari 2019. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here