RM Jayadipura Seniman Multitalenta

0
52

Raden Mas (RM) Jayadipura lahir tahun 1878 di Yogyakarta, merupakan anak kedua Raden Tumenggung Jayadipura (bupati Bantul) dengan Nyai Riya Sugondo. Setelah lahir diberi nama RM Kobar. Namanya diubah menjadi RM Prawironadi, ketika menjadi abdi dalem keraton. Jayadipura (nama yang sama dengan ayahnya atau nunggak semi) digunakan setelah mendapat pangkat bupati anom. Sebagai abdi dalem, Jayadipura selalu aktif dalam acara-acara seremonial keraton, terutama dalam upacara garebeg.

Jayadipura memiliki kecerdasan yang menonjol di bidang seni. Ia mulai berkecimpung dalam dunia seni sejak usia belasan tahun. Berkat bakat, kecerdasan, keterampilan dan ketekunan yang dimiliki ia dikenal sebagai seniman yang serba bisa atau multitalenta. Jayadipura dapat dikatakan menguasai berbagai macam seni seperti tari, karawitan, pedalangan, ukir, sungging, patung, lukis, topeng, pahat, juga ahli di bidang tata bangunan atau arsitek.

Berkat karya Jayadipura pertunjukan wayang orang kelihatan lebih baik dan menjadi lebih hidup. Kostum dan riasan yang semula hanya sederhana, dibuat lebih detail, semirip mungkin dengan yang ada pada wayang kulit, termasuk untuk tokoh-tokoh binatang. Dekorasi panggung ditata lebih baik antara lain dengan membuat hutan dan sungai tiruan.

Untuk melestarikan dan mengembangkan seni tari dan musik Jawa (gamelan), Jayadipura dan beberapa temannya mendirikan lembaga kursus kesenian tradisional Jawa yang diberi nama Hermani. Nama ini kemudian diubah menjadi Mardigoena. Dalam rangka mendidik dan menghasilkan dalang yang baik, didirikan lembaga kursus pedalangan Habiranda (Hamurwani Biwara Rancangan Dalang).

Jayadipura juga mendesain tampilan pameran yang diikuti oleh keraton, salah satunya pameran tentoonstelling yang diselenggarakan pemerintah kolonial di Semarang. Untuk pameran tersebut Jayadipura membuat patung dengan detail anatomi yang bagus. Kemudian didandani dengan pakaian tari. Karya-karya topengnya berupa topeng untuk Langen Mandra Wanara, Ramayana, Pentul-Temben dan juga cerita Panji.

Di bawah pemerintahan Sultan Hamengku Buwana VIII, Jayadipura terlibat dalam perancangan berbagai macam bangunan keraton. Seperti bangsal Manis, regol Kasatriyan, regol Danapratapa dan regol Wuni/Kanikantaya. Karya lain yang berhubungan dengan bangunan adalah pembuatan umpak (batu/kayu untuk alas tiang penyangga atap). Umpak ini banyak penggemarnya karena garapannya yang halus dan detail. Jayadipura juga ‘merubah bentuk’ lambang keraton (atas perintah Sultan Hamengku Buwana VIII) tanpa merubah makna dan filosofinya.

Jayadipura sadar bahwa hasil karyanya tidak akan berarti, berkembang dan terkenal kalau tidak ada kerja sama dengan pihak lain. Oleh karena itu Jayadipura tidak segan-segan bekerja sama dengan berbagai pihak. Pihak-pihak yang pernah diajak kerja sama antara lain BPH Suryoputro dari Pakualaman, KPH Tejakusuma (terutama berkaitan dengan Krida Beksa Wirama sebuah lembaga kursus tari), Ki Hajar Dewantara, Walter Spies (musisi, pelukis, warga Jerman), Linda Bandara/JJ Hofland (musisi, keturunan Austria-Belanda), Jaap Kunst (musikolog Belanda) dan keluarga Resink Wilkens (fasilitator untuk membangun jaringan terutama dengan pihak luar negeri). Berkat Jayadipura dan tentu saja juga teman-temannya, kesenian yang semula hanya ada di dalam lingkungan keraton dapat dipelajari dan dinikmati oleh pihak luar keraton.

Sayangnya saat berada di puncak karier Jayadipura terlibat permasalahan serius dengan sultan. Sultan kemudian membekukan badan seni yang menjadi naungan Jayadipura. Pembekuan ini sekaligus menghapus jabatannya di salah satu tepas (bebadan keraton). Gaji/tunjangan bagi semua anggota otomatis ikut terhapus, sehingga mau tidak mau mereka harus bisa mencari penghasilan dengan cara lain.

Keraton melakukan pembekuan dengan alasan mengalami defisit atau kondisi keuangan kurang sehat. Alasan yang lain adalah karena Jayadipura menikah lagi. Sebagai mantu dalem, (Jayadipura dinikahkan dengan adik Sultan Hamengku Buwana VIII), tentu saja tidak bisa sembarangan menikah lagi. Alasan yang tidak kalah penting adalah karena Jayadipura menjadikan tempat tinggalnya untuk pertemuan politik. Jayadipura memang dekat dengan beberapa tokoh pergerakan bahkan juga terlibat. Sedangkan rumah tersebut hanya merupakan ‘pinjaman’ dari keraton, yang sewaktu-waktu bisa diminta kembali.

Permasalahan ini memang membuat Jayadipura kecewa, tetapi pengabdiannya pada seni dan keraton tidak pernah putus atau hilang. Sampai akhirnya Jayadipura meninggal pada tahun 1938 saat berusia sekitar 60 tahun.

Judul : R.M. Jayadipura. Maestro Budaya Jawa 1878-1939: Sebuah Biografi.
Penulis : Indra Fibiona, Suwarno
Penerbit : BPNB, 2018, Yogyakarta
Bahasa : Indonesia
Jumlah halaman : xii + 126

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here