Sendratari Sekar Pembayun: Antara Cinta dan Politik

0
33
Sekar Pembayun dengan ditemani Nyai Adisara menyiapkan diri di Taman Pabeksan sebelum masuk ke wilayah Mangir. Foto: A. Sartono
Sekar Pembayun dengan ditemani Nyai Adisara menyiapkan diri di Taman Pabeksan sebelum masuk ke wilayah Mangir. Foto: A. Sartono

Cerita Sekar Pembayun atau Rara Pembayun dengan Ki Ageng Mangir Wanabaya menjadi kisah abadi yang melekat di hati masyarakat Jawa Tengah dan DIY. Pertautan cinta keduanya yang semula dipicu oleh persoalan strategi dan politik kekuasaan (perluasan wilayah Mataram) yang saat itu dipimpin oleh Panembahan Senapati (ayahanda Sekar Pembayun) diemban oleh Sekar Pembayun dengan sepenuh hati.

Ki Ageng Mangir Wanabaya yang bersikukuh untuk menjadi benteng kedaulatan perdikan Mangir, sekalipun akhirnya tahu bahwa ia terjebak dalam bujuk rayu kecantikan Rara Pembayun, ia tidak mau mundur sejengkal pun. Bahkan ia hendak membunuh Sekar Pembayun setelah diketahuinya bahwa Pembayun adalah putri Panembahan Senapati.

Panembahan Senapati menolak kata-kata Ki Juru Mertani yang mengatakan Ki Ageng Mangir adalah pemberontak. Ia mengatakan bahwa apa yang dilakukan Ki Ageng Mangir adalah pilihan dirinya sendiri sebagai pria sejati dan ksatria bagi wilayah perdikan Mangir. Ibarat isi jagad raya, Ki Ageng Mangir dapatlah disebut sebagai rembulan yang menerangi kegelapan malam.

Ki Ageng Mangir hendak membunuh Pembayun karena spionase yang dilakukannya atas Perdikan Mangir. Foto: A. Sartono
Ki Ageng Mangir hendak membunuh Pembayun karena spionase yang dilakukannya atas Perdikan Mangir. Foto: A. Sartono

Senapati dapat disebut sebagai matahari yang menerangi jagad kala siang hari. Keduanya bukanlah sosok kembar yang harus diperlawankan. Keduanya bisa saling mengisi dan melengkapi dalam harmoni jagad raya sesuai posisi dan peran masing-masing. Inilah yang dikehendaki.

Sekalipun demikian, perdikan Mangir tetap punya potensi menjadi besar dan membahayakan Mataram. Oleh karenanya, Senapati menyerahkan penyelesaiannya pada Ki Juru Mertani. Pada sisi itu pula Sekar Pembayun mengajukan diri untuk menaklukkan Mangir dengan cara halus, namun tanpa pernah diduganya, ia justru benar-benar jatuh cinta kepada Ki Ageng Mangir Wanabaya.

Dengan menyamar menjadi ledhek Sekar Pembayun memasuki wilayah Mangir. Foto: A. Sartono
Dengan menyamar menjadi ledhek Sekar Pembayun memasuki wilayah Mangir. Foto: A. Sartono

Ki Ageng Mangir pun tidak bisa ingkar dari cintanya pada Pembayun dan anak yang dikandungnya, namun ia juga tidak bisa ingkar atas tanggung jawab dan sumpahnya untuk melindungi kedaulatan Mangir. Ia harus memilih buah simalakama.

Itulah kisah dalam Sendaratari Sekar Pembayun: Lay Your Love Inside yang dipentaskan di Taman Kaliurang, Sleman, Yogyakarta pada hari Sabtu Legi, 26 Januari 2019 pukul 09.00-12.15 WIB.

Skenario pementasan ini digarap oleh Bondan Nusantara, sutradara Agoes Kencrot, dan konseptor Dyah Puspitasari. Pementasan yang dilaksanakan di tiga titik dalam kawasan Taman Kaliurang ini merupakan rangkaian pertunjukan Sabtu Legen yang juga disebut sebagai Interactive Moving Performance “Arum Bhumi” The Series, persembahan bhakti budaya PT Anindya Mitra International-Jogja.

Panembahan Senapati berembug dengan Ki Juru Mertani untuk menaklukkan Mangir. Foto: A. Sartono
Panembahan Senapati berembug dengan Ki Juru Mertani untuk menaklukkan Mangir. Foto: A. Sartono

Pentas seni ini merupakan bagian dari upaya revitalisasi Taman Kaliurang yang rencananya akan dilakukan setiap Sabtu Legi dengan mengangkat kisah/dongeng yang mewarnai khasanah budaya Nusantara.

Konsep sendratari ini memang tidak seperti pada umumnya. Ada proses interaksi dengan penonton. Pementasan dilakukan siang hari. Lokasi (setting)-nya alami, nyaman, dan memiliki daya tarik tersendiri dengan adanya bangunan kuno yang disebut Tembok Cinta di latar pohon kantil yang telah berusia ratusan tahun.

Penonton diajak menikmati suguhan sendratari dari Misbah Kantil ini kemudian lorong berisi taman vertikal, melalui area pepohonan rindang, masuk ke Taman Beksan Paseban, taman penuh pepohonan rindang untuk adegan ledhek (tayub) di Dusun Mangir dan akhirnya di bangunan pendapa berbentuk joglo. Proses perjalanan pertunjukan ini akan menguatkan ikatan emosional antara penonton dengan Sang Pelakon. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here