Puisi Yoseph Yapi Taum

0
85

Kabar Dari Kampung

Hutan rindang dengan jalanan penuh ilalang
masih di sini terbalut kenangan demi kenangan
Tebing yang dulu menggemakan teriakan kanak-kanak
masih meriahkan kampung kita dengan nyanyian
nyaring, bersahaja, kadang menitikkan air mata
Gemericik air pancuran membasahi kain gadis-gadis
Menanamkan rindu pertama paling purba

Sudah lama burung pergam tidak kembali
Bougenvile tak memulai pagi dengan kuntum
Entah apa yang dilakukannya di dalam kabut

Lonceng gereja berbunyi sembilan kali
Pentas petani ladang dimulai di tengah terik
Nelayan membuang jala di sela desau angin
Keriangan gaya kampung selalu kita rindukan
Ikan bakar, nyanyian, dan senda gurau

Hari beranjak senja,
Di langit, tujuh kereta kuda menarik matahari
Melewati tujuh penjuru mata angin
Menuruni Gunung Labalekan menyeberangi lautan
Menjawab panggilan pedih serulingmu
Mereka pulang ke kampung membawa panenan

Jalanan di kampung sepi dan diam
Api di dangau sudah padam. Langit gelap gulita
Pintu rumah sudah tertutup rapat.
Di dipan tua, kulihat rambutku banyak beruban.
Aku ingin berkelana sepertimu. Aku merindukan api.

Yogyakarta, 4 Januari 2019

 

Nyanyian Ombak

Ombak bergetar mendekati pantai
bagai sepasang kekasih yang lama tak bersua
Ada rahasia yang ingin dibisikkannya
tentang palung di dasar paling wingit

Di atas pasir ditemukannya sepasang
mata yang hilang ditelan sembilan bulan
Diciuminya seikat mawar yang terbuang
dan dengan lesu ia kembali ke samudra

Ada banyak air mata yang tumpah di darat
hanya untuk cinta yang rapuh
Tak ada yang menanti di ujung malam
untuk mengantar mereka pulang ke samudra

Malam semakin gelap gulita
Rahasia dibenamkannya kembali ke palung
Gemuruh angin dan hempasan ombak
Terasa lebih menusuk perasaan

Villa Puri Pandreman
Batu, 29 Desember 2018

 

Pulang

air mata mawar di altar
sudah menunggumu

di langit bulan tiba-tiba pecah
ia tak bisa mengantarmu pulang

Batu, 29 Desember 2018

 

Waktu Di Titik Nol

di titik nol jarak dan waktu
hanyalah selembar gairah
lonceng dan denyut
sekadar penanda para pejalan
menelusuri sungai berliku-liku
menyelam samudra berpalung-palung
memuncak gunung berpuluh-puluh

ada gubuk memanggil untuk berteduh
kemah-kemah kecil di lembah-lembah
seolah abadi dalam keremangan kabut
dan tidak peduli pada kemarau-kemarau

di langit burung elang terbang tinggi
jauh di atas angan-angan penyair
tatapan matanya tajam setegas karang
yang tahu pasti ke mana ia menuju

beberapa orang melempar jala,
keringat dan air mata untuk bertahan
sebelum akhirnya menjadi sungai

Batu, 31 Desember 2018

Yoseph Yapi Taum yang lahir di Ataili, Lembata, Nusa Tenggara Timur, 16 Desember adalah dosen Fakultas Sastra Universitas Sanata Dharma, Yogyakarta, mengajar puisi dan tradisi lisan. Sejak SD ia suka menulis puisi yang tidak pernah didokumentasikan. Puisi-puisinya pernah dimuat dalam Majalah Basis dan beberapa antologi, seperti Sauk Seloka: Bunga Rampai Puisi Pertemuan Penyair Nusantara VI (Dewan Kesenian Jambi, 2012); Antologi Puisi Sebab Cinta (Elmatera, Yogyakarta,2013), Senja di Kota Kupang: Antologi Puisi Sastrawan NTT (Kupang: Balai Bahasa Propinsi NTT), Ratapan Laut Sawu: Antologi Puisi Penyair NTT (Sanata Dharma University Press, 2013), Nyanyian Gerimis: Antologi Puisi Penyair 14 Kota (Hiski Komisariat Aceh, Bandar Publishing, 2017), Negeri Bahari: 199 Penyair dari Negeri Poci 8 (Tegal, 2018), Epitaf Kota Hujan Padang Panjang dan Puisi-puisi Penyair Asia Tenggara (Padang, 2018). Yoseph Yapi Taum menjadi salah satu peserta Borobudur Writers & Cultural Festival 2014 yang menyajikan puisinya dalam Antologi Sesaji Puisi Ratu Adil. Kumpulan puisinya Ballada Arakian (2015) dan Ballada Orang-orang Arfak (2019) banyak menyuarakan memoria passionis orang-orang terpinggirkan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Please enter your comment!
Please enter your name here