Pameran Tosan Aji, Keunggulan Nusantara dalam Seni Olah Logam

1
61
Sebagian keris yang dipamerkan dalam Pameran Rupa Seni Tosan Aji di ISI Yogyakarta-Foto-A.Sartono
Sebagian keris yang dipamerkan dalam Pameran Rupa Seni Tosan Aji di ISI Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Teknologi pengolahan logam (metalurgi) yang salah satunya terwujud dalam hasil kerja berupa keris sudah dikenal di Nusantara (dengan pusatnya di Jawa) pada kisaran abad ke-6 Masehi. Teknologi pembuatan keris ini kemudian menyebar hingga ke Thailand, Kamboja, dan Filipina Selatan. Demikian pernah dikemukakan oleh Zoetmulder. Diyakini pula bahwa bangsa Jawa telah mengenal teknologi tersebut sebelum kedatangan bangsa India (Brandes).

Bagi masyarakat Nusantara keris bukan semata-mata dipandang sebagai senjata dalam fungsi teknomik atau praktisnya. Akan tetapi keris juga dipandang memiliki fungsi simboliknya yang menyandang makna-makna filosofis yang diwariskan dari generasi ke generasi berikutnya. Selain itu, keris juga memiliki fungsi estetik, yaitu sebagai manifetasi dari rasa keindahan yang salah satunya diwujudkan dalam berbagai ragam dhapur dan pamor. Hal itu juga berlanjut pada unsur-unsur kelengkapan keris, seperti warangka, pendhok, ukiran, dan juga ricikan fisik bilah keris.

Keris-keris lain yang dipamerkan di Pameran Rupa Seni Tosan Aji ISI Yogyakarta-Foto-A.Sartono
Keris-keris lain yang dipamerkan di Pameran Rupa Seni Tosan Aji ISI Yogyakarta-Foto-A.Sartono

Pada umumnya karakteristik dari estetika timur (Nusantara) lebih menekankan pada aspek intuisi (bawa rasa) daripada daya rasional sehingga kaidah-kaidah estetika yang berupa pakem di dalam dunia keris menjadi sebuah pengetahuan yang “sinengker” atau tersembunyi.

Seniman-seniman Indonesia pada masa lampau tidak pernah tergoda untuk melukiskan bentuk-bentuk seperti apa adanya. Mereka lebih tertarik untuk melukiskan sesuatu yang lebih dalam sifatnya. Baik tangkapan kehalusan jiwa maupun pandangan religius dan bentuk-bentuk yang dilahirkannya selalu merupakan simbol-simbol yang kasat mata dari apa yang tidak terlihat itu.

Keris dhapur Naga Tapa Kamarogan pamor Keleng tangguh Surakarta-Foto-A.Sartono
Keris dhapur Naga Tapa Kamarogan pamor Keleng tangguh Surakarta-Foto-A.Sartono

Demikian pengantar atas pameran Rupa Seni Tosan Aji yang diselenggarakan di Galeri Fadjar Sidik Jurusan Seni Murni Institut Seni Indonesia (ISI) Yogyakarta dalam rangka memperingati hari lahir ASRI yang ke-69. Pameran itu sendiri diselenggarakan mulai 15-25 Januari 2019. Pameran juga dilengkapi dengan Sarasehan Estetika Keris dengan narasumber Empu Totok Brojodiningrat (Ketua Padepokan Keris Brojodiningrat Sukoharjo) dan Empu Basuki Teguh Yuwono (Dosen FSRD ISI Surakarta).

Keris dhapur Kebo Kanthong pamor Kulit Semangka tangguh Pajajaran-Foto-A.Sartono
Keris dhapur Kebo Kanthong pamor Kulit Semangka tangguh Pajajaran-Foto-A.Sartono

Dengan pameran semacam ini kita semua seperti diajak mengenali dan mencintai keunggulan-keunggulan leluhur, yang di kini seperti tenggelam oleh hiruk pikuk zaman. Kita juga diajak untuk menyisir dan melacak kembali dengan apa yang disebut sebagai pengetahuan masa lalu yang “sinengker” itu. Mengapa disebut sinengker? Apa maksud dari tindakan menyengker itu. Mengapa pula kemudian terjadi perumusan yang kemudian dianggap baku atau pakem dalam pola garap logam menjadi keris? Pertanyaan-pertanyaan itu menarik untuk dicari tahu jawabannya sehingga kita akan semakin menghargai karya bangsa dan nenek moyang kita sendiri yang pada zamannya dan zaman kemudian membawa kita pada jati diri yang unggul dan punya wibawa di kancah percaturan dunia. (*)

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here