Di Desa Kuroboyo, Caturharjo, Pandak, Bantul, yang letaknya 24 km arah Baratdaya Kota Yogyakarta, Ignatius Wahono dilahirkan. Anak nomor tiga dari tujuh bersaudara tersebut lahir dari pasangan Aloysius Darma Suwita dan Aloysia Tukinah pada 15 Agustus 1939. Sejak kecil Ign. Wahono mempunyai cita-cita menjadi guru. Hal tersebut dibuktikan dengan minatnya menjalani pendidikan di sekolah guru dan lulus SGB pada tahun 1956. Di tahun itu juga ia langsung mendapat tugas mengajar di SDN Jigudan Bantul sampai tahun 1958 dan selanjutnya ia dipindahtugaskan di SDN Padokan Bantul.

Setelah lima tahun mengajar di SDN Padokan, Ign Wahono mempunyai niat untuk hidup membiara dengan menjadi pastur atau bruder. Tetapi kalau mau menjadi pastur dirinya merasa kurang pandai, maka ia memilih menjadi bruder. Tidak ada kata terlambat, walaupun ia sudah tujuh tahun menjalani profesi guru, pada tahun 1963 ia pun masuk sebagai novis atau magang bruder di Muntilan.

Di antara para novisiat yang ada pada waktu itu, Ignatius Wahono adalah satu-satunya novisiat yang sudah menjalani profesi guru. Harapannya agar pengalaman tersebut dapat memberi nilai lebih dalam mengabdi sebagai pendidik dengan menjalani hidup suci di biara.

Ignatius Wahono saat mengajar kursus MC Jawa di Tembi Rumah Budaya. Foto: Herjaka
Ignatius Wahono saat mengajar kursus MC Jawa di Tembi Rumah Budaya. Foto: Herjaka

Namun pada kenyataanya, bekal pengalamannya di luar biara tidak membuat ia semakin fokus hidup di biara. Ignatius Wahono malahan membandingkan dengan pengalamannya di luar biara. Ada bagian yang hilang dalam hidupnya. Jika sebelumnya ia selalu dikerumuni murid-murid sekolah dasar, kini tidak ada lagi. Bahkan mendengar suaranya pun tidak. Ia mulai kesepian dan tidak kerasan.

Dalam keadaan bimbang antara meneruskan hidup membiara atau kembali menjadi guru SD Ignatius Wahono bermimpi. Nampak dalam mimpi tersebut dirinya memakai busana Jawa lengkap, sedang berada di tengah-tengah acara uyon-uyon atau tembang-tembang Jawa dengan iringan gamelan. Walaupun Ignatius Wahono tidak tahu apa maknanya, mimpi tersebut telah membuat dirinya semakin tidak kerasan tinggal di asrama untuk meneruskan panggilan hidup selibat.

Pada masa bimbang tersebut bruder kepala memanggil Ignatius Wahono dan berkata. “Urip suci iku ora kudu dadi bruder ana ing biara, urip ning njaba biara ya bisa dadi suci.” Untuk hidup suci orang tidak harus menjadi bruder di dalam biara. Hidup sebagai orang awam di luar biara juga bisa menjadi suci.

Karuan saja Ignatius Wahono tertegun dan terkejut. Apa yang dikatakan Bruder Magister tersebut merupakan jawaban mimpinya. Kata-kata itu dapat dimaknai ‘pengusiran’ secara halus bahwa dirinya tidak tepat hidup di biara yang hening dan sunyi, tetapi lebih tepat hidup di tengah-tengah masyarakat. Rupanya Bruder Magister telah mengamati dirinya dan mengambil keputusan dengan cepat dan tepat, dan menyarankan Ignatius Wahono mundur dari magang bruder.

Beruntung waktu itu Ign Wahono belum dicoret dari daftar guru di SDN Padokan, sehingga ia bisa kembali mengajar.

