Tanpa kecintaan dan dan penghargaan pada sastra dan sejarah mereka sendiri, bangsa Indonesia akan sulit menemukan dan memahami makna yang tepat tentang siapa diri mereka dan ke mana tujuan mereka seabad setelah merdeka (1945-2045). Demikian sepenggal kalimat dari sejarawan Peter Carey dalam tulisan pengantar berjudul “Makna Babad Diponegoro dalam Pandangan Seniman Generasi Muda Indonesia” guna menyambut Pameran Sastra Rupa Gambar Babad Diponegoro di Jogja Gallery (1-24 Februari 2019).

Hal itulah yang oleh Soekarno sejak awal pernah ditekankan kepada bangsanya dengan slogan, Jasmerah (jangan sekali-sekali meninggalkan sejarah). Ketika sebuah bangsa tidak lagi menghargai sejarahnya sendiri, bangsa itu akan “hilang” larut dalam pusaran dan hantaman pengaruh sejarah serta nilai-nilai budaya lain.

Pangeran Diponegoro, 240 x 120 x 403, fiberglass, 2018 karya Yusman yang dipajang di depan Jogja Gallery. Foto: A. Sartono
Pangeran Diponegoro, 240 x 120 x 403, fiberglass, 2018 karya Yusman yang dipajang di depan Jogja Gallery. Foto: A. Sartono

Pameran yang digagas oleh Patra Padi (Paguyuban Trah Pangeran Diponegoro), Jogja Gallery, para sejarawan, para seniman, dan akademisi ini menyuguhkan cara pandang baru dalam belajar bersama memahami sejarah, yang dalam hal ini adalah sejarah Pangeran Diponegoro atau sejarah Perang Jawa (1825-1830).

Cara pandang baru itu digali dari Babad Diponegoro yang ditulis oleh Pangeran Diponegoro sendiri dalam pengasingannya di Manado (1831-1832) yang kemudian dituangkan dalam karya rupa hasil olahan para perupa nasional yang ternyata demikian antusias untuk terlibat di dalamnya.

Pupuh XXXV , 200 x 270 cm, cat minyak di atas kanvas, 2019, karya Bambang Sudarto. Foto: A. Sartono
Pupuh XXXV , 200 x 270 cm, cat minyak di atas kanvas, 2019, karya Bambang Sudarto. Foto: A. Sartono

Para perupa itu harus belajar lebih dulu tentang teks babad yang disusun dalam bentuk tembang dan berbahasa Jawa. Tidak mudah bagi para perupa yang selama ini tidak atau jarang bersentuhan dengan teks sastra babad yang demikian itu.

Akan tetapi kerja sama semua pihak dapat memecahkan persoalan ini. Semua itu didorong oleh kehendak bersama untuk semakin menghidupkan memory of the world, seperti Babad Diponegoro yang dipilih oleh UNESCO sebagai Memory of The World Tahun 2013.

Menurut Mike Susanto, sang kurator, pameran ini menyediakan diri sebagai sarana untuk mengingat, mempelajari, mengidentifikasi serta mengimajinasikan segala hal yang terkait dengan Pangeran Diponegoro. Jadi, dapat dikatakan bahwa pameran ini menyajikan lukisan-lukisan “nyata” berdasarkan biografi sang pangeran.

Land of Hope , 100 x 150 cm, cat minyak di atas kanvas, 2018, pupuh XXV (pangkur), karya Agus Triyanto BR. Foto: A. Sartono
Land of Hope , 100 x 150 cm, cat minyak di atas kanvas, 2018, pupuh XXV (pangkur), karya Agus Triyanto BR. Foto: A. Sartono

Dalam pameran ini disajikan 50 kisah yang diambil dari Babad Diponegoro yang memiliki lebih dari 100 pupuh dalam 1.000 halaman. Ke-50 kisah tersebut lalu dimanifestasikan oleh 51 pelukis kontemporer Indonesia ternama. Artinya, setiap satu pelukis mendapatkan satu kisah.

Dengan demikian tergambar bahwa pameran ini berkeinginan dan bertujuan untuk memberi rangsangan pada semua pihak untuk mengingat mengenai sosok Pangeran Diponegoro berdasarkan kisah yang sudah ditulisnya sendiri, secara berurutan. Para pelukis yang terlibat telah melakukan riset lapangan, mengunjungi lokasi dan berdiskusi dengan pihak-pihak terkait.

Sri Margana yang juga sebagai kurator dalam pameran ini menyatakan bahwa wujud akhir dari keseluruhan proses kreatif ini adalah sebuah narasi baru tentang Perang Jawa. Narasi baru tentang Pangeran Diponegoro dan juga tokoh-tokoh di sekelilingnya, baik pengikut maupun musuh-musuhnya.

Tepeng, 150 x 200 cm, cat minyak di atas kanvas, 2019, pupuh XXXIX (pucung), karya Setyo Priyo Nugroho. Foto: A. Sartrono
Tepeng, 150 x 200 cm, cat minyak di atas kanvas, 2019, pupuh XXXIX (pucung), karya Setyo Priyo Nugroho. Foto: A. Sartrono

Sejarawan besar Sartono Kartodirdjo mengatakan narasi sejarah tidak akan pernah final. Ia akan terus diinterpretasikan oleh setiap generasi. “Sastra Rupa Babad Diponegoro” adalah bagian dari narasi yang terus hadir itu. (*)

1 KOMENTAR

  1. Kalau bisa saya minta sejarahnya keraton surakarta. Saya dengar mbah Honggodimejo kalau diurut .turunan tumenggung keraton surakarta. Penjajahan belanda melarikan diri membawa sapi sampai meninggalnya di daerah kelurahan Kemudo.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here