Kreativitas seniman bisa muncul kapan saja oleh apa saja. Gagasan, ide-ide kreatif, atau hasil olah cipta, rasa, dan karsa dapat muncul sebagai karya seni new idea ataupun stack up idea.

Menurut Timbul Raharjo hal demikian sah-sah saja. Hanya saja, pilihan pertama akan memiliki karakter pribadi sebagai seniman dan yang kedua meneruskan ide dan cara menggambar/melukis/ berkarya orang lain. Semuanya sah-sah saja. Tandas Timbul Raharjo dalam tulisan pengantar pameran seni rupa Realitas yang dilaksanakan di Tembi Rumah Budaya mulai 26 Januari-15 Februari 2019.

Air Terjun, Mix Media Pasir Emas, 40 x 50 cm, 2018, karya Lucya Ning. Foto: A. Sartono
Air Terjun, Mix Media Pasir Emas, 40 x 50 cm, 2018, karya Lucya Ning. Foto: A. Sartono

Pameran seni rupa yang diikuti oleh 13 perupa ini juga dilengkapi dengan workshop Henna Style oleh Victorya, Fashion Sketch oleh Iin Kersen, Shibori oleh Modesta Nursani, Wushu oleh Hasan Yuwono serta Melukis Bersama dengan model Michelle Kuhnle. Pameran dibuka oleh Kurnia Tjahaya dan Michelle Kuhnle serta dimeriahkan dengan Wushu Performance, Denda Omnivora Acustic, dan Musik Kwartet String Yogya.

Timbul Raharjo melanjutkan, luasnya sumber inspirasi dalam menciptakan karya seni dapat datang dari mana saja. Bahkan melukis ulang dengan inspirasi dari lukisan Monalisa karya Leonardo da Vinci dapat pula dijadikan ide penciptaan karya baru dengan cara melukis dengan ukuran dan teknik yang berbeda.

Anggrek 4, 50 x 60 cm, OOC, 2019, karya Mulyani Nurul. Foto: A. Sartono
Anggrek 4, 50 x 60 cm, OOC, 2019, karya Mulyani Nurul. Foto: A. Sartono

Hal demikian juga sah-sah saja sebagai sebuah penciptaan karya seni yang dikenal dengan metode resepsi, yakni menciptakan karya dengan ide yang telah ada kemudian diungkapkan kembali dengan cara dan tampilan sesuai dengan jiwa reseptor (sang seniman).

Penciptaan karya dapat pula dilakukan dengan menginterpretasi makna filsafat bahkan dengan posisi yang sama namun dengan objek yang berbeda. Reseptor berfungsi sebagai pembaca teks visual yang ada, dapat pula intertekstual sebagai percikan teks yang dapat diresepsi dalam makna yang lain untuk memunculkan ide baru sesuai dengan artistic background sang reseptor.

Konten Terkait:  Karya Seni Eksperimental Seniman Muda Indonesia dan Thailand
Sam Poo Kong II, AOC, 40 x 60 cm, 2016, karya Iin Kersen. Foto: A. Sartono
Sam Poo Kong II, AOC, 40 x 60 cm, 2016, karya Iin Kersen. Foto: A. Sartono

Realitas sebagai tema yang diangkat dalam pameran ini tampaknya memang sesuai dengan apa yang diungkapkan oleh Timbul Raharjo. Realitas itu agaknya juga ingin menunjukkan tentang realitas, “kasunyatan” karya masing-masing seniman secara terbuka dan jujur. Pada sisi lain realitas barangkali memang mencoba menangkap kasunyatan di luar diri seniman kemudian dicerna dan divisualisasikan oleh seniman dalam karya-karyanya. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here