Johanes “Jack” Kristianto Membawa Komposisi dengan Ruh Kearifan Lokal di Tembi

0
30
Johanes Kristianto dalam penampilan Sesiliran di Tembi. Foto: A. Sartono
Johanes Kristianto dalam penampilan Sesiliran di Tembi. Foto: A. Sartono

Setelah tampil di Bentara Budaya Jakarta, pada Kamis, 24 Januari 2019, Johanes Kristianto unjuk kebolehan memainkan gitar akustik di Museum Tembi Rumah Budaya, Kamis malam, 31 Januari 2018.

Malam itu Jack, begitu panggilan sehari-hari Johanes Kristianto, menampilkan 9 buah komposisi yang dimainkannya secara tunggal maupun kolaboratif.

Penampilan Jack di Museum Tembi merupakan bagian dari perjalanan keliling pentasnya, yakni mulai dari Kemayoran, Jakarta; Bentara Budaya Jakarta; Balai Sudjatmoko Surakarta; dan Tembi Rumah Budaya Yogyakarta dalam rangka memperkenalkan albumnya yang diberi judul Sesiliran.

Ansambel Sesiliran Jogja turut memeriahkan penampilan Johanes Kristianto di Tembi. Foto: A. Sartono
Ansambel Sesiliran Jogja turut memeriahkan penampilan Johanes Kristianto di Tembi. Foto: A. Sartono

Sesiliran diambil dari kata silir dalam bahasa Jawa yang berarti angin sepoi-sepoi yang menimbulkan kesejukan, penghapus kegerahan. Harapannya, karya-karya yang terhimpun dalam albumnya menjadi sesuatu yang memberikan rasa sejuk-segar bagi yang menikmatinya.

Jack sengaja memunculkan istilah Sesiliran bagi albumnya sebagai bentuk atau cara untuk mengangkat hal yang bersifat kelokalan dalam karyanya. Hal itu juga menegaskan tentang komitmennya untuk “melawan” dominasi atau “penjajahan” budaya asing bagi kenusantaraan.

Salah satu karya dalam album tersebut, yang diberinya judul Kailasa, terinspirasi dari suasana lokal kompleks Candi Dieng. Saat berkunjung ke kompleks tersebut, ia mampir di Museum Kailasa. Di sana ia merasa mendapatkan kedamaian. Harapan Jack, penikmat karyanya bisa ikut meresapi atau menikmati makna kedamaian itu.

Johanes Kristianto dan beberapa orang yang mendapatkan CD albumnya berfoto bersama. Foto: A. Sartono
Johanes Kristianto dan beberapa orang yang mendapatkan CD albumnya berfoto bersama. Foto: A. Sartono

Tidak aneh pula di dalam mencipta komposisi musiknya Jack juga menggunakan judul-judul dan ruh kelokalan, seperti Peripih, Kailasa, Asaliak, The Struggle of Reog, Jarak, Shirin, Sesiliran, dan lain-lain.

Peripih adalah benda tertentu yang ditempatkan dalam wadah tertentu (biasanya berupa kotak dari batu, gerabah, atau perunggu) untuk ditanam di beberapa tempat dalam bangunan candi. Peripih memiliki fungsi penting dalam bangunan candi sebagai tempat ibadah. Peripih merupakan media bagi dewa merasukkan zat inti kedewaannya. Dapat dikatakan bahwa peripih adalah ruh bagi sebuah candi.

Jack ingin menjadikan komposisi Peripih itu juga menjadi semacam wahana menuju kepada kesejatian diri penikmatnya, menjadi “ruh” yang memberi getaran indah dan hidup bagi penikmatnya.

Nandya Abror (Celo) dan Johanes Kristiano (Gitar) dalam lagu Jarak karya Johanes Kristianto. Foto: A. Sartono
Nandya Abror (Celo) dan Johanes Kristiano (Gitar) dalam lagu Jarak karya Johanes Kristianto. Foto: A. Sartono

Judul karya lainnya Asaliak adalah kebalikan dari Kailasa. Keduanya boleh dikatakan sama namun dalam tata urut susun aransemen yang sengaja dibalik.

Jack juga menyatakan bahwa musisi muda Indonesi masih kurang produktif dalam menghasilkan aransemen dan komposisi musik instrumental. Oleh karena itu Jack mencoba membawa angin semilir (silir) ini ke kancah musik Indonesia.

Malam itu penampilan Jack juga dimeriahkan dengan penampilan dua pemusik (gitaris remaja) Duo Antara, Ansambel Sesiliran Jogja, Nandya Abror, Rizal Bay dan Sekartaji serta Welly Hendratmoko. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here