Puisi Sus S Harjono

0
165

Sumsum Merapi

Sungai itu jadi saksi
Bagaimana lava dan air menyatu
Mengalir hingga jauh ke pelosok desa desa

Saat semua harus terhenti
Terkubur dalam debu
Dan batu batu
Musnah semua dalam beku

Arang menghitam langit biru
Seperti janji yang terkhianati
Dan kemarahan yang memilukan

Anak gembala
Kehilangan induknya
Owh bilakah kau pusat dari segala yang maha
puncakMu adalah kesujudan yang sempurna

seperti cinta yang meleleh
dalam garis merapi
segitiga yang hidup dan menghidupi

lava pasir batu pijar
seperti gundukan maghma
yang melepaskan
bahwa hidup memang tak pernah memiliki

dan iringan iringan deru angin
seperti kereta kencana Ibu Nyai
yang melewati lembah kali kali
gendol boyong jadi saksi
atas keikhlasan ini

sragen , 2019

 

Membaca Kartini

Letcy, kau paham bagaimana adat leluhur
Adikku tak boleh berkata beraku engkau denganku
Setiap lewat harus ada yang duduk dan berdiri
Berjalan setapak setapak sambil menunduk

Letcy , temanku
Jangan tanyakan apa aku mau
Tapi tanyakan apa aku boleh ?
Jangan tanyakan setelah aku tamat
Umur sudah tamat di pingitan

Tak ada udara di penjara adat
Gadis gadis dipingit kuat
Untuk menanti jodohnya

Sudahlah Stella,
Impian ini bagai gelombang
Kapal kapal yang terkembang layar
Harus surut kembali ke pangkuan adat

Hanya surat surat ini yang akan kau baca
Di zaman sekarang
Pun kartini kartini malang merintih di keremangan malam
Meneteskan getir nasib berulang
Tak jauh beda semasa di kungkungan
“aku mendengar jeritan mereka
Yang disiksa zaman !”
Aku dengar jeritan mereka karena pukulan suaminya
Karena kekerasan para lelaki
Yang tak henti henti menghujat dan memakimu
Bertahun tahun tak menafkahi lahir batinmu

Mendung itu masih menggayut
Jeritanmu karena dimadu
Lukamu karena pedang yang menebas lehermu

Ssh , 2018

 

Membaca Mangkubumi

Lihat iringan obor dari jalan Daendeles menuju Batavia
Karena mata menangis tak tahan oleh kerasnya tanam paksa
Dan tetesan darah kerja paksa tanpa upah
Diperbudak nafsu hindia belanda

Keberanian ini yang menuntutmu turun ke jalan
Menuju Batavia
Mengarungi segenap pertempuran
Dan menggadaikan nyawa
Hanya sunyi di tengah suara mortir dan tembakan senapan

Tak menyiutkan nyala nyali
Mereka pengikut Mangkubumi
Aku membaca peta peta yang kau lalui , Mangkubumi
Duka anak negeri terjajah
Tak peduli darah tercurah

Ssh , 2018

 

Membaca Hujan

Belajar membaca hujan
Mulut menganga
Karena lapar dan keadilan terapung di malam sunyi
Kau masih di jalanan
Orang orang bekerja
Renta dan tua di hiruk pikuk jalanan
Di jalan jalan kelaparan
Di terik siang matahari jumpalitan

Belajar menulis puisi
Tak ada huruf huruf vocal
Seperti huruf mati
Yang terkubur di antara deru kota tua
Mulut menganga
Mengajarkan tuntutan

Di siang sekerat roti
Mencapai puncak diksi
Sunyi yang diteguk senja
Matahari muram di gelas kopi
Anehnya mereka tetap tertawa

Ssh , 2018

 

Penari Jawa

Ukel dan trisik
Langkah kaki dalam jarit
Mengalun gending sesembahan

Mendhek dan pacek
Menebar ura harum wangi penari
Seantero jiwa yang suci

Membebat nafsu dalam dada
Dan membiarkan
Aluamah pergi
Dalam sampur
Kesempurnaan jagat wadon

Tinggal sunyi mutmainah di dalam batin
Penari
Menyeblak amarah dan mengendalikan dalam gending

Pengiring
Godaan yang selalu ada dalam trisik
Sebelum benar benar menemukan diri
Dalam hening
Ning nong kenong
Gong
Besar

Menghela nafas penghambaan
Jagat besar dan kecil
Dalam satu tarian
Sufi

Ssh , 2018

 

Sus S Hardjono lahir 5 November l969 di Sragen, Jawa Tengah.

Dekade 1990-an – ia aktif menulis puisi, cerpen dan geguritan dan novel sejak masih menjadi mahasiswa, serta mempublikasikannya di berbagai media massa yang terbit di Yogyakarta dan Jawa Tengah. Puisinya dimuat di Bernas, KR, Pelopor Jogja, Merapi, Solo Pos, Joglo Semar, Suara Merdeka, Wawasan, Swadesi, Radar Surabaya, Minggu Pagi, dll.
.
Waktu itu Ia juga sempat bergabung dalam Kelompok Teater Peron FKIP. Pernah aktif di majalah kampus Motivasi. Aktif di berbagai komunitas di Sragen. APPS (Aliansi Peduli Perempuan Sukowati), di YIS Solo (Yayasan Indonesia Sejahtera), aktif di Yayasan Darmakumara Solo (Yayasan Pengembangan dan Pelestarian Kebudayaan Jawa), aktif di KPPS, Mansaceria, Teater Gatra, dan sekarang mengelola majalah pendidikan dan aktif sebagai wartawan pendidikan di Kemenag (Kankemenag Sragen dan Kanwil Jateng).

Novelnya perdana Sekar Jagat dan sekarang menulis novel keduanya yang berjudul Pengakuan Mendut, dan novel Ketiganya Surga Yang Hilang.

Buku antologi 50-an buku. Ikut bergabung antologi puisi bersama penyair Indonesia. Tahun 2012 – RSS dan DKDS Mengadakan Launching buku Sragen Memandang Indonesia Tahun 2014 Launching buku Habis Gelap Terbitlah Sajak (RSS & APPS) , Tahun 2014 Launching Buku dan Road Show PMK 23 di MAN I Sragen , Tahun 2016 – Launching buku Perempuan Mengasah Kata (RSS & TBJT) , Tahun 2017 Launching buku PMK 6 dan Roadshow PMK 48 Buku Antologi Puisi Guru n Siswa MAN I Sragen di MAN I Sragen.

Tahun 2017 mendapat penghargaan Pendidik Peduli Bahasa dan Sastra dari Balai Bahasa Jateng
Antologi puisi tunggalnya : Tembang Tengah Musim (2018)

Mengelola RSS di Sragen, Jl Raya Batu Jamus Km 8 Mojokerto Kedawung Sragen
Mengajar di MAN I Sragen Jl Irian no 5 Nglorog Sragen
HP 082 134 694 646
Email : [email protected],com
Fb Sus S. Hardjono dan Rumah Sastra Sragen

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here