Pameran seni rupa yang melibatkan perupa dari semua golongan umur tampaknya masih jarang dilakukan atau terjadi. Umumnya, entah disengaja atau tidak, pameran berdasarkan kelompok seniman dengan usia yang setara (sepantaran). Mungkin hal itu lebih didasarkan pada semacam kesetaraan usia, pengalaman (jam terbang), gaya, bahan (material), momentum tertentu, misi tertentu, dan lain-lain. Sekalipun demikian, Jogja Gallery pada tanggal 12-21 Januari 2019 menyelenggarakan pameran seni rupa yang melibatkan seniman semua umur dengan gaya dan kreativitasnya masing-masing. Pameran tersebut diberi tema “Keluarga Nusantara”.

Ada 70 buah karya yang dipamerkan dalam acara ini yang meliputi karya-karya dua dimensi dan tiga dimensi. Sekian karya itu merupakan buah karya dari Komunitas Seni Arundaya dan Sedulur Nyeni. Karya sebanyak itu bisa dipilahkan menjadi karya anak-anak ada 14 buah dan sisanya merupakan karya orang dewasa. Karya yang dipajang memang didominasi oleh jenis karya dua dimensi. Sedangkan karya tiga dimensi berjumlah lima buah.

karya-karya Keluarga Nusantara di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono
karya-karya Keluarga Nusantara di Jogja Gallery. Foto: A. Sartono

Tema Keluarga Nusantara mengesankan akan hubungan sesama seniman yang berpameran adalah keluarga. Nusantara mengesankan tentang negara kesatuan yang terdiri dari beragam pulau, suku, ras, bahasa, adat istiadat, budaya, agama, dan seterusnya. Semuanya ada dalam bingkai keluarga. Semuanya sesungguhnya adalah keluarga sekalipun beda latar belakang dan pandangan ideologi serta kepercayaan.

Membaca Novel yang Tak Kunjung Tamat, Mixmedia with acrylic on canvas, 120 x 140 cm, 2018, karya BiyanSubiyanto, Jakarta. Foto: A. Sartono
Membaca Novel yang Tak Kunjung Tamat, Mixmedia with acrylic on canvas, 120 x 140 cm, 2018, karya BiyanSubiyanto, Jakarta. Foto: A. Sartono

Kebudayaan Nusantara yang beraneka ragam menjadi titik utama dalam pameran ini. Oleh karenanya sajian karya yang ditampilkan juga banyak menyuguhkan pernak-pernik kebudayaan Nusantara, entah itu bangunan kuno, suasan kota, pemandangan alam, adat dan tradisi, dan lain sebagainya. Apa yang disajikan dalam pameran dengan tema-tema itu disadari atau tidak akan memberikan dampak positif bagi siapa pun untuk lebih peduli, menyayangi, mencintai keanekaragaman kekayaan Nusantara. Setidaknya pula hal itu akan menyentil kita semua bahwa kita, Nusantara, adalah sesuatu yang sangat penting, sangat bermakna bukan saja untuk kita di saat ini, kini. Namun juga untuk generasi-generasi berikutnya.

Konten Terkait:  Aneka Rupa Setan Dimunculkan di Bentara Budaya Yogyakarta
Meditasi, Batu, 40 x 50 x 145 cm, 2018, karya Artherio, Pacitan. Foto: A. Sartono
Meditasi, Batu, 40 x 50 x 145 cm, 2018, karya Artherio, Pacitan. Foto: A. Sartono

Ada banyak figur tokoh-tokoh penting Indonesia yang juga diangkat dalam pameran ini. Hal ini juga mengingatkan kita akan figur-figur penting, populer, idola, yang mewarnai kekayaan Nusantara. Jika dicermati lagi, karya-karya ini juga tidak saja menampilkan tema-tema kelokalan Nusantara, namun juga hal-hal yang bersifat modern atau bahkan kontemporer. Karya-karya 3 D dan beberapa karya 2 D menyarankan hal itu. Hal itu bisa dilihat dalam karya 3 D berupa karya instalasi sepeda yang diberi judul “Bermain Sepeda” ataupun karya patung yang berjudul “Terserah”. Pada intinya sesungguhnya, kita, Nusantara memang beraneka rupa. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here