Delapan seniman muda progresif Indonesia dan Thailand menampilkan karya seni eksperimental bertajuk The Concept Of Self: Individuality and Integrity atau konsep diri di Galeri Salihara, Pasar Minggu Jakarta Selatan, (19 Januari – 3 Februari 2019). Pembukaan pameran yang dihadiri oleh Duta Besar Kerajaan Thailand untuk Indonesia Songphol Sukchan merupakan pameran kedua yang sebelumnya diselengarakan di Bangkok pada 2017 dengan tema The Concept Of Self: on Power, Identity and Labels.

Para seniman yang terdiri dari Antonio S Sinaga, Patriot Mukmin, Theo Frids Hutabarat, Rega Ayundya Putri, Chayanin Kwangkaew, Chulayarnnon Siripol, Kitikun Mankin serta Thidarat Chantachua, mencoba untuk mengamati bagaimana perubahan-perubahan dalam masyarakat berdampak pada pembentukan sebuah konsep mengenai diri.

Dubes Thailand untuk RI Sonpol Sukchan meresmikan pameran The Concept Of Self Foto Raden SatrioDubes Thailand untuk RI Sonpol Sukchan meresmikan pameran The Concept Of Self. Foto: Raden Satrio
Dubes Thailand untuk RI Sonpol Sukchan meresmikan pameran The Concept Of Self Foto Raden SatrioDubes Thailand untuk RI Sonpol Sukchan meresmikan pameran The Concept Of Self. Foto: Raden Satrio

Para seniman ini mencoba untuk melihat pengaruh pergeseran politik dan budaya yang terjadi di Indonesia dan Thailand pada era 1990-an, khususnya bagaimana hal ini berdampak pada perkembangan artistik dan integritas individual kedelapan seniman ini sebagai anggota masyarakat.

Seniman dari kedua negara ini tertarik pada masalah-masalah masyarakat pada masa transisi demokrasi dan krisis ekonomi. Mereka mengalami sendiri tumbuhnya harapan dan kekhawatiran globalisasi seiring dengan adanya isu – isu regional seperti nasionalisme, tradisi, agama, minoritas dengan mayoritas sepanjang milennia baru.

“Mengapa kita memulai dari 1990-an, karena mereka banyak menghabiskan waktu masa kecilnya di tahun 1990-an dan saat itu masyarakat baru memahami apa itu demokrasi,” Ujar Jeong-ok Jeon salah satu kurator pada pembukaan pameran, Sabtu, 19 Januari 2019.

Karya seni Antonio S. Sinaga refleksi dari kritiknya pada agama. Foto: Raden Satrio
Karya seni Antonio S. Sinaga refleksi dari kritiknya pada agama. Foto: Raden Satrio

Salah satu seniman yaitu Antonio S Sinaga, peraih penghargaan seniman terbaik 2015 oleh Gudang Garam Internasional Award, mencoba menampilkan karya berjudul We Are Tired 2019. Karya ini berasal dari kritiknya pada agama secara lebih nyata melalu seni berbasis teks. “Tujuan saya adalah mempertanyakan, mengeksplorasikan, dan menjaga pikiran saya dan Anda agar tetap terbuka, membuat percikan dan melihat apa yang akan terjadi,” tutur Antonio.

Konten Terkait:  Pameran Desain Grafis Future Will Be Bright, Menakar dan Mengukur Kemampuan Diri

Sementara itu, Regra Ayundya Putri yang merupakan pekerja purnawaktu sebagai seniman di galeri seni di Bandung menyuguhkan sebuah lukisan eksperimentasi mediatif di antara lukisan dwimatra dan patung trimatra yang diberi nama How to Live with The Thought that Sometimes Life Ends 2018.

Reminiscence of 98 katya dari Patriot Mukimin. Foto: Raden Satrio
Reminiscence of 98 katya dari Patriot Mukimin. Foto: Raden Satrio

“Karya saya adalah sebuah meditasi untuk pikiran-pikiran yang berkecamuk pada saya semacam pengobatan juga bagaimana penolak dan keengganan saya justru memberikan ketenangan, yang berlawanan dengan dunia kontemporer yang serba masif dan cepat,” ucap Rega Ayundya.

Melalui beragam metode dan pendekatan artistik, pameran ini tidak hanya menyuguhkan pengunjung dengan pengalaman visual dan kepuasan inderawi yang lain, tetapi juga menjadi sarana refleksi mengenai visi dan nilai personal mereka sebagai anggota masyarakat. Para pengunjung yang datang untuk menemukan identitas dari seni Thailand dan Indonesia barangkali akan kecewa, karena pameran ini tidak menonjolkan gaya yang naratif seni regional akan tetapi menyorot pada rasa dan pemahaman seni individu.

Songpol Sukchan melihat karya Rega Ayundya Putri. Foto: Raden Satrio
Songpol Sukchan melihat karya Rega Ayundya Putri. Foto: Raden Satrio

Pameran ini diselenggarakan oleh Arcolabs, Galeri Salihara dan Departemen Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Jakarta, yang digelar mulai 19 Januari hingga 3 Februari 2019. Selain pameran karya, pengunjung punya kesempatan berjumpa dengan seniman yang berkontribusi pada pameran ini, dan mempelajari teknik dan proses berkesenian mereka pada sesi bincang seniman dan master class. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here