Bendera berasal dari bahasa Spanyol: “bandera” yang artinya adalah bendera dan dapat juga diartikan sebagai “prajurit setingkat batalion” dalam pasukan perang Spanyol. Dalam bahasa Jawa mungkin sejajar artinya dengan “klebet” atau “rontek”. Semuanya menunjuk pada semacam selembar kain yang memiliki warna atau gambar tertentu yang menyimbolkan sesuatu, mungkin sama atau analog dengan panji (-panji). Panji inilah yang diambil oleh Gegerboyo untuk diolah dan disajikan sebagai bentuk karya rupa yang kemudian dipamerkan di Redbase, Banguharjo, Sewon, Bantul tanggal 5-10 Januari 2019 dengan tema “Tan Hana Dharma Mangrwa” (tidak ada kebenaran yang mendua).

Gegerboyo adalah proyek kolaboratif yang beranggotakan Dian Suci Rahmawati, Enka Nkmr, Ipeh Nur, Prihatmoko Moki, dan Vendy Methodos. Gegerboyo didirikan di Yogyakarta pada bulan Juni tahun 2016. Gegerboyo banyak terinspirasi oleh kebudayaan Jawa, budaya urban, dan kaitan keduanya serta korelasinya dengan fenomena sosial politik saat ini. Mengawali tahun 2019 ini Gegerboyo mengambil tema panji-dalam arti bendera, dan simbol-simbol yang biasa digunakan di dalam sebuah panji atau bendera sebagai referensi visual kekaryaannya. Selain itu, eksplorasi konseptual berkaitan dengan simbol-simbol tersebut, dan fungsi panji sebagai identifikasi suatu kelompok dan juga dalam kaitan historisnya dengan perang.

Panji Buta Kembar Amangku Jagad. Foto: A. Sartono
Panji Buta Kembar Amangku Jagad. Foto: A. Sartono

Tema Tan Hana Dharma Mangrwa merupakan satu kalimat terpenting dalam Kakawin Sutasoma karya Empu Tantular, abad ke-14. Bagian kalimat ini sesungguhnya menjadi satu dengan kalimat sebelumnya: Bhineka Tunggal Ika. Jadi lengkapnya adalah Bhineka Tunggal Ika Tan Hana Dharma Mangrwa (Beraneka Satu Itu Tidak Ada Kebenaran Yang Mendua). Bhineka Tunggal Ika menunjukkan betapa pentingnya toleransi dan kemajemukan Majapahit pada waktu itu, khususnya kemajemukan dalam hal beragama. Apa yang dikatakan sebagai “beraneka satu itu” menegaskan bahwa di satu Majapahit terdapat beraneka keyakinan, kelompok, dan suku bangsa. “Tiada kebenaran yang mendua” menunjukkan bahwa masyarakat Majapahit yang berbeda-beda dalam keyakinan itu meyakini satu kebenaran, yakni kebenaran yang menitikberatkan pada kebaikan antarmanusia dan sekaligus merupakan refleksi kebaikan antara manusia dengan Tuhannya.

Panji Baita Amot Samudra. Foto: A .Sartono
Panji Baita Amot Samudra. Foto: A .Sartono

Mangrwa atau mendua, rwa atau dua merupakan fenomena yang menarik oleh karena angka dua cukup sering mewarnai perjalanan sejarah Majapahit; misalnya dua wangsa (Wangsa Rajasa dan Sinelir), dua agama utama (Siwa dan Budha), dua warna bendera (merah dan putih), hingga konsep filsosofi dualisme, rwa bhineka-dualitas yang saling melengkapi, seperti: laki-laki-perempuan, siang-malam, baik-buruk, kelahiran-kematian. Dalam kehidupan modern pun fenomena dualitas semacam itu sangat mudah dijumpai, misalnya perdebatan dua kubu politik, singgungan antarsekte agama, dan lain-lain-kesemuanya memiliki panjinya masing-masing, dan mereka disatukan dalam satu kesatuan; dua kelompok politik tersebut sama-sama berjuang untuk satu negara, dua tim sepakbola tersebut beradu dalam satu pertandingan, dan dua sekte tersebut menyalahkan satu sama lain di bawah satu agama.

Panji Sri Gunung Jagabaya. Foto: A. Sartono
Panji Sri Gunung Jagabaya. Foto: A. Sartono

Konsep Bhineka Tunggal Ika itu bisa dilihat juga pada Gegerboyo sebagai satu tubuh projek kolaboratif yang berhasil menyatukan keberanekaan anggotanya yang secara artistik memiliki karakter visualisasi yang berbeda antara yang satu dengan yang lain, namun tetap satu di bawah naungan satu panji: Gegerboyo. (*)

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here