Pada saat ini ada cukup banyak media cetak yang gulung tikar, yang tergusur oleh teknologi digital. Dulu, pada beberapa media cetak tersebut ada kolom atau rubrik yang diberikan untuk diisi dengan sketsa atau vinyet (vignette). Namun seiring waktu pula sketsa dan vinyet di media cetak ini ikut tergulung zaman. Hal sama juga dialami oleh seni kartun. Lahan untuk kartun bagi media-media cetak yang masih terbit mulai banyak yang disempitkan atau bahkan dihapuskan.

Karya rupa berupa vinyet dan sketsa atau bahkan percampuran keduanya yang semula memberikan nuansa artistik pada halaman-halaman media cetak khususnya majalah ini kadang dipandang sebelah mata. Namun kehadirannya menggambarkan bagaimana sebenarnya keberagaman seni rupa kita.

Karya seni rupa berupa vinyet dan sketsa yang pernah berjaya di masa lalu ini oleh Bentara Budaya Yogyakarta mendapatkan perhatian istimewa dengan ditampilkan dalam sebuah pameran, tanggal 22-30 Januari 2019 dengan bingkai tema “Ilustrasi Sastra vinyet dan sketsa”. Karya-karya yang dipamerkan diambil dari berbagai media cetak yang pernah berjaya di masa lalu, yang terbit di kisaran tahun 1950-1980-an, seperti Prisma, Horizon, Kalam, Citra Jogja, Zaman, Budaya, Basis, Caraka dan Hai.

Sketsa 1953, karya Bagong Kussudiardjo. Foto: A.Sartono
Sketsa 1953, karya Bagong Kussudiardjo. Foto: A.Sartono

Sesungguhnya jika mau meluas, ada berbagai media cetak lain yang hingga kini masih sering menampilkan vinyet dan sketsa, seperti media cetak (majalah) berbahasa Jawa di antaranya, Djaka Lodang, Jayabaya, dan Panjebar Semangat. Majalah-majalah itu juga terbit pada era yang telah disebutkan dan masih bertahan hingga kini.

vinyet dan sketsa pada majalah berbahasa Jawa itu tidak saja menjadi ilustrasi pada rubrikasi atau halaman sastra, namun juga mengisi berbagai kekosongan kolom di rubrik apa saja. Sekalipun vinyet sering dipandang sambil lalu, namun ternyata seniman atau perupa-perupa besar pernah menyumbangkan karya-karya vinyet mereka ke berbagai media cetak. Sebut saja Bagong Kussudiardjo, Rusli, Nasjah, Fadjar Sidik, S Ratmojo, dan Batara Lubis.

Vinyet, 1946, karya Amri Yahya. Foto: A.Sartono
Vinyet, 1946, karya Amri Yahya. Foto: A.Sartono

Umumnya vinyet ditujukan untuk memertegas isi tulisan. Akan tetapi ada cukup banyak juga vinyet yang sulit dipahami terkait dengan tulisan yang ada. Bahkan mungkin ada beberapa vinyet yang dihadirkan untuk “menutup” kolom yang barangkali tidak bisa diisi iklan, foto, atau tulisan lain. Hal semacam itu kadang-kadang memang tergantung juga pada situasi dan kondisi dan mungkin juga tergantung dari redaktur yang menggawangi rubrik.

Vinyet, 1954 karya Batara Lubis. Foto A.Sartono
Vinyet, 1954 karya Batara Lubis. Foto A.Sartono

Maksud dan tujuan dari pameran ilustrasi sastra ini sebenarnya untuk mendokumentasikan karya-karya seni rupa lama yang sudah terlupakan. Bahkan mungkin generasi milennium kita tidak mengenalnya. Pameran karya vinyet dan sketsa yang berkaitan dengan sastra ini untuk diharapkan dapat menambah pengetahuan tentang keberagaman seni rupa Indonesia masa lalu membanggakan.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here