Perupa Yogyakarta ikut merayakan Imlek melalui pameran seni rupa Imlek, yang diberi tajuk ‘Kosen’. Kata ini jarang dipakai, dan mungkin orang tidak lagi mengenali, namun bisa ditemukan dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI). Kris Budiman, pengajar pada Program Kajian Budaya dan Media UGM, menyebutkan artinya: gagah, berani, ampuh.
“Saya coba cari kata itu dalam KBBI dan ada di sana, artinya kata itu pernah kita kenal, dan jarang dipakai,” katanya dalam berbincang sambil melihat karya seni rupa Imlek.

Dalam pembukaan pameran, yang diselenggarakan, Jumat, 1 Februari 2019 di Bentara Budaya, Jl Suroto 2, Kotabaru, Yogyakarta, dipertunjukkan barongsai sehingga nuansa imlek tidak lepas. Juga ada musik, yang dimainkan oleh kelompok lain, dengan lagu-lagu umum, termasuk lagu barat, dengan demkian kita bisa merasakan, bahwa nuansa imlek berinteraksi dengan nuansa di luarnya.

Pameran berakhir 6 Februari 2019. Terasa cepat memang, namun kita bisa tahu sekaligus merasakan, bahwa pameran seni rupa Imlek ini adalah upaya untu merawat keberagaman. Bukan hanya di Yogyakarta, tetapi di Indonesia, dan dari Yogya, melalui karya seni rupa, kita bersama merawat keberagaman yang dimiliki oleh Indonesia.

Suasana Ruang Pameran Seni Rupa Imlek. Foto: Facebook Wuryani
Suasana Ruang Pameran Seni Rupa Imlek. Foto: Facebook Wuryani

Para perupa yang ikut pameran memiliki latar belakang berbeda-beda, ada yang berasal dari Bali, seperti Putu Sutawijaya, dari Semarang, Yuswantoro Adi, dan dari kota-kota lainnya, yang kini tinggal di Yogya. Mereka seperti bersepakat, melalui seni rupa perbedaan tidak boleh menjadi masalah. Karena mereka, para perupa, saling menyadari, bahwa karya dari masing-masing perupa juga memiliki perbedaan. Jadi, pameran seni rupa Imlek sekaligus untuk merayakan perbedaan.

Karya yang ditampilkanpun bermacam-macam visualnya. Setiap perupa mencoba merespon identitas Tionghoa yang dikenalinya. Ada yang mengambil menu makanan Cina, ada yang ‘memotret’ gapura area pacinan di Yogya, dan yang menampilkan kisah film Cina yang akrab ditayangkan di televisi, ada yang menangkap khas dari pakaian Cina dan berbagai macam visual lainnya.

Oei Hong Djien, kolektor dan Agus Nuryanto, perupa. Foto: Facebook Wuryani
Oei Hong Djien, kolektor dan Agus Nuryanto, perupa. Foto: Facebook Wuryani

Orang yang hadir dalam pembukaan pameran seni rupa imlek tidak hanya para perupa, dan juga tidak hanya warga Tionghoa yang tinggal di Yogya dan merayakan Imlek. Warga masyarakat penggemar karya seni, yang tidak alergi terhadap perayaan Imlek ikut merayakan.
Pentas musik dalam pembukaan pameran, diwarnai suara hujan, sehingga petikan gitar dan lagu yang dinyanyian harus bersaing dengan suara hujan yang cukup deras. Di tengah hujan deras, kita bersama merawat kebhinekaan melalui karya seni rupa. (*)

1 KOMENTAR

  1. Sungguh sayang sy tidak bisa menonton pameran Kosen kali ini . Semoga di pameran yg akan datang sy bisa hadir. Terima kasih sy selalu dikirimi berita berita aktifitas di rumah Tembi.
    Salam sukses..

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here