Badut selalu mengesankan kelucuan, kegembiraan, di mana pun. Orang tidak pernah tahu atau tidak pernah mau tahu tentang suasana hati yang sesungguhnya dari orang yang memerankan diri sebagai badut.

Mungkin saja orang yang berperan sebagai badut tersebut sedang dilanda kesedihan, kepahitan hidup, sakit, dan lain-lain. Akan tetapi ketika ia harus tampil sebagai badut ia harus melupakan itu semua demi penampilan/pertunjukan yang dibutuhkan orang: kegembiraan.

Sosok badut itulah yang menjadi objek utama karya Mola yang dipamerkan di Bentara Budaya Yogyakarta, 8-16 Februari 2019 yang kemudian ia bingkai dalam tema Edited Clown.

Heti Palestin Yunani dalam kuratorialnya menyampaikan bahwa Mola cukup berhasil menjadikan badut sebagai cara ringan untuk mengalamatkan maksud-maksudnya tentang berbagai hal dengan sederhana.

Bagi Mola, Edited Clown yang merangkum karya-karya terakhirnya di tahun 2018 adalah solusi yang sangat menyehatkannya secara pribadi selama menjadi perupa. Mola merasa punya cara untuk memperbaharui apa yang dianggap kurang atau salah di masa lalu, menjadi sesuatu yang sangat bernilai dalam kehidupannya masa kini.

Raihul Fadjri Faniska yang juga bertindak sebagai kurator dalam pameran ini menyampaikan bahwa narasi dalam karya Mola bersumber dari pikiran tentang dirinya. “Saya tulang punggung keluarga dari keluarga besar. Saya gak bisa bilang saya sakit. Saya berada di antara mereka yang sangat membutuhkan,” ujar Mola.

I Wanna Music, 150 x 200 cm, AOC, 2018, karya Mola-Foto-A.Sartono

Badut harus menghibur, padahal dalam hatinya sedih. Artinya dalam situasi tak menyenangkan, harus bisa membawa diri menjadi situasi yang menyenangkan.

Bagi Mola arti melukis adalah mengekspresikan perasaan jiwa, hasil pengamatan pada sekitar atau apa pun yang ditangkap indera menjadi suatu hasil karya seni yang harus bisa dinikmati semua orang. Nah, untuk membuatnya karya lukis itu menurut Mola harus diciptakan dengan hati dan pemikiran yang psoitif karena hanya yang demikian itu yang berdampak baik bagi kehidupan.

Itulah mengapa karya lukis itu dianggap bisa memotivasi, membantu memahami masalah, menerapi jiwa, dan memberi manfaat untuk orang lain jika diniatkan untuk kebaikan. Kejujuran di dalam berkarya juga penting agar hidup lebih baik dan maju. Lewat melukis Mola mengakui ia bisa mendapatkan spirit, menemukan motivasi, mengukuhkan jati diri, menjaga semangat, dan menggali energi yang tiada henti-hentinya.

Just The Three of Us, 90 x 120 cm, AOC, 2018, karya Mola-Foto-A.Sartono

Apa yang diungkapkan Mola melalui subject matter-nya, yakni badut adalah dirinya sendiri (herself) dan act of painting (bukan how to painting) memberikan jalan baginya untuk mengekspresikan emosi artistiknya di permukaan kanvas.

Hasilnya adalah lukisan ekspresif khas Mola. Itu sebabnya orang mudah mengenali lukisan Mola dimana orang melihatnya. Harus diakui bahwa selama ini ada karakter artistik lukisan Mola agak berubah-ubah. Hal itu bisa dipahami sebagai upaya pencarian Mola.

Political Honey Moon, 70 x 90 cm, 2018, karya Mola-Foto-A.Sartono

Dalam pameran tunggalnya ini karakter lukisannya semakin padu dan kuat.Agaknya dengan tema Edited Clown Mola berhasil memperkuat karakter personal lukisannya. Itu salah satu kesan Asmujo Jono Irianto dalam tulisan kuratorialnya.

Kesan senada juga diungkapkan Ipong Purnomo Sidhi yang mengatakan bahwa badut yang menjadi tema karya Mola adalah seorang comedian yang harus selalu tampak gembira, menghibur meskipun kadang dalam realitanya hidupnya pahit. Badut bagai sebuah ironi antara suka dan duka, berbatas garis yang tipis.

Ruang pameran Edited Clown karya Mola di Bentara Budaya Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Dalam karya terbarunya Mola menghimpun beberapa sosok badut dalam sebuah kanvas memberi narasi dan cerita-cerita kehidupan itu. Mola dalam kanvasnya menceritakan kehidupan manusia yang dramatis. Seperti di antaranya yang dialami Mola sendiri, bahwa dalam sakitnya ia mengubah rasa sakit menjadi kreativitas yang menyembuhkan. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here