Pameran seni rupa yang melibatkan seniman dari berbagai kota tentu bukan persoalan yang sederhana, terutama dalam koordinasinya sekalipun pada zaman ini telah ada handphone dengan segala kelengkapannya yang memudahkan komunikasi. Revolusi Jiwa adalah tema yang diusung dalam pameran 10 kota yang diselenggrakan di Taman Budaya Yogyakarta, pada 17-20 Januari 2019.

Sebenarnya pameran seni rupa ini merupakan serangkaian pameran yang dilakukan tahunan oleh apa yang disebut sebagai Dendang Calon Guru. Jadi, pameran tahunan pada tema kali ini merangkul senirupawan calon guru yang berasal dari 10 kota.

Dragon of Bali, Wood, 53x24x25 cm, karya Putu Wahyu Saputra (UNDIKSHA). Foto: A.Sartono
Dragon of Bali, Wood, 53x24x25 cm, karya Putu Wahyu Saputra (UNDIKSHA). Foto: A.Sartono

Guru, pada hakikatnya adalah pedoman atau panutan dan idola para siswanya. Dalam perjalanan hidup siswa, guru baik langsung maupun tidak, bisa mempengaruhi siswanya. Termasuk dalam hal melanjutkan studi maupun profesi yang akan digelutinya. Kehadiran guru tidak hanya menjadi sosok yang memberikan ilmu, tetapi keteladanan sifat dan sikap kepada siswa-siswanya. Dalam banyak hal guru juga dipandang sebagai sosok yang tidak saja mahir dalam teori, namun juga dalam praktek. Demikian juga dalam hal bidang seni. Tidak jarang terjadi seorang guru seni juga dianggap menguasai segala bidang seni.

Hanoman Obong, AOC, 80x100 cm, karya Lutfia Nugraheni UK (UNY). Foto: A.Sartono
Hanoman Obong, AOC, 80×100 cm, karya Lutfia Nugraheni UK (UNY). Foto: A.Sartono

Diharapkan para calon guru mampu memanfaatkan waktu studinya untuk menimba ilmu serta pengalaman sebanyak mungkin. Mencari pengalaman dengan sering berpameran dan berguru pada para pakar seni aktif yang ada di sekitarnya, menyerap ilmu seni yang berbasis pada tradisi maupun yang berbasis lain (Barat). Hal demikian akan menjadi fondasi yang baik untuk dapat menularkan virus kreativitas, inovasi, kreativitas kepada pra siswanya. Penanaman dasar yang baik dan dorongan kreativitas yang kuat mampu membentuk dasar-dasar yang baik bagi para siswa di masa awal pembelajaran.

Jajaran karya di ruang pamer TBY. Foto: A.Sartono
Jajaran karya di ruang pamer TBY. Foto: A.Sartono

Pameran Revolusi Jiwa ini merupakan pameran bersama yang melibatkan calon guru dari 10 perguruan tinggi dari kota yang berbeda. Hal ini tentu menjadi ajang silaturahmi dan di sana para calon guru bisa saling belajar dari tradisi-tradisi seni yang dibangun dan hidup di masing-masing kampus. Kegiatan semacam ini pada gilirannya juga akan meningkatkan kualitas tidak hanya dari segi keterampilan, namun juga kemampuan mengolah event yang tentu sangat penting untuk diajarkan kelak ketika menjadi seorang guru.

tetap Sama #@, Linolium Cut in Paper, 60 x 40 cm, karya Muhammad Riski (UNP). Foto: A.Sartono
tetap Sama #@, Linolium Cut in Paper, 60 x 40 cm, karya Muhammad Riski (UNP). Foto: A.Sartono

Diharapkan bahwa pameran ini tidak hanya menjadi aktivitas atau kegiatan yang singkat dan berlalu begitu saja. Namun kiranya bisa menjadi kesempatan untuk menjaring dan menghimpun kekuatan bagi calon guru seni rupa dalam meningkatkan kualitas diri serta memiliki visi melahirkan generasi muda yang kreatif dan inovatif.
(*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here