Di tempat ini, apa yang digambarkan dalam mimpi menjadi kenyataan. Ign Wahono bergabung menjadi pengrawit dengan grup karawitan yang mengiringi ketoprak. Hal tersebut dilakukan karena dirinya tertarik oleh salah satu pemain putri dari Dusun Kembaran yang bernama Ponijah. Hubungan antara Wahono dan Ponijah semakin intim dan akhirnya keduanya sepakat untuk hidup bersama membangun rumah tangga. Pada tahun 1966 Ignatius Wahono dan Ponijah menikah.

Setelah menikah, pasangan Ignatius Wahono dan Ponijah semakin aktif bermain ketoprak. Selain tetap menjadi guru, Ign Wahono bergabung dengan grup ketoprak tobong Irama Masa Yogyakarta pada 1966 sampai dengan 1968. Kemudian pindah ke group ketoprak tobong Budi Rahayu Yogyakarta sampai dengan 1970. Dari ketoprak Budi Rahayu Ignatius Wahono memutuskan bergabung untuk memperkuat ketoprak Sapta Mandala Kodam VII Diponegoro mulai 1971 sampai 1990.

Walaupun hampir setiap malam bermain ketoprak, ia tetap melakukan tugasnya sebagai guru dengan penuh disiplin dan tanggung jawab. Oleh karena dedikasinya, pada tahun 1981 Ignatius Wahono diangkat menjadi kepala sekolah di SD Bibis Bangunjiwo Kasihan Bantul sampai 1985. Rupanya jabatan kepala sekolah merupakan jabatan tertinggi pada karier di dunia pendidikan. Karena setelah tahun 1985 Ign Wahono tidak lagi menjadi guru SD, ia mengemban tugas baru menjadi penilik kebudayaan Kota Yogyakarta.

Selain menjalani profesi guru dan sekaligus menjadi pemain ketoprak profesional, pada tahun 1974 Ignatius Wahono dipilih dan dipanggil menjadi diakon awam atau prodiakon paroki. Tugasnya membantu pastur Paroki dalam hal pelayanan ibadah, menerimakan komuni suci di gereja, dan mengirim komuni suci kepada orang sakit. Tugas tersebut diembannya sampai tahun 1996.

Pada tahun 1998 Ign Wahono mulai menjalani masa purna tugas sebagai abdi negara penilik kebududayaan Kota Yogyakarta. Namun sebagai warga masyarakat Ign Wahono justru sedang menjalani babak baru. Pengalamannya menjadi guru sangat menunjang ketika Ign Wahono dimohon untuk mengajar seni pertunjukan tradisi di SMKI Yogyakarta (1999 -2002) dan mengajar kursus MC bahasa Jawa di Tembi Rumah budaya sejak tahun 2000 hingga sekarang dan sudah meluluskan 600 siswa.

Demikian juga pengalamannya sebagai pemain ketoprak klas A di Yogyakarta, Ign Wahono disibukan dengan jadual pentas, menjadi langganan juri ketoprak, pengamat serta kritisi ketoprak, bermain sinetron dan bermain film layar lebar. Atas kiprah dan prestasinya dalam menggeluti seni tradisi khususnya ketoprak Ign Wahono mendapat penghargaan dari Gubernur DIY Sultan Hamengkubuwono X pada tahun 2000 dan penghargaan masyarakat Yogyakarta di Jakarta pada 2010.

Ignatius Wahono. Foto : dok Tembi
Ignatius Wahono. Foto : dok Tembi

Ignatius Wahono merasakan karunia luar biasa dalam hidupnya. Baginya tiga tugas yang ia jalani merupakan tugas pelayanan yang saling memperkaya dan melengkapi. Dengan modal guru ia dapat menjadi pemain ketoprak yang disiplin, percaya diri dan tidak demam panggung. Sebagai pemain ketoprak ia mempunyai kelebihan dalam menjalani pelayanannya sebagai prodiakon, saat memimpin ibadat sabda serta membawakan kotbah di depan umat. Demikian sebaliknya, sebagai prodiakon ia mempunyai kelebihan dalam memilih kata-kata bijak, berbobot sesuai dengan ajaran moral Jawa yang luhur sewaktu berperan sebagai parampara pada pentas ketoprak, sehingga mempunyai banyak penggemar. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here