Tidak banyak masyarakat yang tahu, kapan lambang negara Garuda Pancasila lahir. Ternyata, untuk melahirkan lambang tersebut membutuhkan proses yang sangat panjang, yang dikerjakan oleh sebuah panitia yang dipimpin oleh Ki Hajar Dewantara dan Mohammad Yamin.

Panitia tersebut, Panitia Indonesia Raya (PIR) dibentuk pada Juli 1945, dengan tugas menyelidiki sejarah arti lambang-lambang, bendera merah putih, mitologi, simbologi, arkeologi, kesusasteraan yang berkait dengan burung garuda dan simbol-simbol lain dalam peradaban bangsa Indonesia. Pada tahun 1947 PIR menghasilkan 12 rancangan lambang negara. Tetapi, Pemerintah menilai belum ada satu pun yang “tepat”.

Kemudian pada tanggal 10 Januari 1950, dalam sidang kedua Kabinet Republik Indonesia Serikat (RIS), dibentuklah Panitia Lencana Negara yang bertugas menyeleksi rancangan lambang negara. Panitia tersebut diketuai oleh Prof Dr Moh Yamin (anggota DPR Parlemen RIS).

Lambang burung Garuda tahap akhir yang ikut dipamerkan di Diskominfo DIY-foto-suwandi

Sebagai ketua, Moh Yamin mencoba membuat rancangan awal lambang negara Republik Indonesia, dengan memasukkan unsur-unsur matahari, banteng, sejenis pohon kelapa, dan air. Namun sayang, rancangannya tersebut ditolak oleh Pemerintah dan DPR.

Ganti giliran Sultan Hamid II yang menawarkan rancangan dengan figur Garuda. Rancangan ini telah mendapat masukan dari Ki Hajar Dewantara dan Moh Yamin. Dari situlah kemudian rancangan itu yang telah ditambahkan dengan simbol kelima sila Pancasila terbentuk. Pada tahap ini lambang negara telah berbentuk burung Garuda yang perisainya dipegang oleh tangan Garuda berfigur manusia burung.

Dialog intensif antara Sultan Hamid II dengan Perdana Menteri Mohammad Hatta dan Presiden Ir Sukarno juga menyepakati pita merah putih yang dicengkeram burung Garuda diganti dengan tulisan “Bhinneka Tunggal Ika”.

Panitia Lencana Negara yang diketuai oleh Sultan Hamid II dalam pameran Museum Rumah Garuda-foto-suwandi

Sayangnya, pada forum rapat Panitia Lencana Negara tanggal 8 Februari 1950, desain itu mendapat penolakan dari Mohammad Natsir karena dianggap terlalu feodal dan mitologis. Lalu Sultan Hamid II mengambil inisiatif untuk mengubah Garuda mitologis menjadi elang rajawali. Rancangan ini diajukan tanggal 11 Februari 1950 dan disetujui oleh seluruh anggota Panitia Lencana Negara. Maka tanggal itu dijadikan sebagai hari lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila, yang saat ini telah menginjak 69 tahun.

Pada beberapa kesempatan berikutnya, Presiden Ir Sukarno selalu menyebutnya Elang Rajawali, Garuda Pancasila. Kemudian pada tanggal 15 Februari 1950, Presiden Ir Sukarno memperkenalkan untuk pertama kalinya lambang ini di depan publik di Hotel Des Indes Jakarta.

Masih di zaman Republik Indonesia Serikat, ternyata lambang negara Garuda Pancasila masih mengalami penyempurnaan, terutama di bagian kepala dan kaki Garuda, yang disesuaikan dengan bentuk burung rajawali Indonesia. Penyempurnaan dilakukan Dirk Rühl (keturunan Jerman, yang lama tinggal di Indonesia), atas perintah Presiden Ir Sukarno dan Panitia Lambang.

Penyempurnaan itu akhirnya mendapat apresiasi Presiden Ir Sukarno, yang kemudian mengatakan, “Menurut pendapat saya, lukisan Rühl ini membuat lambang negara kita lebih kuat. Maka untuk itu saya tetapkan bahwa ontwerp Rühl inilah yang harus dipakai. Lebih baik kita rugi beberapa ribu rupiah daripada mempunyai lambang negara yang kurang sempurna. Saya harap JM (maksudnya, Sultan Hamid II, Menteri Negara) mengambil tindakan seperlunya conform kehendak saya. Merdeka!”. Pernyataan itu tertanggal 20 Maret 1950.

Pada tahap akhir perancangan, kemudian Presiden Ir Sukarno memerintahkan kepada Dullah, pelukis istana, untuk mereproduksi rancangan yang telah disempurnakan oleh Dirk Rühl. Setelah itu Presiden memerintahkan kembali kepada Sultan Hamid II selaku Koordinator Panitia Lencana Negara untuk membuat perbandingan ukuran bentuk, aturan tata warna, serta keterangan gambar yang ada pada simbol-simbol itu. Selanjutnya, aturan itu dituangkan oleh Pemerintah RI dalam Peraturan Pemerintah No 66 Tahun 1951 pada 17 Oktober 1951.

Kreasi burung Garuda yang ikut dipamerkan oleh Museum Rumah Garuda Yogyakarta-foto-Suwandi

Itulah sejarah perjalanan penciptaan lambang Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang bisa dirangkum dari pameran Museum Rumah Garuda Yogyakarta di Dinas Komunikasi dan Informasi (Diskominfo) DI Yogyakarta di Jalan Brigjen Katamso Keparakan, Kota Yogyakarta, yang digelar pada tanggal 11—15 Februari dalam rangka “Pekan Garuda: Peringatan 69 Tahun Lahirnya Lambang Negara Garuda Pancasila”. Selama sepekan, selain pameran museum, juga digelar berbagai kegiatan lain, seperti: diskusi, sarasehan, pemutaran film, dan orasi kebudayaan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here