Puisi Yuliani Kumudaswari

0
76

Raut Rindu

tulislah rindu serupa batang buluh
berbuku buku tanpa duri
memanggil dalam desir yang gemulai

arsirlah rindu segenggaman kemuning
yang menguar wangi bermusim musim
mendendangkan nyanyian padang sabana

gambarkan sebentuk raut rindu
di setangkai anyelir berwarna dadu
yang melekuk mencari wajah cahaya

tidakkah keheningan ini milik siapapun?

Jogja, 2018

 

Kidung Secangkir Kopi

katakan padaku tentang cinta,
tidakkah serupa ikatan antara kamu dan bibir cangkir kopi di awal hari?
dan segala kisah tentang senyum tak berbatas
dan pagi yang ranum dalam hitungan detik

katakan padaku tentang rindu,
tidakkah serupa gugup yang gagap di antara degub?
dan segala rahasia yang tak mampu kau urai
di celah merah hitam ungu hijau bias yang kau coba arsir

senyaplah,
dan biarkan waktu mematut diri

Sidoarjo, Agustus 2018

 

Asam Kranji

di segenggam asem kranji, masa bocah terkenang
mengadu untung, menguji keras kulit asam
bagi sebutir dua kranji retak menguar jingga
asam manis di ujung leletan lidah berliur
dan anak anak berwajah polos tak kenal berita

ingatan anak anakku mungkin riuh juga
dalam rentangan jarak yang melingkar lingkar
walau tak mengenyam kluthuk muda bertotol garam, gundu tanah liat, berburu impun berekor pelangi di bedahan sawah tetangga
dan masa menari nari di bawah hujan

kisahku telah sampai di meja mereka
kisah mereka pun kelak sampai
di meja meja anak anak di jaman mendatang
yang mungkin tak lagi mengenyam pizza, kebab, steak, spagheti, es kepal coklat, ayam digoreng tepung

lalu cerita menjadi lapuk dan pudar

Sidoarjo, Oktober 2018

 

Bayang Berbayang

di bawah matahari, bayang terlepas menjadi dirinya sendiri, sementara aku sibuk mencari teduh agar diriku serupa bayang, di bawah naungan bayang

tiada batas antara sunyi, kosong, udara hampa, kesendirian, terik, silau dan wahai kamu yang mengendap endap di dasar sepi, serta hati yang senantiasa kalah pada galau

kata kata serupa wangi kemuning yang terusir di siang bolong, menjadi taburan petal petal coklat mati yang bergulung tertiup angin, sebab waktu selalu menang atas apapun

Sidoarjo, November 2018

 

Bayang Ilalang

ada yang hilang menggurat sempurna
nyanyian sunyi alunan kuala dan bisik keladi
dan senja yang mengembara di hikayat papikaw
dimana jukung ulin tua berlabuh?

kelat lidah tak membangunkan kata
berlumut imaji membangun sangka
yang sirna ke dalam kabut bayang ilalang
sarat perih yang terus menghardik : ” telah patah arangkah pelepah pelepah rumbia?”

tak sedepa jarak buih, jukung ulin tua
tak selayang jarak buritan
dan yang hanyut melantakan titian dermaga
tidakkah musim kembali?

Tanipah, 2017

 

Yuliani Kumudaswari, lahir Bandung 2 Juli 1971, menikah dan sekarang tinggal di Sidoarjo. Buku antologi tunggal karyanya “100 Puisi Yuliani Kumudaswari” (2016). “Perempuan Bertato Kura-Kura (2017), “Menyusuri Waktu” (2018) Puisi-puisinya juga masuk dalam antologi bersama “Wajah Ibu” (2016), “Menyandi Sepi” (2017) dan “Kepada Hujan di Bulan Purnama”(2018).

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here