Foto ini adalah salah satu model warung/kios di Jawa pada masa menjelang abad ke-20. Warung dibangun dengan bahan utama gedhek (anyaman bambu) dan kerangka bangunan juga dari bambu. Pintu warung pun dibuat dari bahan bambu demikian juga pagar.

Tali pengikat untuk menggantungkan dagangan umumnya juga terbuat dari bahan bambu atau ijuk. Terlihat bahwa peran dan guna bambu pada masa itu demikian dominan dalam kehidupan masyarakat Jawa (Nusantara). Oleh karena itu pula pada masa itu dan sebelumnya bambu menjadi salah satu komoditas tanaman yang penting.

Pembeli yang datang ke warung itu mengenakan busana tradisional yang menjadi busana harian untuk perempuan pada waktu itu. Foto ini, yang bersumber dari buku karya KT Satake (Camera-Beelden van Sumatra, Java & Bali, Middlesbrough: Hood & Co.Ltd, 1935), diambil di wilayah kebudayaan Sunda.

Nuansa kehidupan masyarakat kala itu tergambar dalam kegiatan ekonomi warung gedhek tersebut. Pada sisi kanan dapat dicermati seorang pembeli (perempuan) yang membawa barang belanjaannya diletakkan di atas kepalanya (seperti cara perempuan Bali) tanpa harus memeganginya, namun belanjaan itu tetap stabil (tidak jatuh).

Dagangan yang dijajakan di warung itu juga menunjukkan kebutuhan/keperluan masyarakat (Sunda) pada masa itu. Hal yang cukup menonjol seperti yang tampak dalam foto itu adalah payung kertas yang digantungkan, toples kaca untuk menempatkan jenis-jenis makanan (kue, kembang gula, makanan kering, dan lain-lain), ada pula bakiak yang terbuat dari kayu yang cara memajangnya cukup digantungkan seperti cara menggantung payung kertas.

Selain itu, ada pula beberapa gambar di sisi kiri yang ditempelkan di dinding bambu. Kemungkinan besar gambar-gambar tersebut adalah kalender yang juga dijajakan di warung itu. Pada sisi tengah dalam (gambar kurang jelas) tampak deretan botol kaca. Di sisi kiri dekat kalender ada benda yang disusun dari atas ke bawah, kemungkinan besar adalah lampu minyak yang juga dijual di warung itu.

Konten Terkait:  Mengenal Aneka Dramatari di Indonesia

Tampaknya warung berdinding gedhek dalam foto tersebut ingin dapat menjajakan semua bahan yang dibutuhkan masyarakat waktu itu. Kalau dilihat dari kaca mata sekarang mungkin warung tersebut hendak menghadirkan diri sebagai semacam toko serba ada. Barangkali beberapa dari kita masih ingat model-model warung semacam itu nun di masa lampau. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here